"Bahasa ini bisa tumbuh kalau seandainya dia dicampur dengan bahasa Sunda, Jawa, Madura, ada banyak ekspresi yang akan jauh lebih bermakna, kuat." gitu. Belanda bilang, "Gak, kamu harus pake Melayu Standar." Jadi bedanya kita dengan penjajahan di Inggris. Inggris menggunakan, British itu menggunakan bahasa Sebagai alat untuk menaklukan orang di India, di Afrika, Perancis juga begitu. Belanda, gak. Belanda tuh lebih hebat lagi proyeknya, dia bikin bahasa Melayu. Itu bagian dari politik atis. Jadi kalau misalnya orang bilang hari ini gitu ya, bahwa, "K amu gak nasionalis karena tidak berbahasa Indonesia dengan baik Dan benar." Yang lebih baik dengan benar
itu adalah orang Belanda. Dia yang bikin aturan bahasa, yang kemudian dengan segala macam keteraturannya. Indonesia sebagai satu ide yang dinamis, dia hidup justru dari ledakan -ledakan, campur. Perhati kan, misalnya novel-novel di tahun -tahun 1920-an itu. Belanda masuk, bahasa Inggris, apapun yang mereka anggap penting untuk mereka artikulasikan ke dalam. Tahu dari mana sih datangnya bahasa Indonesia? Apa prosesnya membentuk dia? Itu kan bukan satu proses natural, "Voila!", 1928 mengucap sumpah, kemudian senang rame-rame pake bahasa Indonesia. Bahkan peserta Kongres Pemuda yang Melayarkan Sumpah Pemuda itu, ada yang gak bisa bahasa Indonesia. Mereka hanya berbahasa Belanda dan Jawa. Sobat
Chronicles, selamat datang di episode kali ini. Saya sangat berbahagia, h adir di studio sekarang Bapak Hilmar Farid, selamat datang Pak Hilmar Farid. Terima kasih. Selamat datang di Chronicles. Untuk yang pasti sudah mengenal, tapi yang belum mengenal Pak Hilmar Farid adalah Direktur Jenderal Kebudayaan di Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, d an Teknologi. Dan saya... Sangat senang karena diskusi pada hari ini akan sangat overlap dengan intisari dari program Chronicles itu sendiri, Yaitu untuk mencari semacam ' kejadian' Indonesia, dari mana asalnya, mau kemana perginya. Dan saya rasa kebudayaan yang merupakan your field of expertise adalah hal yang sangat penting
untuk dibahas. Tapi pertama kita ingin mulai dengan saya ingin tahu, Pak Hilmar. Apa yang membuat Pak Hilmar Farid? Pak Hilmar terlatih sebagai seorang sejarawan, s ebagai mahasiswa UI di Departemen Sejarah. Tapi kemudian melakukan gelar S3 di NUS, di Singapura, di bidang cultural studies. Ada dua hal yang saya ingin tahu, yang pertama adalah bagaimana seorang sejarawan itu melihat kebudayaan? Apakah ada pola pikir yang berbeda Dari seorang yang hanya belajar? Mohon maaf kata 'hanya' itu mungkin agak derogatory. M aksudnya, hanya seorang yang belajar kebudayaan. Dan yang kedua, apa itu lingkup kebudayaan itu sendiri? Apa kebudayaan dan kenapa
kita harus berhati-hati? Untuk mulai ya, Jadi saya kira kita punya pengertian kebudayaan yang sering dipertukarkan dengan peradaban. Gitu ya, jadi pertama itu dulu nih, kalau kebudayaan sebenarnya pengertiannya sangat luas, gitu. "Keseluruhan cara hidup," kalau mau pakai Koentjoroningrat misalnya. Jadi segala sesuatu ya sebetulnya bentuk kebudayaan kita. Selama dia berulang, Membentuk pola, kemudian transmisikan dari generasi ke generasi, gitu ya. Dan itu luas sekali, gitu. Nah, hanya kalau misalnya udah berbicara dengan peradaban, kita biasanya fokus kepada hal-hal yang kelihatan meningkat. Gitu, itu misalnya sistem sosial, politik, ekonominya, tingkat pengetahuan teknologi dan seterusnya, Sehingga dia bisa dibilang tinggi rendah.
Kebudayaan gak kenal tinggi rendah. Kebudayaan apa adanya, apa pun yang terkait dengan cara kita hidup, yang terus berulang membentuk pola, kita sebut kebudayaan. Nah, menarik, ya bagaimana seorang sejarawan melihat ini. Biasanya kalau misalnya kajian, antropologi, sosiologi budaya, ilmu sosial pada umumnya, mereka akan fokus pada bidang tertentu. Oke, masyarakat ini mata pecaharyan ini gimana, gitu ya. Apa tuh, teknologi terkait pengetahuan dan seterusnya. Sejarawan biasanya akan melacak Mundur nih. Dan gimana sih datangnya pengetahuan itu ya. Dari mana sih kenapa mata pencaharyan itu muncul di tempat itu dan tidak di tempat lain. Dan pada waktu ini dan tidak
pada waktu lain. Seterusnya, gitu. Jadi kita sangat precise, gitu ya. Berusaha memahami sebuah kebudayaan dalam rentang waktu dan Geografis tertentu. Gitu. Ya, kadang-kadang untuk ilmu sosial, Dan nggak akan mungkin bikin apa namanya pengamatan lintas waktu, lintas geografis untuk sampai pada kesimpulan, kesimpulan. Fokus dia lebih teoretik, dia ingin mendapat kesimpulan dari berbagai macam pengalaman manusia itu kemudian membentuk konsep- Konsep dan seterusnya. Dan waktu kuliah, ya kita sering tuh, ya dengan temen-temen dari ilmu sosial, dengan Phil Saphat gitu ya, untuk tukar pikiran sering debatnya gitu ya, Bagusnya itu kemudian menjadi diskusi yang produktif ya, saya misalnya skripsi
tentang bahasa, It's very unusual gitu ya, Nggak ada yang misalnya masih sejarah belajar linguistik gitu ya, Cuman buat saya itu bidang yang menarik. Untuk tahu dari mana sih datangnya bahasa Indonesia nih gitu ya, apa prosesnya membentuk dia gitu. Itu kan bukan satu proses natural, "Voila!", 1928 mengucap sumpah, kemudian rame-rame pakai bahasa Indonesia, Bahkan peserta Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda itu ada yang nggak bisa bahasa Indonesia, mereka hanya berbahasa Belanda dan Jawa. Oke. Gitu ya. Jadi ini kan terkait dengan satu komitmen politik, nah kita saya dalam skripsi waktu itu tuh belajar mengenai itu. Apa sih
komitmen politik di mana Secara membangunnya gitu. Apa ingredientsnya, apa keberpihakan sosialnya, politiknya dan seterusnya gitu. Dan menemukan bahwa ternyata apa yang nampak di permukaan sebutlah bahasa Indonesia, sebutlah apa kebudayaan itu punya sejarah gitu yang sangat-sangat kompleks gitu. Dan tuh hal penting ya yang saya pelajari, Karena waktu itu kuliah di jurusan sejarah, perspektif historis ya terhadap segala sesuatu gitu. Memang sih kadang-kadang kita sering dibilang terlalu empiris ya, karena. Sebagai sejarawan. Sebagai ya sebagai sejarawan di antara ilmu-ilmu kan. Oke. Kita nggak melahirkan teori Misalnya gitu ya, kita nggak melahirkan apa namanya, statement-statement besar gitu ya, spesifik belajar
tentang periode tertentu biasanya atau kawasan tertentu gitu ya. Tapi belakangan setelah di dalam proses waktu PhD gitu ya ketemu dengan cultural studies, kombinasi itu menjadi sangat menarik gitu, karena kultural studies ini selalu Berambisi untuk membuat kayak rumusan teoretical gitu ya. Apa nih terobosannya ya, kalau nggak ada sesuatu yang baru dia kayak, ya ngapain nulis kayak begitu ya kalau cuma hasilnya menambah dokumentasi terhadap apa yang sudah ditulis orang lain gitu, jadi ada ambisi teoretical di satu sisi dan tarikan kesininya adalah selalu berusaha menyejarah gitu. To make it historical. Dan itu kombinasi yang paling gaya dalam lingkungan
akademik waktu itu menarik ya. Karena biasanya orang cultural studies gak terlalu interest gitu. Apalagi kalau udah mundur sejarahnya cukup lama gitu ya. Sementara buat saya itu justru itu kalau memahami Indonesia kita gak akan bisa tuh. Kalau gak mundur 3.000 sampai 5 .000 tahun yang lalu. Oke. Jadi sejarah itu adalah apapun yang membuat pola terakumulasi diteruskan turun-tumurun termasuk di dalamnya bahasa. Oh iya. Itu yang bahasa dalamnya penting. Seorang sejarah wan ingin tahu mengapa sesuatu itu demikian sekarang. Menjelaskan dari mana muasa dari elemen-elemen kultur. Dan seorang kultural student memberikan teori. Memberikan teori mencoba menjelaskan fenomena. Di sini
