Aduh, [mendengus] tunggu bar. Aduh. Ah, ribun banget ini, Mbah.
Iya sih. Ini ini kayak anu ya tempatnya itu apa kayak pegunungan itu loh. Heeh.
Ya. Iya. Ah.
[mendengus] Bismillahirrahmanirrahim. Ping dua aja Mbah ya. Heeh.
Sudah jenengan nyalain ini. Tak nyalain bar. Iya.
Kita opening dulu aja lah. Oke siap. Kita opening dulu.
[mendengus] Hah. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Balik lagi bersama kami di tim sukses. Ya, alhamdulillah.
Alhamdulillah. Tidak lupa kami panjatkan puja dan puji syukur atas ke hadirat Allah yang maha kasih yang telah memberikan kami kesehatan semesta kelanggaran. Dan tidak lupa juga kami ucapkan beribu-ribu terima kasih untuk dulurku semua di manaun berada.
Mudah-mudahan panjenengan semua dikasih sehat selalu, lancar rezekinya dan selalu. Amin. Amin.
Amin. Amin yaabalamin. Jadi pada malam hari ini ngih untuk dulur semua seperti biasa saya dan Mbah Gisik alhamdulillah bisa explore ke hutan ya Mbah ya.
Dan kemarin kami itu enggak explore ke hutan karena kami itu mendapatkan apa ya? Mendapatkan amanah ataupun kami itu dimintai bantuan oleh seseorang ya Mbak ya yang di mana kemarin saya explore ke salah satu kandang ayam. Kalau Mbah Gisik.
Heeh. ke warung ya, Mbah ya. Ya, seperti itu.
Nggih. Dan alhamdulillah pada malam hari ini kami bisa lor ke hutan dan alhamdulillah juga cuaca pada malam hari ini sangat cerah dan itu ada tuh bulannya itu. Jadi beberapa hari ini tuh di kota kami di sini yang di tempat kami itu tuh tidak ada hujan sama sekali dan ini sepertinya sudah pergantian cuaca ngur semua.
Jadi pergantian cuaca yang kemarin cuaca apa hujan ini sudah musim kemaro seperti itu nggih. Dan [mendengus] biasanya juga kalau di musim seperti ini pergantian cuaca seperti ini tuh ya saya juga mengingatkan dulur-dulur semua. Jadi jaga kesehatan ngih untuk dulur-duruk semua.
Soalnya kalau pergantian musim ataupun pergantian cuacaan itu banyakan apa ya banyak yang batuk pilek seperti itu ya mah ya. He [berdehem] batuk pilek terus [mendengus] ya juga yang apa yang badannya itu kurang fit seperti itu. Jadi kita di sini harus benar-benar menjaga apa ya kesehatan kita ngih seperti itu untuk semua ya [mendengus] panjenengan semua pasti juga bisa menjaga kesehatan jenengan masing-masing lah ya.
Saya di sini juga hanya mengingatkan juga dan saya ini juga sedikit pilek ini Mbah. [mendengus] K pilek. Iya, bentar.
[mendengus] Saya mau itu mah pakai ramuan diarut dulu, Mbah. Oh, kamu kamu bawa kamar bawa Mbah. Lah ini saya selalu selalu sedia di tas saya ini, Mbah.
Duduk aja. [tertawa] Alhamdulillah. [mendengus] Saya kalau di rumah kedinginan ataupun apa ya saya ini Mbah saya minum 5 tetes-lima tetes gitu Mbah anjuran.
Terus biasanya kalau di rumah kan kalau ada air putih langsung saya apa itu dorong dengan air putih. Jadi lima tetes terus salah minum air putih biar cepat apa ya larut terus biar cepat nanti menyebar ke semua tubuh kan. Jadi seperti itu Mbah.
Jadi enak Mbah itu itu masih masih ada itu masih, Mbah. Alhamdulillah masih buat saudaru semuanya itu masih masih kan masih benar-benih kan. Hmm masih benar kan masih ada kan?
