profile resiko, tingkat agresif dan bumper orang terhadap resiko tuh berbanding lurus dengan usia. Aku mulai belajar bahwa tidak terikat sama uang kemudian kayak anggap aja uang itu gini. Welcome to the Drgon Nest.
Oke, welcome back to part two of the dragon nest. Dan pada segmen kali ini kita akan menjawabkan beberapa pertanyaan pertanyaan-pertanyaan yang udah dilemparkan dari netizen-netizen tercinta, Bro. Oke, kita langsung mulai aja nih dari pertanyaan pertamanya ya.
Pertanyaan pertama ini sebenarnya nasehat buat retail yang suka HK pucuk. Cuma mungkin gua akan sedikit lebih elaborate ya. Mungkin yang lebih enak pertanyaannya adalah apa perbedaan HK pucuk lalu Rungkat gitu kan FOMO versus H berani HK di atas tapi tetap cuan ngikutin momentum gitu ya.
Apa tuh perbedaannya Bro? Kalau menurutku honestly ini agak tricky ya e Bro Emir karena sometimes aku pun HK pucuk. Nah karena kita melihat akumulasinya sudah bagus selama panjang ke belakang.
Ya. Jadi ketika itu momen mulai naik, wah ini saatnya jalan. Nah, sementara ada orang yang beli benar-benar diputuk di saat semua partisipasi rital sudah terlalu gede.
Ee market makernya sudah keluar. Nah, kebanyakan ritail ya itu beli di pucuk itu most likely karena satu FOMO. Heeh.
Jadi memang secara psikologis kita kan selalu di mungkin dengan dengan perkembangan media sosial selama ini 5 tahun ke belakang kita ngelihat orang punya ini punya itu ee pokoknya bounderis batasan terhadap privasi itu hilang ya kan. Jadi kalau dulu tuh rumah ada temboknya sekarang tuh kaca semua tuh kita bisa lihat orang punya apa, saldonya berapa, dia liburan ke luar negeri pakai bisnis class. Itu ngebuat kita punya psychology retail kebanyakan pengin juga enggak mau kalah pada intinya gitu.
H pengin apa yang dimiliki orang ketika naik 5%, 8%, 10% otomatis alam bawah sadarnya tuh kalau gua enggak beli gua ketinggalan. Jadi enggak nganalisa lagi tuh ini 8% titiknya sudah mahal apa belum. Ini naik 10% ada akumulasi atau enggak?
Nah, itu yang perlu di perlu diperbaiki. Jangan ngikutin jangan hanya ikutin emosi. Kalau seandainya naik naik naik contoh ini lagi naik 5% kita udah udah analisa ke belakang kita tahu target contoh target MSnya masih jauh itu simpel.
Yang kedua target teknikalnya ini baru breakout ya. Yang ketiga, oh ini kemarin tuh ternyata masih akumulasi jadi naik kita FOMO enggak salah. Benar.
Setuju banget kok. Kalau dari gua sendiri pun mirip-mirip jawabannya ya. Oke.
Kalau misalnya HK atas atau HK pucuk itu kita harus membedakan juga ya. Pertama ya apa itu pucuk, apa itu atas gitu kan. Kalau HK atas menurut aku itu ee dia itu harganya memang misalnya kayak dewa gitu ya.
Dewa kan awalnya 200 300 habis itu dia sampai 500 gitu kan. Ada yang bilang itu udah pucuk terata sampai 800 gitu. Ternyata sampai 800 kan.
Tapi kan at the time kita belum tahu tuh apakah itu apakah itu pucuk. atau belum gitu kan. Nah, caranya adalah yang tadi Kemnya bilang, kita lihat dulu narasinya tuh masih oke apa enggak, story-nya sudah jalan apa belum.
Lalu ketika dia sideways atau dia lagi turun konsolidasi lagi, ada yangak siapa yang beli gitu kan, apakah retailnya keluar gitu. Nah, biasanya kalau aku menemukan seperti itu dan emang ada akumulasi yang baik, storynya jalan, narasi oke, ketika dia pivot break out lagi aku hajar lagi. Aku juga kurang lebih begitu karena kalau beli simpan malas ya.
Iya, lama nung mendingan pegang cas deh. Nanti kalau udah naik flownnya gede, udah hajar tinggalin lebih enak gua setuju banget. Karena kalau kita beli 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dia set kita enggak tahu gitu capek.