ada buku Pak Hilmar. Saya baca, belum habis, lebih baiknya perang suara, bahasa, dan politik pergerakan. Tadi juga sedikit dibahas tentang tesis dari Pak Hilmar Farid tentang itu. Kalau saya boleh baca kan sedikit Dari sinopsisnya adalah bahwa bahasa bukan sekedar alat penyampaikan gagasan yang status. Lebih dari itu bahasa adalah medan perang bagi gagasan-gagasan. Nah saya mau, saya mau, ada banyak sekali pertanyaan di sini. Tapi yang pertama, dari mana bahasa itu, bahasa Indonesia itu berasal dari awal? Tadi Pak Hilmar bilang tentang Bahwa pada tahun 1928, bahkan yang merumuskan bersama -sama Sumpah Pemuda itu pun belum semuanya berbahasakan
Indonesia. Dari mana bahasa Indonesia itu bisa berasal punya kekuatan politik dan di setuju oleh kemajemukaan yang sangat besar ini? Ya, ini ada hubungannya dengan sejarah sastra kita, karena sastra menggunakan bahasa Sebagai alat paling central di dalam ekspresinya itu. Dan kalau kita perhatikan sejarah sastra kita, M elayu klasik dalam bentuk hikayat dan seterusnya sudah ada sejak 15- 16. Terus berkembang sampai 19, di akhir abad 19, paru kedua abad 19 muncul sastra yang berbahasa Melayu dengan format modern, novel. Dan itu sangat signifikan bentuk novel ini. Kenapa? Karena dalam novel ini dia akan membuat cerita drama, mulai dari
awal kemudian sampai kepada akhir menghadirkan dunia secara lengkap. Ya, misalnya crime scene, ada peristiwa kriminal, cerita atau mulai asal usulnya, sampai kemudian closure. Gimana kasus ini diungkap dan seterusnya, sehingga mendapat penghentiannya. Nggak ada dalam hikayat, hikayat selalu kesana kesini. Gini gitu ya, dia gak bercerita secara urut gitu ya, di dalam satu dramaturgi gitu, tetapi dia memberi banyak kesan dan kemudian orang itu sebabnya kayak misalnya karya-karya sasra klasik kita itu gak dibaca seperti Orang membaca buku dari ujung ke ujung gitu, kadang-kadang mereka nyanyikan, kadang-kadang mereka tarikan, kadang-kadang mereka ekspresikan menggunakan si bahan ini sebagai, udah untuk
berbagai macam ekspresi lain. Novel betul-betul kita, individual reader berhadapan dengan naskah awal sampai akhir, itu konteksnya. Nah melalui novel ini semua ide Kebaruan itu bisa diakomodasi, hikayat tidak mampu. Hikayat tidak mampu, lihat misalnya sekarang ini ada kereta api, ada pabrik berdiri gitu ya dan kemudian ada perang, dunia yang sekidah semudian terkait gitu, harga jadi naik karena barang jadi susah. Ini gak bisa nih, Kayak gak bisa handle itu, ya. Bukan berarti jelek gitu ya, tetapi dia gak di desain untuk gitu. Novel itulah mediumnya. Mungkin tidak dinaraskan seperti novel. Tidak dinaraskan seperti novel. Nah, novel lebih dekat
dengan surat kabar nih. Dan kalau kita baca karya sastra Akhir abad 19, itu seperti perpanjangan dari surat kabar. Jadi artikel surat kabar memberitakan sesuatu nanti mereka bikin novelnya. Jadi kayak semacam dramatisasi dari pembunuhan seorang tuan kebun oleh nyayinya. Masuk di dalam koran sebagai berita gitu. Novelnya nanti bikin extended Version. Tentu dengan tambahan rumor dan segala macem menjadi satu cerita yang utuh. Nah, ini yang kemudian bahasa yang berkembang dengan sangat pesat dalam beberapa dekade sampai 1920an di Sumpah Pemuda itu. Bahasa Melayu yang digunakan di dalam novel. Belanda sadar, ini bahaya nih. Dia tahu persis gitu ya,
bahwa cerita-cerita seperti ini kalau digeser sedikit masuk katakan leunsur nasionalisme dan segala macem mereka sering. Sehingga mereka pada tahun 1908 membentuk satu komisi bacaan rakyat yang pada tahun 1917 menjadi Balai Pustaka yang kita kenal sekarang nih. Tugasnya apa? Imbangin semua tuh, Narasi-narasi yang disampaikan dalam bahasa Melayu. Mereka bilangnya bahasa Melayu R endah. Dan ini politik bahasa luar biasa. Makanya saya kayak fascinated oleh periode itu tuh ini luar biasa ya. Mereka gunakan grammar, sintaksis, fonetik. Jadi Nur Sutan Iskandar salah satu editor Balai Pustaka tuh sempet mengeluh gitu ya. Karena di bilang, "Ba hasa ini nih bisa
tumbuh kalau seandainya jadi campur dengan bahasa Sunda, Jawa, Madura ada banyak ekspresi yang akan jadi jauh lebih bermakna, kuat gitu," Belanda bilang,"Gak, kamu harus pake Melayu Standar." Jadi bedanya kita dengan penjajahan di Inggris. Inggris menggunakan, British itu menggunakan bahasa Sebagai alat untuk menaklukan orang di India, di Afrika, Perancis juga begitu, Belanda, gak. Belanda tuh lebih hebat lagi projeknya, dia bikin bahasa Melayu. Itu bagian dari politik atis. Jadi 1901, orang namanya van Ophuijsen bikin reset di Riau, di arah itu. Dan kemudian menetapkan inilah Bahasa Melayu yang harusnya digunakan. Namanya bahasa Melayu tinggi. Dan itu resmi, itu
official gitu. Nah setelah itu mau bikin publikasi dan segala macem ini, acuan ini. Oke, sebentar, saya tuh selalu di bayangan saya. Mungkin ini penerangan baru nih, bayangan saya ya, menjelaskan kenapa. Orang Indonesia gak berbahasakan Belanda, tapi orang jajahan Commonwealth gitu, berbahasakan Inggris, itu karena Indonesia itu lebih dijajah oleh perusahaan. Dan dari segi untung rugi, mana yang lebih menguntungkan, atau mana yang lebih makan banyak biaya, ngajarin seluruh orang Indonesia bahasa Belanda, Atau ngajarin sedikit orang perusahaan bahasa Indonesia. Tentu yang kedua, maka itu alasan, tapi ternyata ada alasan yang lebih, mungkin sinister gitu ya. Jadi bahwa itu
adalah semacam utility tool untuk menaklukan. Dan itu memang dilihat dan makanya saya bilang perang suara gitu, yang gak kelihatan gitu ya. Belanda ini mendesain ini dengan sangat serius gitu. Dia kasih tau itu, itu gak boleh, itu gak boleh. Dan kalau kita perhatikan babat dan segala macam itu mereka tulis ulang kan. Meinsma itu menulis ulang Babad Tanah Jawi, oleh dia dibuat menjadi 'koheren'. Koheren artinya apa? Artinya banyak hal di dalam Babad Tanah Jawi yang asli, yang sebetulnya merupakan Kompilasi dari sikian banyak nasga gitu. Sehingga mudah dibaca, mudah diikuti oleh logika Eropa. Dengan hal-hal yang dianggap, boleh
dibaca oleh orang, primumi. Jadi mereka tuh bener-bener kayak punya satu pabrik gitu ya, pabrik pengetahuan gitu yang betul- betul. Dan itu orang-orangnya well trained, Mereka belajar bahasa lokal gitu. Kalau kita perhatikan, hampir semua pejabat kolonial tuh ahli dalam salah satu bahasa. Yang nembahkan mereka, ya mereka lah yang kemudian bikin kamus, yaitu awal ya, kamus dari itu. Dan ini ada kaitan yang dengan isu translatability ya. Jadi dia mampu tuh kemudian menerjemahkan alam pikir yang Tersebar di mana-mana. Masur di dalam sistem kolonial ini. Bukum ada, sama aja. Itu van Vollenhoven yang kemudian mengkonsumsi. instruksi, dia bikin oh
ini ada satuan-satuan hukum adat menurut pengertian dia. Dan batas-batasnya dia buat oh ya kalau disana ada batak ada madura ada sesuatu dan seterusnya, inilah komposisi. Nah, gugus pengetahuan ini diualisi sampai sekarang. Jadi kita belum sepenuhnya melepaskan diri ini. Makanya saya punya sentimen sedikit yang mungkin Noam Chomsky seorang lingguis pernah juga berkata walaupun gak dalam konteks urinal publikasi bahwa bahasa itu banyak disalahartikan sebagai semata-mata medium untuk berkomunikasi. Jadi kenapa harus berbahasakan asing atau orang Belanda mau berbahasakan Indonesia karena untuk komunikasi bukan. Sebenarnya bahasa itu adalah medan artikulasi pikiran, alam pikiran, orang kuasai bahasanya, kuasai alam pikiran.
