Saya memerlukan 10 arsitek yang menjadi tenaga pendamping pemerintah daerah. Oh. Dan insyaallah aman itu, Pak.
I ada kontraknya, Pak. Aman, Pak. Iya.
I iya. Iah, bisa dikirim. I.
Nah, ini Pak Zul ini adalah direktur ee pengabdian masyarakat dan Layanan Kebakaran. Sekarang ini sebetulnya sibuk ya. Saya tidak memerlukan pengabdian masyarakat.
Saya memerlukan pengabdian selamanya, Pak. Ya. Jadi, jadi ee biasanya dievaluasi ulang seluruh tata ruang dan tata kelola bangunan di seluruh daerah didasarkan pada sifat tanah, sifat air, sifat udara, sifat mataharinya.
Ini problem. Saya minta perencana jembatan, perencana jalan, perencana irigasi, bendungan, bangunan sebanyak-banyaknya dari ITB biar gambarnya selesai semalam, Pak. Luar biasa PR-nya.
Mungkin sih kita kita sehari semalam, Pak. Jadi sangur ya. Siap.
Baik ya. Mungkin sambil tim logistik bersiap-siap ya. Silakan.
Wah, sudah ada musik-musik Sunda ya. Tadi Bu Yunita juga sudah menyampaikan bahwa kita akan kedatangan salah satu tokoh penting di Jawa Barat, Jabar 1 datang ke acara Indonesia Green Connect 2025 dan ini akan menandai sesi kolaborasi hijau antara Provinsi Jawa Barat dengan Institut Teknologi Bandung. Dan Bapak dan Ibu, ini merupakan sesi untuk menggali potensi dari kolaborasi antara pemerintah Jawa Barat dan juga Institut Teknologi Bandung.
Kepada panitia, [Musik] apakah ada kita langsung saja? Baik Bapak dan Ibu mohon untuk dapat berdiri kita sambut selamat datang kepada Bapak Dedi Mulyadi selaku Gubernur Jawa Barat. Terima kasih banyak atas kehadirannya Bapak.
Luar biasa. Semoga Bapak sehat. [Tepuk tangan] [Musik] Baik, Indonesia Green Connect ini merupakan acara kolaborasi antara Energi Akademi Indonesia dengan DKST ITB yang mana menjadi forum bertukar pikiran dan juga berdiskusi bagi para pemangku kepentingan yang berorientasi untuk pembangunan berkelanjutan.
Baik Bapak dan Ibu [Tepuk tangan] ya, kita akan lanjutkan sesi kita di sore hari ini. Sesi ini merupakan sesi kolaborasi hijau antara Provinsi Jawa Barat dengan Institut Teknologi Bandung. Sudah hadir di tengah-tengah kita Bapak Dedi Mulyadi selaku Gubernur Jawa Barat.
Tanpa berlama-lama, langsung saja kita undang untuk maju ke atas panggung Bapak Dedi Mulyadi, Gubernur Provinsi Jawa Barat. Kepada Kang Dedi kami persilakan. [Musik] Bapak Dedi Mulyadi merupakan Gubernur Provinsi Jawa Barat yang juga pernah menjadi Bupati Purwakarta sejak tahun 2008 hingga tahun 2018.
Beliau juga pernah menjadi anggota DPR RI dari tahun 2019 hingga tahun 2023 sebelum pada akhirnya menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat tahun 2025 hingga 2030. Selanjutnya saya juga dengan segala hormat izin mengundang untuk dapat naik ke atas panggung Prof. Dr Ir.
Tata Cipta Dirgantara, MT selaku Rektor Institut Teknologi Bandung. Kepada Prof. Tata.
Oh, masih salat. Baik, mungkin kita bisa berdiskusi terlebih dahulu. Mohon izin, Kang Dedi.
Saya yang akan memandu. Nama saya Novita, Kang Dedi. Baik, ya, rekan-rekan.
Jadi, di sesi kali ini kita akan berdiskusi terkait dengan potensi kolaborasi antara Provinsi Jawa Barat dengan Institut Teknologi Bandung. Kang Dedi puntennya. Jadi terkait dengan kolaborasi hijau, menurut Kang Dedi apa tantangan utama dan peluang terbesar dari Jawa Barat dalam mewujudkan pembangunan daerah yang memang mohon izin I selamat datang Prof.