Iya. Iya. Sedangkan kalau misalnya HK pucuk itu biasanya udah running ya kan tanpa ada base-nya dulu dia udah running ke atas dan yang kayak tadi Kemnya bilang lagi gitu kan.
Ah, gua enggak mau ketinggalan. Teman gua udah gain 50% nih. Ini masih naik terus nih.
Tanpa menganalisa pas dia naik tuh siapa yang naikin gitu kan. Karena kan enggak semua kenaikan itu sama dalam artian ada yang naiknya sambil akumulasi lagi, ada yang naik justru sambil buat barang. Iya, betul.
Dan itu yang harus diperhatikan ya. Dan itu yang membedakan banget apakah kalian fomo di atas dikarungin atau kalian berani hajar atas dan upside-nya yang masih banyak lagi gitu. Itu sih kalau dari kita ya.
Dan untuk pertanyaan selanjutnya nih, Ko. Pertanyaan selanjutnya mengenai Trump ya. Apakah IHSG bisa kena dampak dari Trump yang mengenakan tarif 10% kepada Eropa?
Kok tarif 10% Trump itu sama del negara ya? Salah satunya Jerman, Kanada terus yang terakhir Greenland mau diambil. Nah, Hestle efek langsung ke kita enggak ada.
justru efek paling buruk ya ke mereka karena eh itu akhirnya memunculkan uncertainty dan ini membuat kekhawatiran iklim investasi di sana ya. Nah, itu malahan yang sebenarnya ya kalau teman-teman perhatiin di era pemilihan Trump stock market, emerging market itu biasanya bagus. Volatil sih memang tapi ending well.
Jadi sebenarnya dari pergerakan Trump seperti ini pada intinya yang kalau kita lihat Trump ini ingin membuat negara Amerika tuh adidaya kembali. H dan kita bukan musuhnya Trump, bukan musuh utama lah. Iya.
Nah, musuh utama Trump tuh China. Kemudian saat ini dia lagi agak musuhan-musuhan sedikit dengan India. I kemudian dia mau nyelamatin Taiwan, dia mau nyerang banyak deh.
Dan itu justru ngebuat ada potensi capital outflow dari sana lari ke tempat lain. Which is emerging one of one of them is emerging market. H.
Makanya kita lihat 2025 kemarin mungkin kelihatan secara long itu netell IHSG tapi sebenarnya shifting tuh. Nah, e banyak foreign yang masuk ke Samong juga banyak banyak foreign yang masuk ke energi dan mineral. Contoh kayak MDKA, MBMA, I Arci, harta, BRMS ya.
Tapi memang old all all stocksnya mereka memang net. Hm. Jadi aku melihat memang ada shifting nih, ada ketertarikan asing terhadap komoditi kita.
Iya. Iya. Kalau dari point of view aku sih untuk tarif Trump 10% ini ya, dari Indonesia sendiri kan mitra dagangnya dari impor-ekspornya mainly bukan dari Eropa kan.
Kita paling paling gede China gitu kan. So, menurut aku kalau misalnya memang dikenakan tarif eh impact ke Indonesianya enggak terlalu besar dan kalau misalnya Trump tariffs in general kayaknya juga market udah udah price udah bosan udah bosan kayak ah elah kena blaf lagi kena blaf lagi gitu doang gitu ya. Iya nanti juga ujung-ujungnya jalan lagi kan ditarik lagi terampai di delay lah apa di apa gitu tarifnya.
Jadi ya intinya enggak terlalu besarlah ya dampaknya. Aman-aman aja. Lalu pertanyaan selanjutnya ni, what is the difference between both of you on risk management?
Kok wah gak tahu nih Emir gimana tapi kayaknya Emir cukup agresif nih. Aku agresif banget super agresif. Tadi aja dia bilang bersihin limitnya.
Bayangin limitnya dibersihin. Bayangin. Berarti udah limit nih posisinya nih.
Udah all in all in banget gitu. E kalau aku mungkin at certain point pertama aku sudah berkeluarga punya anak jadi aku udah enggak ngejar yang terlalu benar-benar gitu. Aku kayak led flow aja dan aku punya batas drawdown maksimalku tuh 10 sampai 15% dari equity atau per dari equity.
Jadi kalau aku punya contoh total equityku R miliar udah minus R juta bye bye deh. Istirahat deh. Kalau Emir gimana?