Nah, jadi proyek kolonial ini Bali Bustaka, Terus, dan ini untuk menjelaskan dari mana datangnya Bahasa Indonesia, gitu. Pada saat bersamaan tuh ada... ...kelanjutan dari proyek Sastra Ini, nih. Ya. Yang tadinya fokus pada hal-hal yang Sivotnya sensasional. Tiba-tiba, di pergantian abad kira-kira... ...1990 sampai 1910 ada orang seperti Tirto Adhi Suryo. Terus Mas Marco mulai menulis 1914 dan seterusnya dan mereka menjadikan... ...ini sebagai novel untuk Mengartikulasikan pemikiran- pemikiran Sivotnya lebih politis. Ya. Soal persatuan dan seterusnya. Jadi kalau saya ditanya dari mana datangnya Bahasa Indonesia, dari ini nih. Stream yang ini, gitu ya. Dia mengartikulasikan ide-ide kemerdekaan, keadilan
dan seterusnya tuh melalui novel utamanya. Tapi mulai 1910 sampai 1920an, apa namanya, Sumpah Pemuda itu surat kabar tuh tumbuh dengan sangat cepat. Ya. Itu bener-bener kayak, apa namanya, cendawan di Musimujan. Itu bener-bener kayak jamur. Itu kayak kota-kota kecil, itu punya korannya sendiri. Kadang 2, 3 judul, gitu, Di satu kota yang sekarang gak ada koran. Ya. Gitu ya. Itu, persebar luasannya tuh cepat sekali dan mementuk, itu tadi ya, satu medan, kesadaran baru, gitu. Yang dipotrek Ben Anderson di Imagine Communities. Ngeprint capitalism dan kemudian, apa namanya, dampaknya terhadap kemampuan untuk Membayangkan satu sama lain. Sebagi-bagian dari sesuatu
yang lebih besar namanya Nation, gitu. Ya. Dan itu, satu proses yang luar biasa, gitu ya. Nah, sementara yang contending nih, si Belanda dengan segala usahanya untuk merapikan ini, betul-betul akhirnya menjadi Battle Political. 1924, 2526, selamat 3 tahun berturut-turut, itu berribut soal percetakan. Karena pada akhirnya kan si Koran berdua percetakan kan. Belanda tahu, udah gak usah larang korannya, gak usah tangkap orangnya, toh kalau mereka ditangkap malah jadi lebih ramai gitu ya. Stop aja kertasnya. Stop aja percetakan, boykot gak mau mencetak koran- koran itu. Dan itu benar-benar kayak satu proses ya. Nah sayangnya dalam cerita tentang sumpah
pembuda, ini hilang nih. Dan itu konsern saya waktu awal nuris itu, ini kan apa sih tiba-tiba kalau orang ngomongin sumpah pembuda soal olah. Iya, nasionalisme. Iya, gitu ya, jadi. Ya memang betul sih salah satunya tapi kayaknya. Memang saya sih, ini mungkin yang tadi, memang buku ini saya lihat banyak mengambil inspirasi atau mungkin overlaping dengan Ben Anderson tadi. Bahwa bahasa itu juga terlihat seperti di Indonesia, Banyak yang menjamurnya, medium cetak. Itu juga. Parallel dengan apa yang membuat Eropa pada waktu itu Nasionalisme nya tumbuh, karena ada percetakan yang menjamur juga di situ. Keliatannya dari Pak Hilmar, gagasan-gagasan
Pak Hilmar tadi, di masa itu keliatannya orang mengerti baik pihak Belanda maupun Pihak Indonesia tentang efikasi dari bahasa utility bahasa yang bukan hanya semacam medium komunikasi. Tapi saya melihat, korang saya salah, di level populer di jaman sekarang kita banyak mendengar bahwa bahasa itu hanya semacam cara sesuai dengan sempat pemudah untuk mengejawantakan nasionalisme. Justru mencegah orang Indonesia Untuk rasih berbahasakan asing atau memamerkan atau mendemonstrasikan kepiawannya berbahasa asing di dalam konteks Indonesia. Banyak orang nyinyir gitu. Gimana menurut Pak Hilmar, apakah seorang yang bernasionalismekan Indonesia itu harus memandang bahasa Indonesia dalam kapasitasnya dengan bahasa asing itu seperti apa?
Ya seringnya kita dengar ya, jadi orang kayak misalnya mempersoalkan talian pembicaraan sehari-hari tiba-tiba terselit bahasa asing dan setiapnya gitu ya. Saya kira yang penting dipahami dalam hubungan bahasa dengan Nasionalisme. Dan ini ada seorang ilmuwan LIPI Prof. Mochtar Pabottingi, almarhum ya. Beliau pernah nulis itu. Bagaimana bahasa menentukan bangsa? Saya bikin tulisan complete di opposite gitu ya. Memang maksudnya mau mengkritik dia. Masih zaman kuliah dulu ya, masih melagu gitu ya. Jadi segala macam kita coba itu untuk challenge gitu. Saya bilang bagaimana bangsa Menentukan bahasa. Karena bahasa di sini adalah political choice. Ya satu pilihan yang dibuat nih
oleh orang yang... berkumpul menjadi bangsa dan secara sadar, mereka milih ini bukan itu, gitu dan tahu kenapa mereka harus milih itu karena dalam bahasa Indonesia itu bisa merartikulasikan semua ide-ide Yang membentuk apa yang mereka sebut Indonesia itu bangsa menentukan bahasa, bukan sebaliknya, bukan secara otomatis karena kita sama-sama berbahasa Indonesia maka membentuk satu bangsa, gitu, karena kalau misalnya itu kasusnya, ya karena pangga adopsi aja bahasa Melayu-nya Belanda waktu itu, dan ini perdebatan yang muncul Lagi nanti tahun 1940an orang kayak Chrairil Anwar bilang, oh nanti dulu nih, ini pujangga baru nih yang membuat kita ini bergerak sangat
lambat untuk maju, gitu ya, karena mereka menjelaskan kehidupan dengan cara yang begitu panjang dan seterusnya dan abiasin kemudian bilang gitu, ya Chairil ini orang yang mampu merumuskan banyak pikiran rumit Dalam 2 kalimat yang oleh pojanga baru perlu 200 salaman gitu ya. Jadi untuk memandingkan caranya khairil berbahasa nih sebetulnya kelanjutan nih dari bahasa Indonesia yang energetik ya di bahasa awal gitu. Dan itu terus kita alami sebetulnya sekarang gitu ya. Jadi kalau misalnya orang bilang hari ini gitu ya, bahwa oh kamu nggak nasionalis Karena berbahasa Indonesia dengan baik dan benar ya. Berbaik dengan benar itu adalah orang
Belanda. Oke. Iya ya, mikirkan aturan bahasa. Kemudian dengan segala macam keteraturannya. Indonesia sebagai satu ide yang dinamis, dia hidup justru dari ledakan- ledakan campur. Beratikan, misalnya novel-novel di tahun- tahun 20-an itu Belanda masuk, bahasa Inggris apapun yang mereka anggap. Penting gitu ya untuk mereka artikulasikan ke dalam gitu. Dan mereka jadikan tepidan, liatanya Pidato Soekarno. Kita bilang dia nganasionalis gitu ya. Dia seperti seluruh kehidupannya Gitu. Dia abdikan untuk coba ngebangun si bangsa ini gitu kan. Iya. Jadi isu itu menurut saya masih terlalu periferal gitu. Kalau cuman soal satu-dua kata dari bahasa Asing Nyalib di dalam cara
kita berbicara gitu ya. Iya, biar ya. Karena kita bisa mengatakan hal yang sama dengan bahasa daerah Gitu ya. Banyak orang bahasa Indonesia kadang-kadang harus keluar dari bahasa Indonesia, pinjem dari bahasa ibunya gitu. Untuk bisa mengartikulasikan diri dengan baik. Yang lebih penting apa nih? Rapi berbahasa biar keliatan nasionalis atau ide-nya sebetulnya. Sampai. Iya. Iya betul. Ada dua hal. Yang pertama adalah kalau memang seperti di buku ini di dijelaskan bahwa bahasa itu adalah juga medan peperangan gitu ya. Medan peperangan ide. Kalau demikian pertanyaan pertama adalah apakah orang Indonesia secara merata bukan hanya yang di kota-kota besar. Itu
sudah bisa mendapatkan akses kepada bahasa itu. Bisa menggunakan. gunakannya sentimen saya bilang belum, gitu ya. Dan yang kedua, posisi sebagai regulasi, karena ini kan pilihan sadar. Kita berbahasakan ini kan pilihan sadar, gitu. Lalu terhadap bahasa-bahasa yang di Indonesia banyak ini, Itu harusnya sikapnya seperti apa, terbuka untuk memasukkan setiap elemen bahasa baru dari bahasa- bahasa daerah yang ada, karena saya kemarin pergi ke Kota Mataram di Lombok. Bahkan ngomongnya bukan dengan orang bahasa, ngomongnya dengan seorang dosen di fakultas hukum, dia bilang, kalau mau tulis bahasa hukum di sini dengan bahasa Indonesia yang Baku, nggak nyampe kalau orang,
gimana caranya meregulasi sampah segala macem. Harus pakai bahasa adat, baru dia ngerti artinya seperti apa. Nah itu jadi dua hal yang menurut saya kalau saya boleh ulangi lagi, yang pertama, akses yang belum merata ini. Untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai tool untuk berargumentasi Dan peranggagasan itu gimana cara mengatasinya. Yang kedua, gimana harusnya sikap kita sebagai orang yang duduk di daerah central Indonesia, central, itu bukan geografi gitu ya. Untuk menyikapi bahasa-bahasa yang dinamis. Si Romer katakan dinamis. Oh iya, kedua nya terkait ya. Jadi sekarang nih di pemerintah Kita punya namanya badan bahasa ya, badan pembinaan pengembangan bahasa.