Iya masih ada. Kalau masih ada Bukung semuanya monggo yang mau maharkan langsung WA ke Mas Akbar aja untuk dulur-dulur semua kalau ingin mengharkan apa ramuan dihandaru ini bisa langsung WA ke saya aja nggih ya. Mudah-mudahan ramuan di Handaru ini nanti itu apa ya bisa bermanfaat bagi panjenengan semua.
Dan saya juga doakan juga seluruh kita yang sudah mengarkan ramuan di Daru ini mudah-mudahan semua hajate jenengan ataupun semua penyakit jenengan cerita nanti bisa cepat disembuhkan sama Allah Subhanahu wa taala ya. Dan saya di sini juga tidak bisa menjamin bahwasanya ramuan Dewandaru ini tuh bisa untuk mengobati penyakit yang panjenengan derita seperti itu. Tapi kan alangkah baiknya kita sebagai manusia kan berusaha ya Mbah ya.
apa ya setahu saya ketika Allah Subhanahu wa taala itu menurunkan penyakit itu pasti nanti akan ada obatnya seperti itu ya Mbah ya. Ya. Jadi kita sebagai manusia kita harus berusaha kalau kita minum obat yang sana belum cocok, belum bisa sembuh kita coba lagi yang sana seperti itu ya Mbah sampai kita menemukan benar-benar obat yang bisa menyembuhkan penyakit diri kita seperti itu ya Mbah ya.
Kalau sudah berjodoh pasti nanti akan sembuh saya yakin. Mbah lanjut kita naik apa gimana ini B? Naik aja, Mbah.
Itu matiin aja dulu. Nanti kalau kita sudah sampai atas, kita nyalain lagi. Baik, baik.
Tambah dulu aja, ya. I, Mbak. Hiup kamera.
Hidupin kamera. Udah, udah saya hidupin. Apa ditan dulu apa tebal?
Aduh, ngeblur, Mbah. Soalnya jaraknya jauh. Hah?
Ngeblur kamera saya soal jaraknya jauh. Saya zom cah. Astagfirullahalazim Allah.
Mbah ritual apa? Oh itu di depannya ada manusia to. Iya Mbah sedang ritual nih kayaknya ini.
Ritual kita lihat terlebih dahulu apa yang e dilakukan. [berdehem] Astagfirullahalazim. Ya Allah.
Astagfirullahalazim. Bang. Mbah apa kita coba?
Langsung langsung itu aja Mbah langsung gerbek aja itu, Mbah. Barar. Asalamualaikum.
Heh. Asalamualaikum. Asalamualaikum.
Apa yang panjenengan lakukan? [berteriak] Apa yang apa yang diomongin? Hah?
I. Hah? Sini sini.
Asalamualaikum. Kenapa anjir? [berteriak] Enggak.
Enggak. Kamu di sini sedang ngapain? [berteriak] Ayo.
Sepertinya. Sepertinya ini orang pintanyanya tunduknya itu Tunawic. Ini dia punyai kelainan ini mah.
Heh, enggak saya tahu apakah kamu ini tuna wicara ya kamu ya? Enggak. Saya cuma mau tanya di sini tuh ada apa dan siapa wanita yang berada di depanmu ini?
[berteriak] Tenang, tenang. Saya di sini tidak mau mengganggu aktivitasmu. Dan kenapa wanita di depanmu ini itu tak sedarkan diri?
Kenapa kamu kok malah-malah gitu? Enggak apa yang kau mau? Eh tenang, tenang, tenang, tenang, tenang, tenang, Mbah, Mbah terangin, terangin.
Agak terangin itu, Mbah. Kenapa? [berteriak] Ayo.
Eh, astagfirullahalazim. [mendengus] Pah, saya di sini tuh cuman tanya baik-baik. Kenapa kamu malah seperti itu?
Astagfirullahalazim. Ya Allah. Enggak.
Sekarang mau kamu apa? Saya cuman mau lihat kamu. Astagfirullahalazim.