Tata Cipta Dirgantara selaku Rektor ITB. Tepuk tangan kami persilakan duduk. Prof.
Mohon izin tadi saya sempat sudah memulai acaranya terlebih dahulu ya. Baik, Kang Dedi. Kita lanjutkan, ya.
Jadi tadi pertanyaannya adalah apa tantangan utama dan peluang terbesar bagi Jawa Barat dalam mewujudkan pembangunan daerah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan? Ee terima kasih ya. Saya tidak menyebut satu persatu langsung karena waktunya terbatas.
Yang pertama saya ini filosofi ini selalu makai dari cara berpikir barat ya. Saya orang Sunda konsisten pada nilai-nilai. Konsepsi pembangunan dalam filosofi Sunda itu kalimatnya sederhana.
Ciri sabumi cara sadesa. Jawadah tutung biritna sacarana sacarana lain tepak sejen eagle. Apa itu artinya?
Bahwa pembangunan itu harus melekatkan manusia pada empat hal. Manusia harus melekat pada tanah, manusia harus melekat pada air, manusia harus melekat pada udara dan manusia harus melekat pada sinar matahari. keempat ini akan melahirkan sebuah energi.
Nah, energi itu akan melahirkan efisiensi. Harus cepat saya. Nah, efisiensi selalu dipahami oleh kita itu dalam memahami statistik belanja.
Saya misalnya merealokasi anggaran eh perjalanan dinas diefisienkan, direalokasikan, studi banding direalokasikan, beli baju direalokasikan, kemudian belanja ee rapat-rapat di hotel realokasikan. Tetapi di balik itu sebenarnya kita mulai pembangunan itu ada kesalahan. Kesalahannya adalah membangun daerah Jawa Barat tidak memakai culture Jawa Barat.
Karena tidak memakai culture Jawa Barat, pembangunan di kita kecil saja. Dari sisi arsitektur saja, kantor di pantura sama dengan kantor di Kota Bandung. Kantor di Kota Bandung sama dengan kantor di Kota Bogor.
Kantor di Kota Bogor sama dengan di Cirebon. Desainnya sama, Ded-nya sama, arsiteknya sama, RAB-nya sama. Apa yang terjadi?
Ketika manusia dilekatkan pada sebuah bentuk bangunan yang itu tidak sesuai dengan habitatnya, maka yang ada kegelisahan. Kegelisahan itu bisa dilahirkan satu, ruangannya tidak nyaman. Yang kedua, tidak connect.
antara diri dengan lingkungan. Sehingga kalau kita ingin melakukan perubahan mendasar untuk kepentingan Indonesia, Jawa Barat, Green masa depan yang terkoneksi, yang melahirkan efisiensi, sudah semestinya sekarang dievaluasi ulang seluruh tata ruang dan tata kelola bangunan di seluruh daerah didasarkan pada sifat tanah, sifat air, sifat udara, sifat mataharinya. Ini problem.
Ini problem pertama. sehingga apa yang akan dikerja samamakan dengan ITB saya sudah menantang sejak bertemu. Sudah semestinya ITB sekarang mengembangkan penelitian kewilayahan.
Dari penelitian kewilayahan melahirkan tata ruang kewilayahan. Dari tata ruang kewilayahan melahirkan tata kelola pembangunan pedesaan dan perkotaan kewilayahan. Dari tata pembangunan perkotaan dan pedesaan kewilayahan melahirkan tata arsitektur kewilayahan yang ciri sabumi.
Itu kenapa? Coba mari kita hitung. Saya nantang ITB untuk melakukan riset.
Kota Bandung itu dingin. Kenapa pakai AC? Karena bangunannya dibuat menjadi panas.
Kemudian di daerah yang panas, bangunannya dibuat menjadi pendek. Coba hitung berapa inefisiensi penggunaan pendingin ruangan di seluruh wilayah Jawa Barat yang itu menggunakan perkantoran. itu yang pertama energi.
Yang kedua, bangunan di kita nyari sudah tidak menghormati matahari. Karena tidak menghormati matahari, maka mataharinya itu dianggap sebagai bentuk sesuatu yang tidak dibutuhkan. Padahal Quran itu sudah menjelaskan orang yang tidak bersyukur terhadap nikmat Allah, maka dia akan diberikan azab.