Sebetul ini kelanjutan nih dari bahasa institusi yang mengontrol cara kita berbahasa di masa lalu ya. Sekarang jauh lebih dinamis, jauh lebih terbuka gitu. Dan saya kira untuk membuat ya membuka akses orang agar bisa menggunakan bahasa bahasanya Sendiri yang perlu menjadi lebih demokratik di dalam penggunaan sehari-hari gitu ya. Jadi misalnya gramatik dan itu terjadi pada bahasa daerah opa. Belanda nih terus aja melakukan pembaruan ya, membuatnya menjadi lebih mudah dibandingkan kata-kata 50 apalagi 100 tahun yang lalu. Kita nih menuju ke sana gitu ya. Cuma saya kira PR nya masih banyak Sekali gitu ya. Untuk bisa beri ruang
misalnya pada ekspresi-ekspresi lokal karena secara gramatik sintaksis misalnya. Indonesia Timur agak beda tuh ya dengan orang berbahasa Melayu di Sumatera gitu ya. Jadi hal-hal kayak begini mesti kita mulai pikirkan. Tapi kalau buat saya membuat regulasi, Membuat tata bahasa baru dan segala macem itu satu hal ya. Tapi mulai memberikan keluasaan di media dalam pembicaraan seperti ini misalnya. Itu mungkin jauh lebih mendesak gitu ya. Jadi kalau gue lesaran. Terutama teman-teman yang kerja di media, kalau buat saya buka itu kemungkinan. Kemarin kalau gak salah, Ada artikel bagus dari Amun Dutin Seregar gitu. Tentang kebudayaan di kompas gitu. Dia
memberi, kompas memberi ruang tuh untuk dia mengekspresikan dengan bahasanya lebih kolokial. Gak berarti itu pasti nyampe ke orang yang tadi kita bicara kan gitu ya. Tapi yang seperti ini nih sangat penting gitu ya. Dan kalau sekarang ini bahasa lokal yang jumlahnya banyak sekali, tantangannya mungkin lebih banyak apa kontribusi dia terhadap bahasa Indonesia yang terus berkembang ini. Ketimbang misalnya kita muri preservasi gitu ya, melestarikan dan seterusnya gitu ya. Tapi memikirkan apa hubungan dia Ya, kontribusi dia terutama terhadap bahasa Indonesia. Dan kalau kita lihat, Di Dewan Istilah gitu ya, jadi mereka-mereka yang menciptakan entri kamus, lemah di
kamus dan seterusnya itu. Terus aja nyari ini sebetulnya, gitu ya, ekspresi-ekspresi lokal yang jauh lebih mengenal gitu ya, pada... Ya. Kejala yang coba direpresentasi kan oleh si kata tersebut, gitu. Ya. Dan itu, ya kerja keras, tapi saya kira tadi ya, membuat semua ini di satu... Ya. Satu hal, tapi mempopulerkan di media tuh... Mungkinnya lebih urgent. Cara pandang, Karena ini ada tantangan, sekarang dunia sangat terkonekted, ini tantangan praktisnya. Mungkin di jaman pada waktu bahasa Indonesia pertama kali di inaugurasikan sebagai bahasa nasional, dunia belum terkonekted itu. Sekarang tantangan kita banyak diopolitik, sedangkan kalau kita imajinasikan Indonesia sebagai
tubuh yang utuh, Keliatannya bahkan otak, mungkin otak itu mungkin ada di Jakarta, semata-mata hanya karena dia usat pemerintahan. Itu belum bisa secara efektif ngomong dengan jadi klingking. Tapi kemudian si tubuh ini punya tantangan eksternal, gitu. Itu pertanyaan pertama, jadi pandangan Pak Hirmar tentang urgenci dari, Oh kita harus sebenarnya harus secara motorik itu kita mungkin namanya sebatas anak bayi gitu loh. Masih baru bisa jalan kayak begitu kan. Sedangkan tantangan ke depan itu sangat eksternal. Nah yang kedua, bahasa Indonesia sendiri. Misalnya Indonesia semua dari ujung Sabang sampai Merakui bisa berbahasa Indonesia secara fasih, Akses kepada bahasa itu
sudah sangat merata. Bahasa Indonesia sendiri dibandingkan dengan bahasa asin, gitu ya. Pak Hirmar lahir di Jerman. Pak Hirmar, Pak Hirmar, fasih berbahasa Jerman. Btw, menurut saya itu sangat teruk. Oh ini begini. Orang Jerman, Bahasanya mungkin korek Mifam Rong ya. Itu sangat-sangat. mengikat. Sangat-sangat, saya kasih contoh mungkin seperti ini. Verb atau kata kerja keduanya itu selalu ditaruh di belakang, gitu kan. Jadi misalnya saya mau bilang, saya mau makan di restoran yang Enak nanti sore, jam 7 kalau tidak hujan, segala macem. Jadi saya sambil ngomong, sambil mikir. Agak sulit memakukan itu dalam bahasa Jerman. Karena kata kerja
keduanya ada di belakang. Jadi sebelum dia ngomong, dia harus tahu persis apa yang dia ngomongin. Betul kan seperti itu kan. Itu membentuk makanya saya, oh pantasan, saya ngomong ke istri saya pantasan, kamu nggak terlalu lucu gitu kan. Karena nggak bisa bikin becandaan, sambil mikir gitu. Orang Indonesia bisa seperti itu bahasa Inggris pun juga bisa begitu kan. Begitu bakunya bahasa Jerman Diformulasikan, makanya sangat efektif dalam membentuk hal-hal seperti undang- undang atau hal-hal yang tidak ambigu dalam segi waktu karena artikelnya sangat mengikat dari segi waktu, bahasa Indonesia enggak. Nah pertanyaan saya, di Dunia Interconnected ini bahasa yang
seperti Indonesia, Pak Hilmar melihatnya bisa nggak Bersaing kalau memang bahasa itu ditempatkan sebagai medan pertempuran? Bersaing dengan bahasa-bahasa yang sangat-sangat grammatik keliwari konstraini. Pidget dan segala, ya punya. Yang Jerman salah satunya. Buat saya, ini bicara lagu besar ya. Buat saya kalau kita perhatikan bahasa Jerman akarnya ke bahasa Latina betul tadi ya dengan injeksi yang sangat kompleks gitu ya, 6 persona itu punya verbannya masing- masing dan gitu. Dan tau kan. Dia adalah bahasa yang tumbuh bersama peradaban modern kita. Bahasa Inggris juga sama, itu nasibnya ya kalau kita balik lagi ke otermanik dan sejarahnya kayak begitu dia
juga jatuh bangun Untuk bisa sampai ke satunya sekarang. Nah sementara dan itu maksudnya kenyataan yang kemudian dihasilkan oleh Sibahasa bahasa kan juga ikut membentuk realitas. Jadi yang dihasilkan adalah peradaban modern yang kita lihat sekarang. Nah kalau misalnya sekarang ditanya apakah Indonesia bisa bersaing, Kalau misalnya rana persaingan adalah peradaban modern dengan science dan segala macam itu kita diekor. Walaupun pernah ada proyek ambisi dari susan takdir Alashabana, dia bilang terjemahkan sebanyak mungkin lihat Jepang. Mereka bisa mengejar ke tertinggalan dan bahkan kemudian menyusul gitu ya Mereka melakukan transfer pengentahuan secara masif Gitu ya selama berbeda kadu gitu. Ya
kita gak pernah terlalu serius menanggapi seruannya seutah naktir ini gitu ya. Unforsondly gitu ya. Tetapi saya juga pikir kalau misalnya sekarang kita lihat, Peradaban modern kan memperlihatkan batas-batasnya nih. Gitu ya. Spanjang Abad 20. Perang Dunia, Pertama Perang Dunia kedua. Seperti produk modernitas, fasisme, sistem politik yang gagal untuk membangun dengan segala mimpi modernnya itu. Kerusakan lingkungan hari ini. Semua adalah hakibat Peradaban modern yang mengambil jarak dari alam. Urusah menguasai dan seterusnya. Jadi ada banyak sekali Keterbatasan yang diperlihatkan oleh Peradaban modern. Dengan si bahasanya itu. Gitu ya. Sekarang gitu, kalau kita lihat dan ini ada hubungannya dengan
pertanyaan pertama tadi gitu. Gimana kita melihat Indonesia, yang tubuhnya tuh boleh dibilang ya bayi baru bergerak. Ya karena selama ini juga cara Pikir yang menurut saya gitu ya. Sangat terbatas itulah yang digunakan untuk memotret Indonesia yang kompleks. Ya. Nah pernah bisa dia betul-betul memahami gitu ya secara utuh ke Indonesia. Ini ketika dia bersandar pada pengertian-pengertian konsep teori dan seterusnya gitu. Itu yang lahir dari rahimnya Peradaban modern di Baratsana gitu. Dan ya saya gak bilang bahwa ini Baratimur seperti debat-debat di apakir 20 gitu ya. Tapi gimana caranya mempertemukan ini gitu. Hal pertama menurut saya gitu ya.
Pahami dulu deh ya Indonesia ini dengan segala kompleksitasnya. Paling basic. Indonesia kenapa Jakarta menjadi Pusat, Jawa menjadi pusat. Ya karena cara berpikirnya continental. Ya. Ya. Dia merusaha memahami selalu menjadi kantu liat China, peradaban besar, liat India, Eropa dan segala macam. Semuanya kontinan. Kenyataan kita, kita satu negara archipelagic. Ya. Jangan diterjemahkan jadi kepulauan ya karena archi dan pelagos, lautnya yang utama gitu. Dan kalau kita perhatikan batas sering keliru ya. Kita lihat Indonesia potretnya pulau-pulau. Engga. Mestinya kalau misalnya bilang Indonesia potretnya lautnya. Betul. Di dalamnya ada pulau-pulau. Ini yang sangat indah menggambarkan, merumuskan ini Profesor Lapian Sejarah
Wanmaritim. Dia bilang Indonesia itu adalah sebuah negeri yang wilayahnya lautan ditaburi pulau-pulau. Iya. Jadi lautan itu bukan pemisah. Bukan pemisah. Itu dia bagian dari itu. Nah, seberapa jauh kita paham mengenai laut kita. Potensinya apa yang dia mampu kontribusikan bagaimana cara mengelolaknya. Ya. Bagaimana seharusnya kita mengoptimalkan lautan. Terusnya itu, kalau lihat pembangunan selama 79 tahun Indonesia meredeka, belum. Belum. Ya. Bahwa balik-balik ada seruan, gustur bilang kita negara maritime, Pak Jokowi bilang bahwa kita terlalu lama memunggungi laut, dan seterusnya gitu. Itu retolik level gitu. Ah oke, kita udah punya tuh. Ya. Kayak sens bahwa ini harus. Iya.