Ya Allah. Aduh. Aduh.
Kenapa? [berteriak] Kenapa kau mau berbuat apa? Ganti banget.
Sepertinya dia juga punya ilmu. Kenapa kamu? Oh, dia malah menyerang kami.
Oh, baik. Kalau kamu berbuat seperti itu, saya di sini juga bisa. Kami di sini datang baik-baik.
Kamu malah menyerang kami seperti itu. Baiklah, kalau memang itu keinginanmu, kami akan turuti di sini. Yuk, sekarang.
Auzubillahiminasyaitanirjim. Bismillahirrahmanirrahim. Auzubillahiminasyaitanir bismillahirrahmanirrahim.
La haula wala quwwata illa billahil aliyilim. Allahu akbar. [berdehem] [terkesiap] Astagfirullahalazim.
Ya Allah, Mbah. Saya cabut ilmu aja, Mbah. Ya, Allahu Akbar.
Cabut ilmunya, Mbah. [mendengus] Mbah, kita sadarin wanitanya, Mbah. Ayo kita sadar wanitanya.
Astagfirullahim, Mbah. Tadi kok ada kayak sekatan gitu ya, Mbah? Asalamualaikum.
Siapa kamu? Wujudkanmu. Wujudlah.
Wujudlah wahai makhluk. Astagfirullahim ya Allah. Astagfirullahalazim ya Allah.
Astagfirullahalazim. Ya Allah. Mbah buka mbah akbar.
[erangan] Majikanku. [mendengus] Majikanmu kamu apakah manusia? Oh ini majikan kamu.
Iya. Oh ya ini orang majikan saya malah malah apa ya? Betul sekali ini diriku malah bertemu dengan dirimu yang di mana kau adalah peliharaan dari manusia ini.
Ini matikanku. Entar bentar bentar bentar bentar. Saya mau menjelaskan pada dirimu.
Sini sinilah duduklah. Siapa kali ya? Kamu ngtian saya.
Duduklah. Duduklah di sini. Saya tahu apa yang terjadi dengan masikan kamu.
Tapi gini, kamu mau tahu apa tidak kenapa majikan kamu bisa seperti itu? Kamu apa, Kang? Bentar, kau jangan berburuk sang kepada kami.
Kami tahu semuanya apa yang terjadi dengan majikan kamu itu. Tapi kamu di sini harus mengatakan yang sejujurnya. Majikan kamu di sini sedang apa dan siapa wanita ini?
Hm, mungkin kalian bisa melihat sendiri. Matikan saya sedang mengobati wanita itu. Sedang apa?
Mengobati wanita itu. Mengobati wanita itu. Wanita itu mempunyai tujuan apa dan minta tolong apa kepada majikan kamu?
Wanita itu datang tempat ini karena dia mempunyai penyakit yang harus disembuhkan sama majikan saya. Apakah itu yang bisa menyembuhkan hanya majikan kamu? Iya lah.
Kok bisa seperti itu? [menghela napas] Tidak perlu saya jelaskan. Saya sedikit ganjal ini.
Enggak. Kau jelaskan semuanya. Kau jelaskan semuanya di sini.
Sepertinya ada yang masih kau sembunyikan dari saya. Saya nanti akan mengasih tahu kamu kenapa maj bisa bisaisa seperti ini dan saya nanti akan bantu kamu untuk mencari orang yang celakai majikan kamu ini. [menghela napas] Kamu gak mau kan majikan kamu seperti ini?
Tidak mau. Ya. Makanya dari itu kau jelaskan semuanya.
Kalian sudah menyerang majikan saya. Bukan. Saya bukan menyerang majikan kamu.
Lant siapa? Karena saya datang mati ini. Saya juga tidak tahu.
Tadi saya juga ada. Saya itu tadi juga melihat ada seseorang di sini tapi saya enggak tahu siapa orang itu dan kemungkinan orang itu yang menyerang majajikan kamu dan saya tahu dirinya orang itu. Bahkan saya mengetahui orang itu.