Azab itu inefisiensi, B saya. Nah, kenapa akibat seluruh bangunan itu menutup diri dari sinar matahari bahkan tanpa jendela atau tanpa ventilasi sehingga setiap hari seluruh pegawai, seluruh anak sekolah diperlakukan seperti ayam boiler. Apa itu?
Harus mendapat cahaya lampu ketika siang agar pertumbuhannya baik. Coba hitung berapa energi yang dikeluarkan dari menghindari tenaga matahari untuk kepentingan sekerat aja ruang pendidikan dan ruang perkantoran saja. Nah, itu.
Kemudian yang ketiga adalah pemanfaatan energi itu terlalu lama kita abai terhadap sampah. Sampah dipahami sebagai musibah, tetapi tidak dipahami sebagai energi. Pengembangan teknologi selalu dipahami terlalu hightech, berbasis modal besar triliun, ratus miliar.
Padahal menurut saya ini tantangan ITB. Saya nantang ITB enggak usah jauh-jauh. ITB silakan bikin pengelolaan energi berbasis sampah di lingkungan kelurahan kampus ITB saja.
Berapa costnya saya biayain pemper biayain dan ciptakan kelurahan yang di samping ITB itu ramah lingkungan. Nah, di sinilah peran perguruan tinggi tidak menjadi menara gading. Contoh, di ITB banyak ahli tata kota, di TB banyak ahli lingkungan.
Saya lihat kampus yang di Jatinangor. Jatinangor sudah dinobatkan sebagai pusat pendidikan Jawa Barat, kota pelajar, kota mahasiswa. Tiap hari pasti ada mahasiswa yang tertabak bis.
Kenapa warungnya berantakan? Tempat pengelolaan sampahnya tidak ada. Kemudian sebrakcosnya beraturan, lampu traffic light-nya tidak berjalan dengan baik.
Mobil truk toronton bis setiap hari lewat. Kalau jam . 00 pagi berebut nyawa dengan para mahasiswa IPDN, UNPAN, ITB.
Nah, sehingga mari kita bersama-sama saya orangnya terbuka. Tahap pertama benahi sekitar kampus. Ini nih ITB di sini.
Yang kedua, kalau berkomitmen ITB jadikan dan tata kawasan Jatinangor menjadi kawasan terpelajar, terbersih, teratur, dan tidak ada korban jiwa dalam setiap tahun karena kecelakaan. Karena ilmu itu harus aplikatif, harus nyata, bukan hanya melahirkan gagasan yang dalam tesis atau disertasi. Nah, ini yang menjadi tantangan.
Nah, terakhir teknologi. Hari ini kita ingin nembangin pangan, cari benih terbaik aja susah. Hari ini kita ingin ngembangin pangan, ngatasin keong aja sampai sekarang enggak selesai-selesai.
Hari ini kita ingin ngembangin pangan, drone aja yang drone yang digunakan untuk teknologi pangan itu enggak efektif. Banyak yang tidak efektif. Lebih bagus yang manual.
Kenapa banyak yang terlewat, kurang rapi? Saya kan pernah pakai karena saya petani. Nah, kemudian teknologi pangan berkaitan erat dengan apa?
Dengan warisan leluhur yang disebut dengan ekosistem pertanian. Ekosistem pertanian itu apa sih? Petani itu akan kaya karena punya sumber energi.
Petani tidak akan pernah kaya selama pupuk beli. Tetapi kalau petani di hulunya itu ada peternakan, perikanan, kemudian pengendalian kawasan pertambangan di daerah hulu ini yang menjadi e konsern saya selama ini. Ini akan menjadi circle ekonomi.
Kenapa? berproduksi pertanian pangan misalnya, maka dia akan suasembada daging, maka dia akan suasembada telur, maka dia akan suasembada energi. Karena saya pelaku di lingkungan RT enggak ada lagi yang pakai gas LPG 3 kg.
Semua sudah tersubsidi dari peternakan yang saya bangun lewat gas yang disalurkan ke setiap rumah. Nah, teknologi-teknologi yang sederhana seperti ini, ini akan mengefisienkan belanja masyarakat. Karena problem ekonomi Indonesia, upah naik, pendapatan naik, gaji naik, enggak akan punya arti kalau apa?
Kalau pendapatan publik itu besar. Besar untuk apa? Belanja gas, belanja transportasi, belanja minyak goreng, belanja beras, belanja jagung, belanja pakaian.