Kalau aku itu kan em mungkin dari strateginya dulu ya. Aku kan momentum and swing trading I dan portfolio itu portfolio aku itu super concentrated. Jadi isinya enggak banyak saham selalu maksimal tiga, mentok-mentok banget empat gitu.
Dan itu selalu hampir all in. Berarti satu saham 30% 50% kadang 100%. Yap ya.
Kalau bisa kayak kayak dewa gitu ya kemarin ya itu aku 100% gila plus limit. Nah berarti bayangin nih berapa nih gennya Emir nih gila pasti. Iya.
Karena itu aku perhatiin ya, kebanyakan memang profile resiko tingkat agresif dan ee bumper orang terhadap resiko tuh ee memang berbanding lurus dengan usia. Nah, nanti makin tua makin tua pasti makin kecil makin kecil gitu. Ini Emir karena masih muda momentum lagi bagus memang harus dimanfaatkan.
Benar. Yes. Di usia aku memang lagi muda lagi ngejar equity growth.
At the same time, I can afford to fail karena aku punya privilege dari orang tua. And I think that is the most expensive privilege is to fail. Karena enggak semua orang bisa fail berkali-kali lalu bangun lagi.
Bangun lagi. Ada yang dua kali fail udah selesai. Yes.
Betul. Jadi kalau dari risk management aku sendiri, aku itu I always say all in itu bukan risk management yang jelek. Position sizing itu bukan satu-satunya yang menentukan risk management.
Another part of risk management is also gimana caranya lu bisa dan tega untuk cuts secepat mungkin. Itu dia teman-teman harus ingat. Jadi Emir begitu all in pun kalau pasti sudah siap.
Kalau gagal di titik mana buang? Yes. Heeh.
Kalau misalnya aku lagi se all in-nya ya. Kalau Erik Emir berapa? ROI.
Oh, oke. Aku aku tuh biasanya kalau misalnya lagi olen-olennya banget gitu ya, misalnya Dewa kemarin kalau aku buy buy-nya kan selalu di titik breakout-nya kan di mana dia akan naik lanjut lagi either dia naik lanjut lagi atau sideways lagi gitu. Kalau misalnya dia langsung enggak rally itu langsung buang.
Aku langsung buang. Wah, lihat tuh. Padahal enggak beres tuh.
Cuman gagal breakout aja. Gagal breakout aja. Amanin duit dulu lah kayaknya gitu.
Iya. Karena kan memang aku juga punya prinsip yang sama sebenarnya. Max drawdown aku itu di equity equity aku mentok banget itu di 10%.
Ah oke. Karena kalau drawdown 10% ngebalikinnya kan cuman butuh 11%. Kalau misalnya 50% 100% iya kan?
Jadi semakin besar drawdown-nya semakin kita tersiksa untuk ngebalikin equity. Berarti berarti Emir kalau udah HK satu saham all in margin juga minus 3% 4% 5% buang berarti enggak nyampai 5% enggak mungkin. Nah hebat.
itu mentok-mentok tuh 2% 2,5% itu sudah mentok banget. Dan kalau nanti kalau gagal kita tahu sahamnya, kita tahu akumulasinya, mungkin sekarang gagal, kita cuma nunggu momen lain lagi. Berarti kayak bisa dua tiga kali beli, habis itu rally tinggalin.
Nah, ini yang teman-teman perlu catat. Masalahnya kebanyakan begini, Mir. Kan kita tiap orang tuh beresonansi terhadap uang.
Kita punya nilai toleransi terhadap uang tuh masing-masing. I karena emir begitu ketat 2 3% biasanya masalahnya ril tuh begini. naik 2 3% juga TP itu kalau emir nih tipikalnya profit run biar aja.
Yes. Jadi kalau loss cuma 2 3% uh dewa bisa sampai 100% kalau margin ya bisa 200%. Iya.
Nah itu yang teman-teman perlu catat. Kebanyakan tuh orang begitu dia dia equal Mir. Contoh dia punya uang R miliar dia takut hilang R juta.
H jadi begitu profit Rp00 juta pun dia takut profitnya hilang. Jadi buru-buru di takingaking profit. Jadi naik 10% buang.
Udah benar benar banget. H kita harus punya toleransi kayak plep gua udah profit Rp300 juta nih. Itu nilai pun gede bagi kita.