Kalau kau mau mencari orang itu, kau harus mengatakan itu kepada diriku terlebih dahulu. Nanti diriku akan membantu dirimu. Apa kalian bisa dipercaya?
Kau yang menyerang majikan saya bukan kalian. Iya. Kau katakan terlebih dahulu saja.
Baiklah, saya akan mengatakan ya katakan semuanya. Sebenarnya wanita itu mempunyai penyakit. Iya.
Itu sebenarnya yang membikin adalah muridnya. Muridnya? Iya.
Karena muridnya sangatlah benci dengan mata itu. Astagfirullahalazim. Ya Allah.
Berarti mata itu seorang guru. Iya. dan muridnya membikin dia terkena penyakit itu melalui siapa?
Sebenarnya itu juga minta pertolongan saya majikan saya. Oh, berarti yang membuat seperti itu juga majikan kamu. Iya.
Tapi majikan kamu disuruh sama muridnya. Iya. Astagfirullim ya Allah.
Dan setelah itu, Mas saya menyuruh masa itu datang ke pati ini untuk diopati. Hm. Iya, iya.
Berarti saya tahu kenapa alasannya penyakit wanita itu yang bisa menyembuhkan hanya majikan kamu. Karena majikan kamu yang membuat wanita itu seperti itu. Iya.
Yang disuruh oleh murid dari si wanita itu. Benci itu benci karena apa? Apakah dirimu tahu?
Muridnya kenapa benci sama itu? Pasti ada alasannya. Ya, saya tahu pasti ada alasannya.
Tapi kan ya jangan seperti itulah. Apalagi entah itu kan juga seorang guru dan apalagi yang membenci itu cuman muridnya kok. Muridnya tega menyakiti seorang gurunya seperti itu.
Ya, [tertawa] karena sangatlah mengatur-ngatur guru itu. Makanya muridnya sangatlah tidak suka. Lah terus kok majikan kamu juga mau disuruh sama muridnya terus masih mau juga disuruh untuk ngobatin sama wanitanya ini apa jangan-jangan majikan komuniti sebenarnya enggak mau mau mengobati tapi malah mau menambah penyakit yang wanita ini derita seperti itu pertanyaan kamu sampai ke mana-mana lebih baik tunjukkan siapa yang menyerah saya hanya bertanya saya cuma ingin tahu lebih jelasnya saja saya bukan bermaksud apa-apa saya di sini bukan ingin memojokkan pihak kamu dan majikan kamu.
Saya sini cuma ingin tanya jadi seperti apa, jelasnya seperti apa. Ah, selesai. Sudah, itu aja yang kamu bisa berikan informasi kepada kami.
Iya. Tidak ada lagi. Tidak ada lagi.
Baik, sekarang diriku yang akan tunjukkan di mana manusia itu yang menyeramkan saya. Baik diriku sekarang yang akan menunjukkanmu siapa yang membuat majikanmu itu seperti itu. Bentar kau bersabar.
Kau bersabarlah. Kau ingin tahu sekali apa yang membuat jikamu seperti itu. Kau ingin benar-benar ingin tahu iya siapa yang seandainya kau menemukan makhluk ataupun orang yang membuat majikan kamu seperti itu, kau ingin apakan dia?
Saya akan bunuh manusia itu. Bunuh dengan cara apa? Dengan tangan saya.
Karena tugas saya adalah melindungi majikan saya. Dengan tangan kamu sendiri? Iya.
Apakah kau bisa membunuh? Bisa. Tahu saya sangatlah mudah untuk membunuh manusia.
Setahu saya yang bisa apa ya? Menentukan kematian seseorang. Yang bisa menentukan umur seseorang itu adalah Allah Subhanahu wa taala.