Kalau seluruh silkel itu dalam teknologi tepat guna yang nanti kita kerja samamakan di setiap wilayah itu sudah terbangun dengan baik, saya tuh meyakini Indonesia Jawa Barat itu masyarakatnya akan subur, makmur, gemah, ripah, repeh, rapi. Dalam bahasa terakhirnya adalah reaketan. Reak keton buncir leuit, loba duit.
Bru dijuru, bro dipanto. Ngalayah di tengah imah. Di pipir aya si jabrig, di kolong aya si jambrong.
Naparango, aya si jago. Apa itu artinya? adalah sistem teknologi berbasis lingkungan, melahirkan ketahanan pangan, ketahanan lingkungan, ketahanan mental, dan mampu menjadi daerah yang otonom, daerah yang mandiri.
Saya ucapkan terima kasih. Terima kasih banyak. Tepuk tangan.
Luar biasa filosofi Jawa Barat. Ya, saya izin bergeser ke Prof. Tata Cipta, Prof.
Gimana? Jadi, bagaimana ITB sebagai institusi akademik dapat berkolaborasi dengan pemerintah Jawa Barat dalam mengatasi tantangan yang tadi sudah disebutkan oleh Kang Dedi? Mangga, Prof.
Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat sore, Pak Gubernur dan Bapak Ibu semua.
Ee jadi ini tadi saya nyatat banyak sekali yang disebutkan oleh Bapak saya juga PR-nya banyak. Betul Pak. Siap.
Jadi ee tentu saja ee ITB itu karena ITB ada di Bandung, ITB adalah bagian dari Jawa Barat dan ITB ada itu harus relevan dengan ee pembangunan bangsa. ITB bukan bagian, Pak. ITB adalah gurunya Jawa Barat.
Tepuk tangan untuk ITB. Jadi gurunya Jawa Barat jadi pionir. Jadi kami itu sering di ini, Pak.
Diminta misalnya ITB harus jadi kelas dunia. Kelas dunia. Oke, ITB kelas dunia tapi tetap harus relevan untuk pembangunan bangsa.
Jadi tadi yang Bapak sampaikan itu tentang apa? tentang bahwa kita harus terkonnect dengan tanah, air, udara, dan matahari itu betul sekali, Pak. Jadi ee yang terkait dengan apa ee teknologi yang ramah lingkungan itu saat ini memang sedang banyak sekali dilakukan.
Jadi ee apa misalnya energi bersih itu ee kita melakukan Pak itu ada yang energi surya ada, kemudian energi biomassa ada gitu ya ee energi yang eh smart grid ada. Kemudian kita juga mengembangkan ee apa ee cold storage, Pak. Ee untuk untuk ikan ya pakai tenaga surya ada ee kami mencoba menggabungkan biomassa dengan tenaga surya untuk bikin mesin es batu.
Tapi itu di Karimun Jawa, Pak. Proyeknya di Jawa Barat nih belum belum ada contohnya. Nah, bikin Pak I.
Jadi sudah ada sudah ada sudah ada contoh ee ininya di Karimun Jawa ya, Pak Joko ya. kita punya kayak gitu ya. Kami membuat ee apa ee apa program dengan PLN Pak 100% ee 100% energi baru dan terbarukan di Nusapenida tapi belum di Jawa Barat.
Jadi kesempatan yang tadi Bapak sampaikan kalau memang ee apa kita bisa berkolaborasi dengan pemerintah Jawa Barat, maka kita akan senang sekali, Pak. Jadi ee kadang-kadang itu memang ee apa antara antara dosen dan peneliti ini dengan mitranya itu ya kita harus connect gitu ya, Pak ya. Dan dan alhamdulillah hari ini Pak Gubernur ini datang ke ITB dua kali.
Tadi pagi ke Sabuka, hari ini ke sini gitu ya. Jadi luar biasa nih ada gubernur dua kali sehari ke ITB gitu ya. Jadi ee mudah-mudahan ee dengan demikian ee apa ee interaksi antara perguruan tinggi dan dan ee implementasinya itu bisa dieksekusi dan ee dijalankan.
Nah, ITB tentu saja ee yang pertama itu fungsinya adalah mengembangkan teknologi dan teknologi ramah lingkungan yang apa terkait dengan budaya lokal saya kira ee betul dan sudah dilaksanakan, Pak. Nah, nah bedanya adalah kalau Bapak itu satset-satset, Pak. Kalau kita itu ee apa?