Kita berpikir maritime. Iya. Tapi ternyata, kalau misalnya kita lihat di dalam praktek, strategi pembangunan, lihat dokumen Bapernas, dan seterusnya itu, belum nampak betul gitu. Dan memang, salah satu problemnya adalah pengenalan terhadap si, Indonesia yang sangat kompleks. Ini yang sangat terbatas. Mesti kita akui itu. Ya. Ah kita, ah praktis, tahu sangat sedikit mengenai Sulawesi bagian timur. Jangan-jangan nyebut kota di angar dari sana aja kita masih kaya, apa ya kira-kira gitu. Dan saya sering di kelas dengan Maasiswa tuh tanya, kalian tahu gak ke pulauan Sula Tuh dimana gitu ya. Ideanya bukan untuk, bukan untuk apa namanya. Terdastermahat,
geografi gitu. Tapi, untuk kasih lihat gitu bahwa sebetulnya mentali gitu. Kita nih gak, ya tadi ya, gak utuh memahami. Jadi gak heran kalau kemudian dia geraknya masih kayak baik, walaupun udah 79 tahun gitu ya. Karena gak semua organ yang dia Miliki tuh dia pahami dan dia bisa gerakkan gitu. Si otak ini sangat terbatas kemampuannya. Kenapa ya karena tadi? Karena pengetahuan yang basisnya adalah sistem pengetahuan modern dari peradaban modern. Yang coba kita lakukan sekarang ini mulai memberi perhatian lebih luas pada pengetahuan vernacular. Oke. Jadi apa sih yang sebenernya tumbuh di dalam proses kebudayaan sejarah. Tadi makanya
saya bilang harus mundur 35 .000 tahun. Bukan hanya apa namanya, for the sake of explaining kenapa sesuatu menjadi begitu. Tapi di sini kita bisa tap. Dan tuh kalau kita perhatikan sistem pertanian. Kalau sekarang laporannya dari Kementerian lingkungan hidup dan kehutanan. Kita punya 22 ekosistem. Ya bagaimana masyarakat yang tumbuh di ekosistem mengembangkan pengetahuannya. Terusnya gitu ya. Yang sekarang di direktora jendel kebudayaan. Kita berusaha dokumentasikan gitu ya. Dan reset semacam itu dilakukan. Sudah cukup lama gitu ya. Tapi yang kemudian mengumpulkan menjadi satu repositori pengetahuan. Dan ini masih PR nih sampai sekarang gitu ya. Agar menjadi apa? Agar
menjadi accessible. Ya. Bahkan repositorinya pun masih PR. Masih PR. Apalagi untuk melihat itu dan Mempelajarinya. Betul. Makanya saya selalu bilang dan. Saya pernah bilang juga dalam diskusi dengan Pak Hilmar adalah bahwa lingkup kebudayaan menjawab pertanyaan saya yang paling pertama. Itu sebenarnya jauh lebih luas dari sekedar adat istiadaan, dari kesenian, kesenian, taritarian seperti itu. Buku ketiga Pak Ilmar, kalau tidak salah, buku ketiga itu adalah rewriting the nation. Ini masih nyangkut juga dengan buku pertama, "Rewriting the Nation: Pramoedya and the Politics of D ecolonization". Jadi ini melihat tentang kegagalan, correct me if I'm wrong, Independent nation state
di Indonesia untuk mentransformasikan image poskolonial dia karena kurang... Dapat, bukan kurang dapet berimaginasi, tapi kurang dapet mungkin menteranslasikan imaginasi yang sama kepada seluruh orang Indonesia gitu. Itu juga bener-bener yang mengingatkan, Memasukkan komunitas. Dan, tapi yang menarik disitu adalah bahwa imaji itu diusung oleh literatur, oleh karya literatur, makanya ada promodia, anantatur, segala macem gitu kan. Saya lebih, kampnya itu lebih ke Weberian gitu ya. Yang maksudnya dalam hal bahwa kultur itu membentuk material World gitu, dibandingkan mungkin dengan sentimen marks bahwa, oh itu sebenarnya sebaliknya gitu kan. Jadi di Jerman misalnya, karena saya pernah tinggal disitu juga, buku
literaturnya mungkin yang paling, dianggap paling tinggi dalam serata literatur itu mungkin Saya Suka mengambil contoh ini, bahwa begitu berimpaknya imaginasi orang Jerman akan ke Jermanan ya, dari literaturnya gitu ya. Maksudnya bukan hanya sekedar, oh saya tahu tentang etika segala macem, oke itu bagus ya. Seperti halnya, Hamlet itu ya, menjadi slandasan etika bagi anak- anak Inggris. Tapi ketika seorang direktur central bank di Jerman, Namanya Jens Weidmann pada waktu itu, dia berdebat dengan european central bank, depan dari itu bahkan melawan Angela Merkel sendiri, untuk jangan cetak duit. Ya kan, dia mensitir part 1 dari karya Faust itu,
dibilang bahwa seorang setan pada waktu itu Mephistopheles, Dia bilang, dia seorang setan ini mencoba untuk merayu sang Raja, untuk terus mengeluarkan proyek- proyek yang mahal, dengan cara mencetak uang. cataklah uang kertas, jadi saya melihat bahwa literatur itu membentuk sekali bahkan di dunia praktis, seorang direktur central bank itu bisa mensitir literatur Jerman Yang membuatnya menjadi landasan bertindak. Apakah Indonesia punya literatur, bukan sekali beritu dalam hal canggihnya di segi literatur, tapi sementara daging itu sehingga bisa menjadi semacam aju acuan bagi seorang Indonesia bukan hanya di segi etik tapi dalam bertindak di level praktis. Sentimen saya bilang kita
punya salah satunya mungkin lagaligo Atau anandatur, tapi belum dipahami. Untuk Indonesia sebagai sebuah kolektifitas saya setuju belum. Untuk bagian-bagian dari kolektif besar itu cukup banyak dan medara daging, wayang. Itu kuat sekali ya, dan itu berkembang selama untuk waktu yang cukup lama, dan ya pengaruhnya sangat besar gitu. Tapi yang kemudian naik ke level itu tuh ya, yang bisa menangkap imajinasi publik, itu praktis setelah tahun 20-an, 30-an, sedikit, dan waktu itu juga tingkat kemampuan membaca rendah sekali ya. Terus luaras 30 sensor-nya bilang hanya 6.4% orang bisa baca gitu ya, huruf latin. Jadi praktis nggak ada. Coba kalau
misalnya kita mau cari, dalam literatur Islam, itu saya kira kita bisa menemukan kitab-kitab yang cukup central, yang didalam pembentukan Islam di Indonesia ini gitu ya. Dan itu kita pernah ada proyek di kementerian gitu ya. Coba dong bikin kompendium gitu ya, dari teksteks yang dianggap central gitu ya. Mau kerja sama dengan teman-teman di mustas nadlatu lama gitu ya. Mau bagus sekali ya, bagus sekali. Untuk kasih liat gitu, sebetulnya ada, nasga-nasga yang cukup central, bukan hanya suaranya gitu, tapi juga bagaimana menentukan tatanan sosial dan seterusnya. Jadi isu-isu itu masuk. Jadi kalau boleh saya bilang, sekarang ini kita
terus masih Dalam proses gitu ya. Sastra bentuk menjadi bagian yang penting, tapi kita mesti ingat sekarang sudah masuk dalam satu era, dimana media audiovisual digital itu memainkan peran cukup besar. Jadi mulai harus memikirkan, gimana caranya merespons perkembangan disini ya. Untuk ya kita tahu bahwa kita nak kerja di dalam satu ruang hampa Ya, selalu ada macam-macam harus informasi yang masuk ke kita gitu. Dan sekarang tantangan paling besar sih sebetulnya. itu. Dan ada isu representasi juga. Kita mau ambil dari khazanah mana? Iya. Iya. Indonesia begitu diverse, gitu ya. Dan tuh kayaknya susah untuk Bilang bahwa, ya ini
merepresentasi ini kita semua, gitu ya. Kecuali kalau masuk ke dalam pidato-pidato politik yang mulul- lulu bicara tentang keregaraan dan seterusnya. Tapi. Ya, kayak lagi tahu. Uninspiring, kan? Iya, iya, iya. Pastinya si direktur bank gak akan Menyitir pidato siapa dan sederhana. Iya. Pasti akan ambil karya sastra, karena itu yang masuk ke dalam kesadarannya. Adi anak kita, karya sastra yang betul-betul representasi pengalaman kolektif, memang tidak mungkin satu, gitu. Jadi kita bicara tentang satu apa namanya set atau satu gugus karya, gitu ya, yang bisa merepresentasi. Keragaman Indonesia itu. Makanya saya pernah ditanya, kalau misalnya orang Indonesia mau dibawa
maju, maka anak-anak Indonesia harus belajar apa yang utama yang paling itu. Pada waktu itu dengan kenaifan saya, saya bilang harus belajar matematik. Karena matematik adalah self-ev ident, self-coving segala macem, science, etnologi. Tapi makin lama saya berpikir kemari, Mungkin untuk konteks Indonesia, harusnya adalah kemahirannya berliteratur. Berbahasa, baik secara verbal mau mengelisan. Seperti itu. Dan saya sayangkan memang ketika isu-isu seperti ini lahir di permukaan di media populer. Selalu agak sensitif, ada kesan bahwa memanifestasikan ke daerahannya itu, Otomatis kemudian bertentangan dengan isu kesatuan. Jadi, selalu dibenturkan dengan itu. Pak Hilmar saya pernah lihat juga talks, Pak Hilmar di