Kita harus belajar terbiasa sama uang itu. Yes. Biarin aja.
Biarin aja. Masih lanjut. Masih lanjut.
Kalau kita over over apa? Over euforia nanti dari Rp300 juta turun jadi 250 tuh jual. Yes.
Enggak berani beli lagi. Lalu naik lagi lanjut-lanjut. Oh sampai 800 sampai berapa?
Nah mungkinlah dewa 1. 000 mungkinlah ya. Dan sampai 1000 tetap cuman bisa lihat cuma jadi part of de gitu.
enggak berani beli lagi. Iya. Sama dari aku sih aku juga berpegang teguh ya dengan prinsip kalau misalnya aku trading jangan pernah dilihatin uangnya berapa.
Nah, very good very good. Karena kalau misalnya kita trading sih aku all in dewa ya kemarin gitu di harga sedikit under 500 kayak 49 berapa gitu average-nya kan. Kenapa aku enggak TP?
Kan ini kan all in limit nih posisinya. Dewa naik 10% itu kan equity growth aku enggak 10% kan di 20 30% gitu 20% 25% 30% gitu. Cuma never mind the money.
Aku selalu objektif ke sahamnya aja. I walaupun aku udah gin gede. Walaupun ginnya udah gede kalau sahamnya masih bagus ya ya udah why take profit now?
Aku enggak peduli sekarang uangnya berapa yang udah floating gitu kan. Selama sahamnya bagus hajar terus biarin aja lupakan aja posisi kita gitu gitu. Lupakan aja duit kita.
Iya. Dan ketika kemarin tuh Dewa di berapa tuh? Udah mulai 800-an kan?
800 sudah mulai sideways. Habis itu keluarlah ee data SID. Sid-nya di bulan itu nambah Rp50.
000 retil. Betul. Jadi aku udah itu kan pertanda sudah mulai distribusi kan.
Nah, itu aku udah mulai clear limit. Aku clear limit tiba-tiba IHG-nya flash crash tuh yang 2,5% bersih jadinya 2,5% rebound bersih semua. Itu berarti Emir dapat 110% tuh.
110 120 lah. Sekitarlah. Sekitar.
Iya. Gini Mir, aku pernah satu ruangan satu room dengan your dad. Hm.
Ada satu kalimat yang bagus banget your dead ngomong. Eh, this is eh dia bilang ini bakal bakal jarang diomongin orang, tapi just try to use leverage when the market bull because the moment when market bull is very rare. Kalian harus ambil kesempatan itu.
I I think your death lesson is ditangkap baik sama kamu. Iya. Harus berani risk gitu.
Ambil resiko di waktuin tempat gitu kan. Iya, betul. Iya iya iya iya.
Dan kalau misalnya dari sisi risk management ada juga aspek diversifying ya. Kalau dari KOMnya ada enggak diversify? Diversify ya.
Tapi diversify juga maksimal 5 saham itu diversify enggak ya? Diversify sih lumayan kalau untuk aku ya. Cuma enggak tahu ya untuk orang lain aku 3 5 3 cuma ke aset kelas lain ada enggak juga?
Enggak ada. Full saham. Full saham aja.
Full saham. Full saham aja. Oke mantap.
Berarti bisa dibilang juga lumayan agresif juga ya. agresif karena kita yang tiap hari lihat sahamnya kita ngerti lebih ngerti lah ya dan itu ningkatin confidence sama conviction kita pelan-pelan. Nah, jadi teman-teman tuh kebanyakan ya mereka conviknya minjam.
Emir bilang dewa bagus padahal dewa di 800 sudah jual mungkin nanti di 500 beli lagi. Mungkin bisa jadi gitu. Kalian teman-teman yang HK di 800 turun ke 500 berarti cut loss gitu loh.
Benar banget. Convictionnya minjam tapi apa strateginya enggak disesuaikan salah. Iya benar benar.
convictionnya minjam karena enggak ngerti story atau narasinya mungkin ya dan enggak tega cutlos. Enggak tega cutlos. Enggak tega cutlos.
Menurut aku itu skill yang paling penting sih kok kalau misalnya dalam dunia trading ya. Tega cutlos itu wajib. Penting penting wajib.
Karena enggak ada di trader di dunia ini menurut aku yang enggak pernah cut. Investor juga enggak pernah. Pasti ada.