Lebih ke versi idealnya. Kalau karena itu kan ee akademik ya. Akademik.
Nah, sekarang gimana ee gimana mensinergikan ini konsep-konsep ini kemudian diimplementasikan ee ee pemerintah Jawa Barat gitu ya. Jadi kayak kewilayahan, tata ruang tadi, pembangunan berkelanjutan, arsitektur hijau tadi yang Bapak sampaikan itu tentang apa? Ee kenapa kenapa ee rumah-rumah sekarang panas, Pak?
Kalau Bapak lihat gedung ini, Pak. Gedung ini enggak perlu AC juga sebetulnya enggak apa-apa, Pak. Karena lubang anginnya di bawah.
Kemudian ada lubang angin lagi di atas, Pak. Jadi ee udara dingin itu ngalir dari bawah kemudian nanti keluar di atas. Nah, ini ini tahun 1920 sudah dipikir begini.
Tapi kemudian ee apa ee teknologi bangunan yang sekarang itu semua enggak ada lubang anginnya gitu, Pak. Kemudian pakai AC. I.
Nah, padahal sekarang kita tuh bisa ee earth cooling. Jadi itu ee kita bisa naruh pipa lewat bawah tanah, Pak. Jadi didinginkan oleh tanah dulu masuk ke ke apa ke bangunan di bawah kemudian kasih lubang angin di atas itu bisa mendinginkan secara pasif gitu.
Ada teknologinya ya Pak Joko ya. Dan enggak terlalu susah yang tadi seperti yang tadi Bapak bilang sebetulnya teknologi-teknologi itu sudah tersedia mungkin perlu dikampanyekan ee ada contohnya begitu ya Pak ya. Ada contohnya ada gambarnya.
Gambar ada, Pak. Tapi ee selama ini gambar yang disiarkan oleh para arsitek di pemda-pemda itu. Jadi selama ini para arsitektur yang ada di pemerintah daerah itu gambar-gambarnya tidak pernah berfilosofi.
Hm. Semuanya seragam. Dan hari ini saya memutuskan, Pak, tadi malam saya memutuskan bahwa saya memerlukan 10 arsitek yang menjadi tenaga pendamping pemerintah daerah.
Oh. Dan insyaallah aman itu, Pak. Bagus.
I ada kontraknya, Pak. Aman, Pak. Iya.
Iya. Iya. Iya.
Nah, yang seperti itu, Pak. Jadi, jadi ee saya kira kita bisa ini Pak La Wakil Rektor Riset dan Inovasi itu punya satu Direktorat yang namanya Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran, Pak. Jadi ee Pak Zul ada enggak, Pak?
Oh, itu Pak Zul. Pak Zul. Pak Zul.
Nah, ini mohon berdiri. Punya sudah bisa dikirim I. Nah, ini Pak Zul ini adalah direktur ee pengabdian masyarakat dan layanan kebakaran.
sekarang ini sebetulnya sibuk ya melayani enggak tahu apa aja gitu ya. Nah, tapi yang Jawa Barat ada enggak Pak Zul nih? Banyak ya.
Udah Jawa Barat. Nah, layanan kepakaran, Pak. Layanan kepakaran.
Iya. Saya tidak memerlukan pengabdian masyarakat. Saya memerlukan pengabdian selamanya, Pak.
Ya, jadi ee biasanya ee itu pasti harus ada dialog dulu gitu ya, Pak. Interaksi. Kemudian kemudian kita definisikan apa yang bisa kita lakukan bersama begitu ya, Pak Zul ya.
Jadi Pak Lafi dan Pak Zul ini memang kita apa ee kita fungsikan untuk ee menjadi penghela ee pertumbuhan ee yang relevan untuk bangsa. Pak, ini sebentar, Pak. Kan selalu problem saya ini kan orangnya percepatan, Pak.
Satet. Iya. Saya bilang, "Ni anggaran sudah sekian.
" Kenapa lambat? Gambarnya belum selesai, Pak. Cuman tiga orang.
Itu problem. Bikin jalan. DD-nya belum selesai.
Bikin bangunan. Saya minta perencana jembatan, perencana jalan, perencana irigasi, bendungan, bangunan sebanyak-banyaknya dari ITB biar gambarnya selesai semalam. Pak luar biasa PR-nya.
Mungkin sih kita kita sehari semalam, Pak. Jadi sangur ya. Siap.