TEDx tentang "Wisdom Castodian". Di mana Pak Hilmar menjelaskan ada beberapa teknologi-teknologi lokal, yang kemudian dianggap sebagai Logikamistika. Tapi kemudian di Cina, itu dikultifasi bahkan punya nilai ekonomi yang besar, hal-hal seperti cupping, kerokan. Bahkan atlet-atlet besar seperti Michael Phelps perenang dengan banyaknya, masih menggunakan itu. Dan orang Amerika tentu bukan orang logikamistika, dalam hal level Olympics. Nah, kita ini banyak. Oke lah, saya tahu banyak sekali, dan di Chronicles kita sering bahas itu bahwa ada teknologi DNA segala macam yang membumi dari Indonesia. Permasalahan saya, bagaimana kita mengintegrasikan itu dengan metodologi sayang. Sekarang begini Pak? Oke, mungkin ada efekasi
yang sangat dahsyat dari ngerokin orang dengan Minyak kayu putih segala macem. Tapi ketika ibu saya bilang, wah ini istri kamu hamil perutnya kotak, berarti anak laki-laki ini. Itu kan, belum tuntuk bener gitu kan, wah ini pasti, oh nangis ya, berarti dia mau adek nih gitu, nah lu, gitu kan. Jadi gimana supaya kita dalam memajukan wisdom lokal itu tidak terjerambap kemudian segala hal Yang wisdom itu dianggap, scientific. Gimana Pak Hilmar menarik batasnya gitu loh dengan mengintegrasikan metodologi science untuk menilai mana yang perlu dikultifasi sebagai hal yang scientifically sound dan apalagi punya nilai jual ekonomi, mana yang
mungkin belum. Ya, sebagai titik berangkat, keduanya pengatauan vernakular. modern size harus keluar dari Batas yang mereka buat sendiri. Boleh Anda memberitahu itu? Pengetahan vernakular, ya tadi, ya. Pokoknya apa yang saya tahu dari orang tua dan segala macam, mesti benarnya. Ya, karena sudah teruji dari waktu ke waktu dan seterusnya. Ya, belum tutup benar, gitu. Dan demistifikasi ini penting Sekali untuk dilakukan, gitu. Contoh, misalnya sekarang orang bilang baju batik nih, wah, sudah tradisi Indonesia. Nggak ada orang pakai baju batik 100 tahun yang lalu. Batik itu dipakainya di bawah. Kalau dia diangkat ke atas, namanya sudah pembaruhan. Apa
yang memungkinkan pembaruhan terjadi? Jadi semua history akan bisa membantu kita menjelaskan secara lebih benar. Dari mana sih datangnya yang disebut tradisi ini? Kita tahu persis ada banyak tradisi yang menjelaskan. Ya kan, yang dicari-cari dibuat-buat di jaman sekarang disebutnya adat lah, disebut ini dan seterusnya. Kemudian menjadi seolah-olah nih Dari waktu memori, gitu. Nggak, ini ada sejarahnya, lagi-lagi ini sejarah jadi penting, gitu. Modern science juga sama, gitu. Dia membuat klaimkan bahwa ini pengetahuan, science dan segala macem, lupa kadang-kadang pada akar vernakularnya. Ya, oke. Ya kan. Dan kadang-kadang bahkan mengabaikan atau sedikit menutupi, gitu ya. Karena dia bilang,
ini harus betul-betul diuji dan seterusnya. Dan di dalam modern science seperti yang tadi kita bahas, gitu ya. Ada banyak sekali keterbatasan kalau udah ketemu dengan ethics. Apa sih, value yang kamu, oh enggak, kita value free, Matematik. Nggak perlu dibatasin dengan, ya betul, gitu ya. Untuk mengitung kamu enggak perlu tahu bahwa apakah ini untuk baik atau buruk. Surga atau enggak. Ya, tapi ini semua kemudian mau apa dengan itu. Dan itu kan balik ke Jerman dengan Filsafat Jerman, seluruh proyeknya "Frankfurter Schule" (M Azhab Frankfurt), ya. Itu kan itu. Ya, ketika dia menyadari bahwa, "Ah gila , ya.
Ternyata kita menghasilkan otorotarian personality, bertanggungjawab atas perang," ' Eindimensionale Mensch'-nya si Marcuse semua bicara tentang proyek, problem-problem ini gitu. Jadi mereka sebenarnya udah Melakukan kritik diri ini gitu ya. Ya kemudian ada teori post-colonial segala macam gitu yang membantu meramaikan pembicaraan ini. Tapi akarnya mulai menyadari keterbatasan dari yang disebut modernity, yang disebut science dan seterusnya gitu. Menjadi lebih humble gitu ya untuk kemudian menyadari ya ternyata ada Juga yang kita nggak ngerti gitu ya di dunia ini. Nah kalau keduanya bisa keluar dari cangkangnya itu, maka ada basis kita untuk ketemu gitu. Dan itu tentu lebih mudah dikatakan
daripada dilakukan. Tapi proyek seperti ini sebetulnya udah mulai bertumbuhan di banyak tempat gitu ya. Di Garut Ya, Ada temen Nisa namanya, dia bikin pesantren ekologi. Ya, dan dia mengkombinasi pengetahuan -pengetahuan lokal, mengenai ekosistem yang ada di garut itu. Ya, tujuan itu untuk apa? Untuk bikin pertanian yang menghasilkan. Itu, prinsip-prinsip agroekologinya dia pakai. Dia nggak sendiri, ada banyak sekali ini proyek -proyek tersebar di Indonesia seperti ini. Dan tuh saya kira, bibit nih, kalau kita mau bicara gimana sih caranya bertemukan gitu ya. Ya, yang saya tahu, teman-teman di LIPI, mereka punya museum Ethnobotani, juga arahnya kesana. Ya,
mulai menyadari ya bahwa, Sebetulnya banyak sekali ya, katanya. Informasi yang dikumpulkan dari, m acem-macem suku bangsa kita ini, terkait dengan tanaman, yang sangat membantu kita untuk berpikir tentang, industri farmasi misalnya, gitu ya. Dan banyak isu seperti itu. Jadi, praktiknya tersebar, saya kira, yang belum, mungkin, dan saya nggak tahu apakah Diperlukan itu tidak, kayak kunian revolution, untuk mengubah para daimini, gitu ya. Itu, itu. Apakah perlu atau nggak sih, gitu ya. Di jaman sekarang, kita datang lagi dengan satu statement, bahwa, patah-patah dari modernity dengan segala macam, paradigma berpikir modernnya itu, Harus dibantu untuk luar nih dari problem,
yang dihadap riala dunia sekarang ini. Ya. Buat saya, momentumnya ada COV-19. Ya. Ancaman perang nuclear yang kita nggak tahu nih. Climate change. Climate change. And all these issues, gitu ya. Yang sebenarnya udah bentuk nih. Konteks untuk orang mulai keluar, betul-betul. Genuinely ya. Jadi bukan cuma sekedar dekorasi, bilang kita juga, taruh perhatian terhadap, indigenous knowledge dan sebetul -betul. Tapi, betul-betul menyadari bahwa nggak, ini ya, ini harus ada ya, Perubahan, gitu ya, untuk nggak ditingkat pemikiran. untuk menjawab persoalan-persoalan yang kita hadapi gitu. Indigenius knowledge ini mungkin banyak orang salah artikan sebagainya oh ini dipercaya ya secara turun
untuk murid. Maksud saya untuk knowledge menjadi knowledge itu believe proven gitu ya. Yang punya efekasi di dunia Praktis maksudnya kita pernah bicara tentang subak sistem irigasi di Bali gitu ya. Punya keistimewaan dalam hal mengatasi masalah praktis bahkan punya resiliensi yang tinggi terhadap. Hama, segala macem. Jadi itu kan bukan ya masalah dong yang itu masalah bahwa orang Bali mengerti sesuatu yang orang bukan Bali tidak mengerti dan punya Efekasi untuk menyelesaikan masalah gitu ya. Tadi Pak Hilmar juga bilang tentang paradigma. Tapi kemudian wisdom-wisdom kayak gitu kemudian dimasuki oleh kemudian saya bilang sains modernitas yang membabi buta gitu
ya. Akhirnya semuanya hilang, tapi kita nerima aja para bikma itu. Saya juga pernah dengar Pak Hirman Bilang bahwa kita tumbuh menjadi bangsa yang 'nerimo'. Mungkin itulah mengapa lokal wisdom itu selalu terdam. Saya punya teori mengapa Indonesia nggak keluar, walaupun ada banyak momentum untuk itu. Tadi Pak Hilmar bilang climate change segala macem. Climate change itu masalah di mana science itu berbenturan dengan etik. Dulu di masa sebelum modernitas, di masa modernitas orang berpikir bahwa alam semesta itu buas, chaotic. Human adalah driving force yang memberikan kebudayaan kepadam. Tapi sekarang di era postmodernis, orang menganggap bahwa alam itu adalah
seorang perawan yang suci. Manusia adalah penyakit. Nah ini kan seharusnya momentum. Bagi orang Indonesia untuk punya, Saya bilangnya moral kapital. Untuk bilang ke dunia bahwa we are nature. We know how to solve issues, real issues. Like climate change. Kita punya landasan etika segala macem. Tapi kongkungan paradigma ini, saya mempendangkan Pak Hirman gimana, gimana caranya mengatasi supaya Kita tidak selalu keluar dari inferioritas. Saya punya teori. Karena saya liatnya dari segi science. Ada cabang ilmu yang disebut epigenetik. Jadi intinya adalah apakah trauma sosial itu dapat diteruskan secara genetik ke anak. Jadi premisnya adalah kalau demikian maka ketika