Cutl is a part of the game. Dan itu adalah how you survive kan. Heeh.
Kalau misalnya enggak tegaan cut ya, at some point pasti bakal nol habis. Yes, nol saldonya pasti menurut aku kalau gitu sih. Ya, next question terakhir tentang risk management.
Oke. Ee ini ada pertanyaan apa yang menjadi titik perubahan terbesar atau turning point dari KOMY nih dari I hidup tradingnya sehingga sekarang eh apa equity growth-nya bisa naik terus compounding compounding sampai kayak gila-gilaan kayak sekarang nih. Aku tuh pernah di momen seperti ini Mir setiap aku dapat hasil trading aku timpuk hilang.
Hm. Habis itu trading lagi, ada di satu titik timpuk hilang lagi. Dan aku sadar bahwa aku terlalu terikat sama uang itu.
Kebanyakan orang kan basic mereka bisa mau masuk ke stock market. Contoh kayak sekarang banyak orang baru yang di stock marketnya. Basicnya tuh selalu mikirnya gini, pengeluaran dia sebulan R juta, dia pengin dapat R juta aja tiap bulan cukup.
H itu kita tidak akan bisa berkembang dengan seperti itu. Itu aja udah result oriented kan, udah mikirinnya duit. Yes, you will get pressure by expectation dan enjoy.
Nah, jadi begitu aku mulai enjoy sama prosesnya, semua uangku yang ada di dalam portofolio aku anggap itu cuman angka atau enggak ada. Anggap sama banget. Sama banget.
Iya. Anggap aja nih demo account. Iya.
Karena contoh biaya hidupku enggak begitu gede. Contoh R juta sebulan. Begitu aku los Rp50 juta pasti begini dek.
R juta dek dek dek. Padahal 100 juta cuman karena aku salah posisi. Cuman karena market memang lagi jelek, sahamnya masih bagus.
Harusnya kita tambah. Tapi pas kita tambah itu lossnya bisa jadi R00 juta. Biaya bulananku cuma R juta.
Begitu kita ada komparasi seperti ini, kita enggak akan make sense dalam mengambil keputusan. Jadi just aku mulai belajar bahwa tidak terikat sama uang. Kemudian kayak anggap aja uang itu game atau uang itu apa?
Trading itu game atau uang itu kayak enggak ada apa-apanya. Karena kebutuhan kita cuman kopi sama air sama makan. K ya enggak sih?
Iya terlalu gede-gede amat. Nah, begitu kamu bisa melakukan itu akhirnya aku bisaing makin gede makin gede makin gede dan gak ada niat untukku kayak yuk habisin duit ini ke mana. Enggak ada.
Just like just a number. I kalauir gimana? Setuju banget kok.
Aku juga lumayan turn around itu setelah aku bisa eh figure out caranya gimana caranya aku bisa emotionally detach sama uang atau angka yang ada di RDN aku. Karena kalau misalnya let's say di RDN aku sekarang gitu ya aku ngelihat 1 M itu relatively small menurut aku. Aku itu kelihatannya kayak ya 1 M gitu kan.
Cuma beda cerita kalau misalnya 1 M aku withdraw masuk ke BCA itu aku ngelihatnya buset. Gil, banyak banget duit gua. Gimana habisinnya nih?
Iya. Iya, gitu. Jadi kayak I think the most eh important lesson juga untuk eh teman-teman ya kalau misalnya masih trading, habis itu melihat loss ataupun gain juga misalnya ada gain atau loss R juta gitu kan senang gitu kesenangan langsung dihubung-hubungkan nih biasa biasanya bisa beli ini, bisa beli itu.
Yes. Kayak wah gila ini gua hampir kehilangan Avanza. Iya betul betul betul.
R juta bisa buat biaya anak gua sekolah, bisa buat ini, bisa buat itu. Itu problem utama tuh. Dan itu kan yang mengganggu ee decision making kita kan.
Decision making kita itu jadi selalu lebih berpatokan kepada emosi dibandingkan ke logika dan objektif gitu. Dari aku sih gitu sih kok yang very game changer chang dan kalian masih usia muda bisa kontrol kayak begini. Hebat loh.
Most likely orang yang sudah tua-tua 30 40 aja masih enggak bisa. H masih masih kayak her life eh hidupnya punya expand spending itu masih dikait-kaitkan dengan hasil trading. Iya iya iya.