Saya kira sih mestinya ee ini ya apa mungkin gitu ya 3 bulan Pak. Iya. Siap.
Kita kan anak satuan. Iya. Sebelum matahari terbit sudah harus jadi.
Konvensi itu cuma 6 minggu, Pak. Siap. Dari dari ide ke eksekusi, Pak.
Jadi sebetulnya mungkin kalau kalau komunikasinya lancar saya kira mestinya bisa lah, Pak. Insyaallah ya. Baik, terima kasih banyak.
Tepuk tangan rekan-rekan. Sebuah ide yang luar biasa. tadi sudah disampaikan ya tantangan-tantangan pembangunan di Jawa Barat dan potensi kolaborasi ini langsung kalau ada adim saya hari ini juga bikinin surat ke rektor ITB permohonan tenaga pendamping untuk perencana jalan, jembatan, bangunan, irigasi, teknologi pengelolaan sampah, semua ingat loh, ITB itu di Jawa Barat.
Siap ya, bukan di Nusa Peninda. Iya. Heeh.
Bapak, Ibu mudah-mudahan bawa laptop ya, nih ya, Pakadi dan Pak Lamid. Iya. Mudah-mudahan bawa laptop untuk bikin surat suratnya ya.
Hari ini suruh bikin. Iya, hari ini suruh bikin, Pak. Mudah-mudahan bawa laptop ya, Pak.
Siap. Malam ini langsung ditandatangani oleh Kang Dedi. Baik, terima kasih banyak Kang Dedi dan juga Prof.
Tata Cipta mangga untuk maju ke depan. Saya izin mengundang em juga Pak saya izin mengundang juga Bapak Prof. Ir.
Lavi Rizki Zuhal, PhD selaku Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi. Bapak Joko Sarwono selaku Direktur DKST, Ibu Desti selaku CEO EKDIN dan juga Bapak Richard selaku perwakilan dari Ikadin untuk dapat maju ke atas panggung. Dan pemberian sertifikat akan diserahkan dari e ITB ya melalui Rektor ITB yakni Prof.
Tata Cipta Nugraha. Mungkin foto terlebih dahulu. Baik, mungkin bisa dibantu penyerahan sertifikatnya juga ya.
Sertifikatnya. Oh, mohon maaf ya, saya yang salah. Penyerahan souvenir yang mana souvenir ini merupakan dukungan dari torch dan juga produk hasil inovasi ITB.
di antaranya adalah Naso Feropi dan juga Tiasa. Terima kasih banyak kepada Bapak dan Ibu. Mudah-mudahan ini bisa menjadi pintu gerbang untuk kolaborasi antara Institut Teknologi Bandung dengan Pemerintah Jawa Barat.
Iya, Bapak dan Ibu. Ya, Bapak dan Ibu em kami persilakan untuk bisa kembali ke tempat duduk. Kita akan melakukan foto bersama ya dengan seluruh panitia.
Siap. Tahun depan kita siap tahun depan sudah mulai kerja sama Bapak dan Ibu. Mangga untuk kembali ke tempat duduk.
Ee kita foto bersama terlebih dahulu. Kang Dedi mungkin bisa kembali ke tempat duduknya sebentar. Kita akan foto bersama.
Tim dokumentasi mungkin bisa mempersiapkan diri ya. Saya minggir dulu karena takut diserbu. Iya.
Kepada Bapak dan Ibu yang berada di sisi kanan dan kiri aula mohon untuk dapat bisa merapat. Iya. Siap.
Baik. Oke ya, dengan aba-aba saya ya. Oh, jadi ada barisan merapat lagi.
Baik, lebih merapat lagi. Iat lagi. Lebih merapat lagi, ya.
Satu, dua, t sekali lagi. 1 2 3. Boleh video ya.
Video. Eh, saat saya bilang Indonesia Green Connect 2025 dijawabnya Greening the future. Baik ya.
Sunda. Sunda siap. Baik, video ya.
Siap. Oke ya, video. Saat saya bilang Indonesia Green Connect 2025 dijawabnya Greening the Future.
Oke ya, 1 2 3. Indonesia Green Connect 2025. Green the future.
Terima kasih banyak Bapak dan Ibu. Tepuk tangan sekali lagi untuk kita semua. Terima kasih banyak, Kang yang sudah berkenan hadir dan juga berbagi bersama kami semua di sini.