Tapi saya bisa karena sejatinya apa ya di sini di dunia ini itu sudah ada yang apa ya yang mengatur kayak contohnya jodoh rezeki katakan siapa manusia itu yang menyelamatkan saya sabar sabarlah jangan terlalu tegang wahai makhluk jangan mengatakan siapa yang menyerang majikan kamu kau benar ingin tahu iya tunjukkan di mana mereka seorang yang menyerang majikan kamu itu tadi ada dua orang. Dua orang di mana mereka? Yang satunya tadi ciri-cirinya dia memakai topi diarahkan ke belakang.
Terus yang satunya tadi dia pakai pakaian lebis yang apa itu yang sobek-sobek di apa itu celananya itu dan dia juga memakai sepatu juga. Kenapa ciri-ciri yang kamu katakan seperti kamu sendiri? Memang saya apa kamu sendiri yang sudah menyelamat majikan saya?
Iya memang saya yang sudah menyelamatkan majikan seperti itu. Kamu mau apa? [menghela napas] Baiklah apabila kamu yang sudah bikin majikanku seperti itu, saya tidak akan membiarkan pergi dari tempat ini.
Apalagi hidup hidup kamu bisa? Baiklah rasakan menentukan kematian saya merubah takdir saya. Kamu mau mencoba.
Hah? [menghela napas] Ah. [erangan] [mendengus] [berteriak][erangan] [mendengus][batuk] Mbah.
Itu itu dukunya disadarkan. Tapi jangan jangan jangan jangan jangan boleh kabur itu, Mbah. Baik, sayain dulu, Mbah.
Bismillahirrahmanirrahim. Lailahaillallah Muhammad. Hei, hei, hei, hei.
Sini kamu, kamu sini, sini, sini, sini, sini. Aduh, anjing. Aduh.
Aduh. Kamu yang tenang. Kamu yang tenang.
Kamu yang tenang. Astagfirullahalazim. Allahu akbar.
Mbak, Bu. Astagfirullahalazim. Am yang tenang.
Am yang tenang. Jangan ke mana-mana. Tenang, tenang, Mbak.
Mbak tenang. Enggak usah takut. Enggak usah.
tidak akan membiarkan kamu pergi. Saya akan membawa kamu yang ber ee berwajib. Mbak ini mohon mohon maaf ya, Mbak.
Itu boleh enggak itu bajunya agak dirapiin gitu, Mbak? Biar saya nanti ngobrolnya enak karena di sini enggak enggak mukrim. Ya dira udah udah jenengan rapiin.
Iya. Bukannya saya mau gimana-gimana enggak ataupun ng hebbak kan kalau seperti itu nanti kita enaknya. [mendengus] Mbah, saya kelihatan enggak, Mbah, di kamera, Mbah?
E, kurang sini, Bar. Hah? Kurang sini, Mbah.
Ke depan, ke depan. Kurangan, ke depan sedikit. Sudah.
Saya paskan dulu. Eh, kamu ke jangan ke mana-mana? Iya, kalau enggak itu di tali aja itu di pohon itu.
Kalau enggak digantung aja itu, Mbak. Itu udah enggak bisa ke mana-mana kok, Bar. Iya, Mbah.
Asalamualaikum, Mbak. Atau Bu ini. Tenang, tenang, tenang.
[berdehem] Tadi saya enggak sengaja lihat jenengan di sini dengan orang apa yang memakai serba hitam itu sepertinya itu dia itu orang pintar. Apakah benar? Oh ya dan apakah benar jenengan datang ke tempat ini jenengan ingin berobat kepada manusia itu yang di mana jenengan mempunyai suatu penyakit ke sini.
Nah, jenengan kok bisa tahu bahwasanya tempat ini itu ataupun orang itu bisa menyembuhkan penyakit yang jenengan derita, jenengan tahunya dari mana? Dari anak anak murid jenengan. Berarti benar pengakuan dari makhluknya itu tadi.
Jadi gini, Mbak. Sebenarnya yang membuat jenengan sakit-sakitan seperti ini itu adalah murid jenengan sendiri. Tadi saya mendapat informasi itu dari makhluk yang dipelihara sama orang pintar itu tadi.