Dan memang aku juga kebantu sih soalnya dari dulu kan aku suka main game. Ah dan di setiap game ini selalu ada aspek tradingnya kayak ekonominya gitu di dalam game-nya kan ada uang ada gold atau apa gitu. Iya.
Dan di situ aku juga selalu trading gitu loh. Selalu trading, trading, trading. Jadi secara enggak langsung dari kecil otak aku udah disappe bahwa trading itu kayak main game aja.
Itu kayak adjust a character that you play. Iya. Iya.
I ya. Dan itu luar biasa useful sih. Very good.
Kita lanjut ke next question nih, Guys. Next question-nya. Oke, ini tadi udah geopolitical juga udah.
Oke, pertanyaannya cara average up yang baik dan benar itu seperti apa? Kok Nah, agak menarik nih si pertanyaan ini. Most of our investor itu kejebak sama psikologi untuk beli selalu yang murah.
Hm. Kalau seandainya aku sudah pernah beli dewa di 100, di 500 enggak berani beli lagi. Aku pernah beli di 100, kenapa aku harus beli di 500?
Ya, maunya jual ya karena udah udah cuan ya. Padahal itu yang harusnya dilakukan. Artinya kalau seandainya kalian merasa naik 100% itu sudah mahal, artinya kalian tidak akan pernah bisa melipatkan uang kalian sampai berpuluh-puluh kali lipat dong.
Ya kan? Nah, itu kalian sudah punya psikologi mental yang salah. Itu satu.
Kedua, cara untuk menanganinya tuh gimana? Coba deh, Teman-teman, yang udah cuan 100% iseng aja coba contoh R miliar jadi 2 miliar. Jual semua sahamnya, beli lagi plus.
Tapi 2 miliar belinya. He. Plus jadi 0% ya.
Floating profit dari 100% jadi 0%. Tapi sama enggak? Sama aja nilainya sama-sama 2 miliar.
Sama. Sama. Iya kan?
Nah itu coba deh lakuin. Bedanya cuma di psikologinya aja. Psikologinya aja aja.
Jadi orang ngerasa kayak gua udah pernah beli di harga 1. 000 sekarang R. 000.
Gua kalau udah jual mau beli lagi harus di 1. 000 lagi. Ini balik 1.
000 sudah beres biasanya. Iya. Nah, itu coba deh jual lalu beli lagi.
Coba kalian lihat, rasakan gitu loh. Oh, ini sama aja cuman enggak enggak keren aja. Iya.
H itu satu. Itu dua. Yang ketiga, try to average up dengan forget your first position.
H. Jadi, udah beli dewa di 100 berhasil naik 200, lupakan ya. Make your new position dengan lupakan posisi yang 100 itu.
I gitu. Oke. Kalau dari aku sih ya K ya average up itu well first menurut aku average up itu penting.
Tapi kalau untuk average down aku enggak pernah lakuin. Karena in my opinion average down itu strictly for investors. Kalau misalnya dengan strategi aku yang momentum dan swing average down.
Average down doesn't make sense ya kan. Makanya aku 2% 3% cut loss gitu loh. So ya bertolak belakang kalau misalnya aku cutl segitu tapi average down juga kan.
Kapan cutlnya kalau gitu habisnya. Jadi ya kalau dari aku eh average up dengan yang baik itu adalah ketika pertama kita harus identify dulu misalnya kayak dewa ya. Dewa dari 200 naik ke 500 gitu.
Terus sekarang kita nanya nih, apakah ini waktunya average up atau taking profit gitu kan. Dan kalau mau average average up pun kita eh cari harga apa karena kan biasanya dia sideways gitu kan. Kita average up-nya apakah buy on breakout atau ikut ngumpulin di bawah apa gimana gitu kan.
Kalau aku sendiri biasanya aku butuh ee beberapa data dulu. Pertama, apakah ketika sahamnya sudah naik dia itu sideways atau dia pullback ya kan beda kan. Kalau sideways kan dia ranging kalau pullback dia turun gitu kan.
Nah aku perhatiin nih kalau misalnya sideways aku perhatiin pertama level apa yang paling dijaga oleh ee Pak Sopirnya. Iya. Dan ini enggak enggak selalu kelihatan di chart ya.
Heeh. Heeh. Karena bitnya tebal belum nyentuh.