Indonesia Dijajah dalam serata sosial selalu ditaruh di bawah selama beratus- seratus tahun, tidak bisa tidak maka epigenomnya itu yang bukan hanya sekedar warna kulit segala macem, tapi trauma sosialnya. Itu diteruskan turun-temurun sehingga kita tidak bisa tidak terkongkung di dalam genetika kita, terkongkung untuk selalu. rasa inferior. Itu teoris saya gitu. Setuju, saya sempat ngomong soal ini ketika ada peluncuran bukunya Mbak Isna, itu sapaan sanggiri novel. Yang agak unik novel itu karena bercerita tentang perbudakan. Yang di masa kolonial, bagaimana ratusan orang dari Nusantara ini kemudian sampai ke Afrika Selatan. Satu koloni budak gitu yang sangat Itu, novelnya
historis gitu. Dan saya bilang di dalam acara itu gitu, bahwa jangan dikira ketika perbudakan selesai kemudian kultur yang lahir dari periode perbudakan gak terbawa sama kita nih. Dan silang manifestasinya kadang- kadang, apa sederhana saja. Kadang kita kalau berhadapan dengan orang yang kita anggap superior gitu. Itu langsung tuh menempatkan dirinya dibawah gitu. Ya ini warisan, kita juga gak tau datang nih dari mana kan, tiba-tiba saya refleks aja cengeng- esan, terus gak tau ngomong apa. Ini satu nih Pak, saya foto sedikit. Saya kadang-kadang suka berpikir kenapa orang Indonesia ya, kalau foto baris, Pasti tangannya begini. Ya. Mungkin
itu semacam kayak alam bawah sadar dia, karena waktu saya lihat foto-foto jaman penjajahan, yang orang Indonesia abis itu bahkan tangannya begini. Gitu ada dia. Ada gagah, sorry saya potong lagi. Ya dan betul, di manifestasi aja gak selalu Artikulasi dalam secara kognitif kan, itu munculnya dalam berbagai macam gesture. Dan ya saya kira kalau bicara tadi ya bagaimana kemudian si paradigma ini bisa keluar gitu ya. Beban yang berat dari yang v ernakular tuh adalah keluar dari keterkungkungan tadi itu, kulturalnya itu. Ya karena dia didira kan selama Ratusan tahun kamu, gak cukup ya segala macam, pokoknya gak punya
harga gitu ya. Kalau bahasanya Bung Karno, kalau diberat-beratunya, dia bilang kita dianggap bangsa kurang karat, katanya. Oke. Ya karat diamond gitu ya. Jadi padahal sebenarnya ada banyak, cuman dia gak teruskan kemudian Apa yang berharga dari kita dan apa yang bisa dipersambungkan. Nah saya lihat ya, ini berpikir lebih praktikal. Dialog di antara komunitas ilmiah yang merepresentasi dua paradigma ini, sebenarnya sangat perlu untuk dilakukan gitu ya. Misalnya waktu Board Rotor Forum gitu ya, yang diundang Ilan Mas, terus kemudian bicara apa lah Projek-projeknya dia gitu ya. Saya waktu itu bilang, itu alangkah sayangnya ya. Board Rotor Forum dihadiri
begitu banyak kepala negara, satu forum yang juga sangat central karena isunya terkait dengan problem-problem yang tadi kita bicarakan. Betul. Seandainya saja. gitu ya, Pemangku dari pure batur yang paling tinggi di dalam sistem subak dan juga dari dalam kebudayaan. Jadi ini diberi tempat untuk bicara. Iya. Itu akan mengirim pesan yang sangat kuat, kan gitu ya. Terus sekali. Iya. Bahkan dia gak perlu berbahasa Inggris dan seterusnya, ya dia dalam bahasa dia, kita beri kemudian akses bagi orang untuk bisa mengerti apa yang dia katakan. Persiakaban seperti ini, yang saya kira ini sangat-sangat penting dan banyak sekali ya. Di
level yang lebih, katakanlah, praktikal gitu ya. Saya membayangkan misalnya, karena di catatan waktu saya Terima itu ada soal fenomenologi. Terus saya bayangkan persiakaban orang yang belajar Husser lho, bernadar Heidegger. Iya. Kemudian ketemu, ya fenomenologi, ketemu dengan falsafah alam M inang. Iya. Contoh. Husserl bilang, " zu den sachen selbst", jadi kalau mulai memahami sesuatu, Apa yang diada pada benda itu kita terima tanpa ada perjudice kan? Terima, dia seperti adanya. Heidegger kemudian pinjem dari Yunani, 'Aletea', biarkan kenyataan itu nampak, menampakkan birinya kepada kita si penerima ini. Apa itu kalau bukan alam terkembang jadi guru? Dalam falsafah Minang
kan? Dan ini kan percakapan yang sangat Mungkin terjadi nih. Dengan, ini metafisik-ontologi, oke, mungkin satu-dua kali, terlalu ada forum untuk menyamakan frekuensinya, tapi saya kira akan jadi percakapan yang sangat produktif gitu ya. Nah, hal-hal yang kayak begini, saya kira sekarang ya, apalagi sekarang kalau Sutan Takdir mengusahakan ini tahun- Tahun 80-an. Mungkin pada saat itu orang belum lihat. Dan berpikirnya masih dalam barat timur polemik kebudayaan tahun 30- an gitu. Sekarang isunya udah beda nih. Situasi dunia juga udah beda, ada kebutuhan bersama, yang di sana juga udah tau ya bahwa ada banyak sekali problem, keterbatasan mereka berpikir,
makanya banyak yang juga kemudian Cari kebajikan-kebajikan di Asia. Ketimpangan ekonomi sosial, ini semua konteks yang saya kira dan Indonesia bisa mengambil peran yang sangat central, dari dalam urusan ini. Saya sayangkan narasi-narasi populer seperti, oh kita negara besar tapi ngomongnya ke dalam, ke internal gitu. Kita menguliahi bangsa kita Sendiri akan betapa besarnya bangsa kita. Tapi di forum-forum eksternal seperti World Water Forum seperti itu, nggak ada yang keluar kebesaran kita, kebesaran wisdom orang Bali, orang minang, nggak keluar disitu, tapi kita menguliahi orang kita sendiri, kita bangsa besar. Sinyalir saya itu hanya untuk meredam semacam kritisisme. Itu yang
agak susah. Saya sarankan. Tapi oke, saya mau di bab terakhir ini saya mau melihat pandangan Pak Hilmar tentang oke, kita sudah tahu lingkup dari kultur. Pentingnya kultur dalam membentuk bukan hanya cara bertindak sebuah bangsa tapi caranya menyikapi post kolonial projection di dunia. Pentingnya ilmu pengetahuan adanya momentum di dunia sekarang untuk Indonesia bertindak dan ambil peran central. Bagaimana kemudian kebudayaan ini di regulasi yang kemudian akan di birokratisasikan dan kemudian pasti akan tumbuh di dalamnya secara inherent konflik kepentingan, politisasi, pendanaan yang terbatas segala macem. Gimana nih di level praktis supaya yang sebegitu penting ya hal yang seperti
kebudayaan itu bisa dimasukkan dalam struktur birokratisasi. Ya. Directora General Kebudayaan itu tugas fungsinya yang ditentukan yang selama ini sebelumnya itu dijalankan sangat mengikuti apa yang digariskan oleh UNESCO. Jadi fokusnya terpada art, Heritage, seni dan barisan budaya. Barisan budaya, cakar budaya, yang intangible. Itu, kayak ranahnya yang ditangani oleh Sibidang Kebudayaan itu. Untuk, dan itu tentu lahir dari satu proses tadi ya, paradigma berpikir modern. Ya, betul. Yang kemudian di, mendunia, Ya mendunia karena kolonialisme. Diodoksi. Betul. Nah, sekarang sementara kita lihat Indonesia adalah salah satu bio-culture diversity terbesar. Ya. Dimana alam dengan kultur itu begitu, apa namanya, tersambungnya
gitu ya. Sehingga kalau misalnya sekarang kita balik kepada batas-batas yang Ditentukan oleh UNESCO, kerugian di kita tuh luar biasa besar. Betul. Jadi pertama nih, keluar dulu dari, dari gerangka berpikir itu. Terlalu sempit. Betul. Jadi ketika kita mulai bikin undang-undang itu, merumuskan undang-undang nomor 5 Tahun 2017, itu yang ada di benak kita tuh. Ya. Begimana caranya, mengakumodasi perluasan ya dari pengertian yang kita sebut kebudayaan itu. Dan itu hal pertama. Hal kedua, kemudian bagaimana sih, tata kelolanya. Ya. Karena biasanya kalau negara yang punya Ministry of Culture, Kayak Eropa sebagian negara-negara bekas Uni Soviet hampir selalu, cita-cita ya
apa, mengontrol kan itu ya. Mereka ingin mengandalkan. Mereka gini lah harusnya kebudayaan. Nah kita lihat tadi, ya. otak yang dipusat, gak akan nampu, ya. Jangan kau seluruh organ tubuh yang namanya Indonesia ini. Jadi pendekatan kita kemudian juga pikir, dan ini lagi-lagi ya, cara pikir kontinental harus diganti dengan cara pikir archipelagis. Dimana kita betul-betul menghargai satu-satuan ini. Sehingga dia bisa mulai bergerak dan mengirim sinyal ke otak bahwa ini harus dikendalikan, diarahkan sehingga dia bisa menjadi satu kekuatan. Jadi cara berpikirnya kita uas sama sekali. Apa artinya di dalam birokrasi, ya betul-betul memainkan peran lebih sebagai fasilitator daripada
sebagai pihak yang menyelenggarakan. Dan secara praktis itu artinya apa, kurangi kegiatan. Ngapain si negara ini bikin kegiatan lagi festival ini, festival itu dan seterusnya Biarkanlah si masyarakatnya yang pekerja. Pakailah namanya mereka pikir baik dan seterusnya. Dukung mereka untuk bisa, apa, perkembang gitu ya, agar gerak motoriknya ini mulai bisa. Kebunan natural seperti itu. Ya betul gitu, dan kita mengirimisinya gitu ya, melalui pendanaan, Melalui dukungan institusional dan segala macem, agar dia betul-betul kemudian menjadi tubuh gitu. Itu yang sekarang, melalui polisi, melalui berbagai macam organisasi yang di bentuk ya, kita bikin, apa namanya, perubahan cukup mendasar di dalam