Murti jenengan itu benci dengan jenengan dan mur itu minta tolong sama seseorang yang minta tolong ini untuk membuat jenengan seperti ini ataupun mengundang jenengan seperti ini. Dan kemungkinan juga salah satu murid yang tadi menyarankan jenengan untuk datang ke sini itu adalah pelakunya seperti itu. Tapi jenengan jangan langsung apa ya?
Jangan langsung marah ataupun emosi sama murid jenengan itu. Jenengan di apa ya? seperti lebih hati-hati sajalah sama muridnya.
Itulah Mbak Bu nggih. Dan gini saya di sini mempunyai sarana media mustika apa ramuan Dewandaru ini ya. Mudah-mudahan nanti itu bisa meringankan atau menyembuhkan penyakit yang jenengan miterita dan bisa mengeluarkan energi positif yang di tubuh jenengan ini.
Karena penyakit yang jenengan cerita itu yang apa dibuat sama makhluk halus ataupun dari orang pintar itu. Coba diminum dulu, Mbak. Saya nanti saya akan coba bantu netralisir Pak Jenengan.
[mendengus] Sudah, sudah. Jenengan minumkan, Mbak. Lima tetes ya, Mbak ya.
Astagfirullahalazim. Astagfirullahalazim. Astagfirullahalazim.
Ya Allah, [mendengus] Mbah, itu ditahan terus ya, Mbah. Dukungnya. Iya, ini sudah enggak bisa ke mana-mana ini.
Pegangin, Mbah. Engak pegangin. Tenang aja, Bar.
Ini udah enggak bisa ke mana-mana kok, Bu? Sudah, sudah, jenengan coba minum. Ya gini ya.
Iya. Menurut pengakuan dari makhluk yang peliharaan orang pintar itu memang seperti itu saat ya. Tapi saya di sini juga tidak bisa apa ya, bisa langsung memfitnah ataupun bisa langsung menelan mentah-mentah pengakuan dari makhluknya itu.
Yang jenengan nanti coba gali informasi ke murti jenengan yang di mana murti jenengan itu menyarankan jenengan datang ke sini. Coba digali informasi dan coba di apa ya diselidikilah. [berdehem] Kalau memang memang benar itu ya jenengan jangan emosi, jangan marah ke murid itu.
Seperti biasanya aja seperti itu ya, Bu ya. Dan gini, ini kan sudah malam juga. Jenengan lebih baik pulang.
Saya mau mengurus orang pintarnya itu karena itu sudah apa ya? Sudah sudah melenceng dari keagamaan ya, Mbah ya. Yang saya takutkan tadi jenengan di sini itu dibuat enggak sadarkan diri, Bu.
Tadi yang saya takutkan nanti itu diapa-apain sama dukunnya ini. Karena sepertinya itu dukunnya itu bukan dukun apa ya? Dukunapa?
Apa? Hei, kamu jangan-jangan seperti itu. Kamu gak punya apa-apa.
Heh. Iya, Bu. Jenengan kan seorang guru, jenengan harusnya juga bisa berpikir lebih panjang lah.
Apa ya dukun-dukun seperti ini tuh di mana-mana itu dukun tuh kalau enggak nipu ya cabul ya, Mbah ya? Iya, cabul. Hei, ngapain kamu?
Kamu sudahudah enggak bisa apa-apa. Eh, kamu ngapain? Kamu ngapain?
Kamu ngapain? Kenapa kamu? Enggak, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan.
[menangis] Kamu takut? Ngapain kamu takut? Kamu ya harus berani tanggung jawab lah.
Alah alah. Apa gitu-gitu apa? Alah enggak mungkin tadi itu kamu buat enggak sadarkan diri kok.
Astagfirullahalazim. Sudah Mbah. Yuk mati aja kita bawa ini.
Ayo Bu. Kita majikan dulu aja ya. Kita bawa dukun ini ke yang berwajib aja lah ya.
Iya.