Ya udah ini ini enggak selalu kelihatan di chart. Jadi emang harus perhatiin bit over gitu. Yang kedua, of course eh broker summary-nya.
Siapa yang jagain harganya, siapa yang ngumpulin? Apakah retail participation-nya udah banyak di situ, gitu kan. Kalau retail participation-nya udah banyak ee tungguin dulu retail-nya keluar baru hajar lagi gitu.
Dan kalau misalnya dapat suatu titik bit over di bawah misalnya kayak dewanya lagi ranging di harga 400 sampai eh 480 sampai 500 gitu. Mungkin aku cari-cari nih oh di sekitar 484 nih ya ada yang selalu tiba-tiba kalau mau turun ada yang bit lagi Rp100. 000 bit lagi Rp100.
000 gitu. Nah di situ pun aku ikut ngumpulin. Ah oke.
Ikut ngumpulin. Oh berarti Emir ada ngumpulin juga setelah breakout. Tapi setelah breakout.
setelah breakout dan itu yang aku lakuin sekarang sih ya, cuma kalau misalnya not sure apakah ada ee ada titik tersebut, aku selalu cuma nunggu pivot selanjutnya. Pivot selanjutnya ketika dia tiba-tiba break out lagi, high volume udah keluar dari range sideways-nya baru hajar lagi. Nah, ini yang kadang orang eh orang enggak bisa Mir.
Contoh tadi kamu bilang 480 kemungkinan ada yang jaga. Kita masih 50-50 gini kan. Heeh.
Kita tiap hari lihat 480 beli enggak ya? Beli enggak ya? Besok 500 ya.
Dia enggak berani beli tuh 500 tuh. Karena ngerasa 480 murah. Kenapa aku enggak beli di 480?
Kenapa aku bego beli di 500? Padahal enggak seperti itu. Iya padahal enggak ada begitu di market.
Enggak begituan. Iya setuju banget sih. Setuju banget.
Setuju banget. Setuju banget. Kalau K MY sendiri juga main average down atau gimana?
Aku ter average down aku tuh adalah begini Mir. Contoh ee aku mau ngumpulin dewa sampai 5 miliar. Contoh baru beli R miliar turun aku beli lagi R miliar.
Oh. Kalau dalam perjalanannya kalau aku baru beli R miliar dan sudah naik mau enggak mau average up. Oh oke.
Berarti average down dalam konteks bahwa akumulasi masih ngumpulin ya akumulasi karena enggak semua saham bisa langsung sekali jebret gitu kan ya kan. Oh i ya paham paham paham paham. Oke pertanyaan berikutnya.
Oke, bolehlah kita spill-spill dikit nih ko untuk watchlist sektor di 2026 ya. Kalau sektoral pertama Konglow kan masih oke cari. Kemudian commodity play juga oke carilah Konglow yang punya saham komoditas.
Aku MR nih Nikel Play juga masih oke. Kemudian ee energy ya gas oil. Tapi yang punya Konglo.
Kemudian saham-saham kecilnya Konglo lah kan lebih lebih gesit pasti. Oke. Oke.
Berarti ee fokusnya masih di komoditas ya? Masih di komoditas. Komoditas favoritnya apa?
Kok sekarang? Nikel. Nikel ya.
Oh menarik. Soalnya dari kemarin pasti kalau ee ngobrol-ngobrol sama banyak orang pasti antara gold nikel. Kalau enggak gold itu favoritnya mereka ada di udah sih gold aja.
Oke. Iya memang soalnya gold juga yang ya He gimana turunnya gitu loh. Kayak geopolitical begini ada yang buying terus silver juga naik gila gitu kan.
Jadi ya emang topik semua orang sih untuk komoditas gold ya untuk sekarang ya. Cuma kalau dari aku, aku itu sekarang sedikit kontrarian ya. Kalau maksudnya kalau kalau komoditas, yes, aku agreing tapi sahamnya udah malas kali ya.
Udah tinggi. I betul betul. Kayak soalnya kan aku juga selalu nyarinya yang baru pivot nih dari range sideways baru pivot lalu momentum gitu.
Jadi apa nih Mir? Kalau aku sendiri sekarang for now aku lagi avoid saham-saham yang berhubungan dengan yang end goal-nya adalah MSI inclusion di waktu dekat Februari atau Mei. Iya udah dekat soalnya.