nomen kelatur direkturat jantara kebudayaan, kalau dulu kan ada direkturat Kesenian, ada apa segala macem, masing-masing punya nih. Sekarang kita pakai logik, apa sih sebenarnya, tata kelola kebudayaan ini, dirumuskan di dalam undang-undang, melindungi, karena itu berarti kita mempreservasi semua yang, kekayaan budaya dengan kaitannya dengan alam dan sebagainya. Setelah kita punya repositori ini, Wujungnya adalah repositori gitu, berbasis repositori ini kita bicara tentang pengembangan. Mana caranya pengembangkan ini? Nah, sinilah ketemu Haydagar dengan Valsava Alam, Indang Kabar dan seterusnya dan seterusnya gitu ya. Ini jalan gitu, baru kita bisa lihat, ini bisa dipakai untuk apa nih? Ada yang bisa
masuk ke dalam Industri informasi, ada yang bisa masuk dalam pendikan, untuk meningkatkan ketahanan budaya dan seterusnya, ada yang untuk diplomasi, ada untuk ekonomi dan seterusnya. Jadi ini aja nih set yang akan kita, yang ditangani ya oleh, oleh kementerian gitu. Dan memastikan, tiga fungsi ini ada orangnya, Ada lembaganya, maka ada pembinaan disebutnya gitu ya. Untuk training orang, jadi kita banyak nih sekarang juga, punya beasiswa- LPDP itu kita punya Beasiswa Pelaku Budaya. Kenapa gitu? Karena untuk tiga fungsi ini, kalau kita pakai sistem LPDP yang, existing gitu ya, Hampir nggak ada tuh, nggak ada misalnya membiarkan, Orang untuk
sekolah pengarcihpan budaya. Sangat esensial, repositor ini gak bakal jadi ini, kalau gak ada orang-orang benda kemampuan itu kan gitu. Data science yang terkait dengan kebudayaan. Jadi halan kayak gini nih, juga memang perlu penanganan yang Khusus gitu. Nah, selama ini, ya salah satu perjuangan ya gitu, kalau boleh disebutin gitu, adalah membuat sistem kita ini, ya pemerintahan ini, benar-benar mengenali kebudayaan ini sebagai basis kekuatan dan juga potensi yang luar biasa gitu. Kalau ditangani dengan baik, dia akan kontribusinya terhadap pembangunan nasional ini luar Biasa gitu. Ya, saya gak bilang bahwa ini udah selesai ya, masih tadi ya, intervensi
politik lah ini, macam-macam kejadian masih ada gitu ya. Tapi bentuknya saya kira mungkin sekarang jauh lebih jelas daripada kata-kata 10 tahun lalu. Ya luar biasa. Yang pertama harus keluar dari Kongkungan lingkup yang diimpose dari luar kepada kita seperti UNESCO base idea of what culture is which is limited to arts and heritage. Yang kedua untuk memfasilitasi daripada membuat kegiatan, daripada memimpose willing dari central ke daerah, tapi untuk memfasilitasi, ini tentu lebih gampang diucapkan daripada diungkukan karena Memelakukan festival segala macem itu adalah membuat panggung, membuat panggung pasti ada kepentingan politik di situ, pasti semua orang mau melakukan,
apalagi kementerian salah satu KPI- nya adalah penyakapan anggaran. Oke kita pragmatis di situ kan, kecuali kementerian disuruh program mana yang boleh dilakukan itu yang bisa ngambil untung, nah itu beda lagi, Bukan kasar ngomongin. Yang kedua, yang ketiga sorry, adalah penguatan kelembagaan dan human capital upskilling seperti itu adalah luar biasa, saya mau berikan pertanyaan terakhir, tenang bukan gimana memotivasi Gen Z gitu kan, apa harapan Anda tentang milenial, tapi seorang Hilmar Farid melihat bangsa sekarang dengan turmoil Politik segala macem pergantian administrasi, apakah ada landasan optimisme untuk melihat Indonesia dengan kulturnya yang kuat itu bisa menjadi kekuatan bukan
menjadi beban bagi dunia yang sangat terconnected. Optimisme saya kira salah satu alasan, saya bergabung dengan pemerintah, saya bukan jadi banyak kerjanya Gitu ya, jadi betul-betul abis waktu kita disitu adalah rasa optimisme itu, salah satu alasan yang mendorong gitu, karena menyadari betul gitu. Jadi kebudayaan sebenarnya belum ditangani secara optimal gitu ya. Sekarang nih boleh dibilang kita kalau bicara persentasa gitu ya. Less than 25% sebenarnya ya dari yang mampu sebenarnya kita lakukan gitu. Oke. Dan masih banyak nih mimpi besar gitu ya. Yang saya kira akan punya dampak yang gak kecil terhadap si dunia ini. Iya. Tantangan terbesarnya
cuma itu tadi. Memastikan orang bilangnya politikal. Saya bilang sebenarnya perlu lebih Dari itu ya. Perlu komitmen gitu ya. Dan komitmen ini bukan di rasari cuman sekedar bahwa saya suka kebudayaan, saya suka keasinian dan seterusnya gitu. Tapi sekarang ngerti. Ini satu projek yang betul-betul memang kalau jalankan konsisten gitu. Itu akan luar biasa gitu. Apa yang saya coba lakukan di Pemerintah selama 9 tahun menjabat ini. Mungkin baru... Boleh dibilang baru pada tingkat pondasi, ya. Ya. Ya, masing-masing orang udah mendirikan tiang, membangun rumah yang tadi kita bayangkan bersama, gitu ya. Tapi masih sangat awal tahapnya, Gitu. Dan saya
kira kalau belajar di pengalaman negara-negara yang bangkit dan memiliki kebudayaan solid untuk perjalanannya, ya memang makan waktu 20, 30 tahun, gitu ya. Untuk bisa sampai ke level yang mereka inginkan, gitu ya. Kita sayangnya belum melangkah ke arah itu secara cukup serius, gitu. Ya. Dan itu, ya. Tetap sih saya kira rasa optimismanya masih ada. Justru karena saya lihat problem- problemnya sekarang ini ada ya. Transisi, kegagalan, kemenjawabannya, tantangan global dan segala macemnya. Justru karena kurang. Namanya menggunakan resources yang luar biasa ini, gitu ya. Dan dalam berapa kesempatan saya bicara dengan kepala daerah, bicara dengan teman-teman di pemerintahan,
gitu ya. Keinginan untuk mulai melihat, ya, kekuatan yang kita miliki di biokultural diversity ini sebenarnya cukup besar, gitu ya. Dari level kepala daerah ya, keinginannya. Ya, level kepala daerah. Benar, gitu ya. Ya, di Jambi. Kita sedang rekonstruksi warga Jambi, kan. Sejarah cukup masif, gitu ya. Sementara Jambi itu, boleh dibilang ekonominya bergerak karena Batu Barat dan Kelapa Sawit, gitu ya. Dua-duanya kita tahu punya efek yang tak terlalu bagus untuk lingkungan, gitu ya. Nah, sementara pemerintah juga punya Perhutanan sosial, gitu. Jadi kayak kita kompeting, gitu ya. Nah bedanya memang batubara dan ke lapa sawit. Ini sangat stabil,
organisasi yang permodalan dan seterusnya. Mereka sudah bagus juga untuk trading dan seterusnya. Jadi sangat-sangat mapan, sementara ide-ide alternatif ini Kan belum punya badan. Ya, perutanan sosial agroekologi, berapa hektar sih yang bisa diurus oleh prakteks macam itu, gitu. Jadi kita punya problem skala dan seterusnya. Tapi dalam diskusinya saya bilang gitu, " Pak Gub kalau seandainya ini kita adu balap lari, tambang dengan, apa, dengan pendekatan yang seperti Ini, gitu. Pak Gub ini akan menang, cepat nyampe, gitu. Tapi cepat habis nafas juga, tambang itu ada umurnya, gitu." Kebudayaan dengan agroekologi dan segala macem, ini dia akan tumbuh secara
eksponensial, begitu dia diberi jalan untuk tumbuh. Dan batasi kita gak tau nih, Sekarang kita belum tau nih. Ya. Science ketemu dengan segala macem kearifan lokal untuk menggarap hutan primer di Sumatera, kita gak tau tuh, sekarang ini ya, gitu. Dan itu akan makan waktu. Ya. Ya. Memang persoalannya kan, iya tapi saya jadi kepala daerah kan dua periode. Iya, iya. Saya bilang, ya ngapapa Pak, asal kasih aja ke badangan dulu. Kasih ruang ini untuk berkembang. Gak perlu menggantikan yang itu dulu. Iya. Sampai ini membuahkan hasil. Tapi itu optimisme juga ketika ketemu dengan banyak teman di daerah. Ketika
bicara tentang itu, oh dalahannya. Ada itunya, Nah ini yang perlu dikonsolidasi. Iya. Sebagai basis untuk kegiatan- kegiatan dan program-program yang arahnya ke manfaatan ya, banyak hasil diversiti kita. Jelas, memang ada landasan untuk optimisme itu ada. Butuh pemimpin yang bijak Pak, ke depan itu. Karena seperti tadi agro, Products agro, agro Indonesia itu juga subject to very constraining regulation yang bukan maunya kita, seperti European Union deregulation for forest products ya, segala macam. Nah itulah, kalau kita gak mengerti, akan sangat repot. Betul, betul. Oke, terima kasih Pak Hilmar. Sama-sama, terima kasih. Sampai ketemu lagi. Iya. Terima kasih telah
menonton, itu Chronicles. Terima kasih.