Iya kan itu aku lagi sedikit avoid main sih main cuma maksudnya enggak enggak seagresif biasanya gitu. Ee jadi sekarang aku lagi shifting ke saham-saham yang pertama enggak betting on MSI inclusion. Yang kedua foreign participation-nya itu enggak terlalu besar.
Oke. Karena menurut aku ada ris kalau misalnya geopolitical ini escalate kabur. Yang pertama kabur pasti foreign ya kan.
Jadi ambruknya akan cepat gitu. Itu yang kedua. Dan yang ketiga adalah eh masih di saham Konglo.
Tapi yang enggak ada dua dua reason ini sebelumnya. E berarti masih jauh dari MSCI. Masih jauh dari MSCI dan foreign foreign participation-nya dikit ya.
Setuju itu. Nanti dia gedenya pas sudah naiklah. Iya betul betul.
Jadi ya itu sama mungkin aku juga lagi suka blue chip banking kita ya. That's good. That's good.
Itu itu good point. Bank Mandiri, BRI, BNI, Telkom, Astra. Sekarang juga blue chip kita naiknya udah kayak naik second liner kan 5% 5% 5% 3% jadinya.
Apalagi kalau mainnya pakai margin. Iya. Lebih enak lagi nyamak tenang juga mau keluar berapa pun bisa.
I. Iya. Keluar masuk gampang.
Super liquid naiknya bisa 3% 5% sehari. Good point. So, I think juga dari sisi asingnya pun ya menurut aku kalau aku di sepatu mereka daripada hajar saham Kongl terus yang ada resiko MSCI dan resiko globalnya juga I think it would be a safer B untuk masuk ke saham-saham blue chip lagi.
Karena ya selama ini sudah ditantarkan juga kan ada dividen lagi dividennya lumayan ya. Iya. UT coba Deviden tahun ini berapa berapa dari dia punya gold dia punya tambang gold lebih gede dari BRMS loh.
Tahun lalu sekitar 78% mungkin tahun ini bisa double digit. Oh menarik. Dan kalau cek IT 3 bulan ke belakang akumulasi foreign sudah 2 triliun.
I see. Menarik menarik menarik. Nanti aku cek deh.
Siap. Ee oke kita satu pertanyaan lagi nih. Ko.
Pertanyaan terakhir Ko. Heeh. Ada yang menanyakan kenapa isu-isu danantara ini sekarang contohnya di stimulus tekstil, lalu ada project PTE gitu kan yang 400 triliun.
Kenapa mereka ini ngaruh banget di ASG ya? Oke, you can believe me or not, but I know that MSGI itu very positive into Danantara. H they look Danantara is like Temasc in Singapore.
Oke. Jadi image Danantara di mata mereka tuh positif banget dan mereka pengin banget e sebenarnya mereka juga sadar kalau BUMN kita kan selama ini banyak masalah. Jadi, Danantara itu memang harus dijaga banget danantara.
Hm. Jadi itu alasan kenapa kalau kita baca report terbaru dan antara ya they really bullish on commodity to ya. Jadi kita mereka memang mau ada program hilirisasi kemudian nikelnya mau di cut off produksi supplynya mau dikurangin kemudian timah yang selama ini iler illegal mining mau dikembaliin ke tetes ini harga ini bakal oke.
Jadi danantara is a very positive di mata forin mungkin di mata kita masih acak ya 5050. Iya, karena ya bad experience sama yang sebelum-sebelumnya ya. Tapi but I can say that our our institution our government institution yang ini is interesting karena berbeda h berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya.
Oke. Mereka very carefully juga kita lihat tindakan-tindakan mereka very carefully loh. Enggak serampangan kan.
Iya. Oke, mungkin itu dulu teman-teman semua. Thank you, thank you banget semuanya udah nonton.
Semoga sangat-sangat bermanfaat dan thank you sekali lagi K MY sudah datang ke Drgon Snash dan memberikan pencerahan kepada investor-investor ritail kita ini termasuk aku ya. Ditunggu lagi eh episode Drgon Snash selanjutnya karena kita akan selalu undang eh guest-gestar kita semua belajar. Sekali lagi thank you.
Semoga bermanfaat. Stay one, jangan sampai digebukin sama market dan semoga equity growth akan selalu bertambah. Thank you semuanya.