Berikutnya adalah opening speech yang akan disampaikan oleh pimpinan Komisi 9 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Ibu Dr. Gigi Putihsari, M.M. dengan topik Perislasi anggaran dan pengawasan DPR RI dalam mendukung asta cita Presiden bidang kesehatan. Kepada Ibu pimpinan Komisi 9 DPR RI kami persilakan. Baik. Ya, terima kasih. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang. Salam sejahtera untuk kita semua. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Yang saya hormati, hadir pada kesempatan hari ini mewakili Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Bapak Sekjen Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Bapak Kunta Wibawa. Lalu juga Yang saya hormati yang sedang dalam perjalanan,
Pak Mensos insyaallah akan hadir ya, Bapak Sefulo Yusuf yang kami hormati juga Direktur BPJS Kesehatan Prof. Ali Kufra Mukti mungkin juga masih ee di perjalanan. Yang saya hormati sahabat saya ini luar biasa anggota Komisi 9 DPR RI Ibu Dr. Selika Nurahdiana dan Ibu Neti mungkin e sebentar lagi akan bergabung juga dari DJSN ada Pak Nunungung, ada Pak Mutakim juga ada perwakilan juga dari BGN. Lalu yang menjadi hostnya ini mah sebenarnya bukan saya ya. penyelenggaranya adalah tentunya ee IAKMI. Yang kami hormati Pak Dedi beserta seluruh jajaran pengurus IAKMI termasuk juga Pak Subuh ya dari Adinkes yang
juga sama-sama kita hormati hadir di sini tokoh-tokoh luar biasa ini saya lihat Prof. Askobat, Prof. Asnawi ya tokoh-tokoh dari ee Organisasi profesi kesehatan juga hadir ada dr. Sumantri dari apa puskesmas ya dari mana-mana dari Persagi juga IDI ya juga ee akademisi semuanya lah ya termasuk calon dewas terpilih ya karena sudah diumumkan di dalam rapat ee paripurna DPR RI semua yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu tanpa mengurangi rasa hormat hari ini saya diminta menyampaikan sedikit pandangan terkait dengan dukungan dari Lembaga legislatif DPR RI terhadap terhadap Pelaks apa terhadap ee asta cita ya, asta cita dari
Presiden ee hari ini di bidang ee kesehatan ya. Jadi kalau bicara terkait dengan Asta cita presiden yang memang ee memberikan harapan gitu ya, harapan baru di dalam kita menghadapi berbagai macam tantangan pembangunan kesehatan yang tadi sudah dipaparkan sebenarnya ya oleh Pak Dedi maupun juga Pak Subuh yang memang ya semakin kompleks ya semakin hari rasanya PR-nya Kok enggak selesai-selesai gitu ya. Justru ada lagi, ada lagi, ada lagi tantangannya gitu. Jadi hari ini tentunya ya pemerintah kita, pemerintah Indonesia sudah sudah melakukan upaya ya melakukan upaya di dalam ee memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik gitu ya bagi masyarakat
Indonesia. Tapi memang indikator ee kesehatan ini masih banyak yang memang menunjukkan ke angka yang mengkhawatirkan begitu. Jadi ee kita masih menghadapilah Dinamika-dinamika yang memang ada ya ee ee yang kita miliki hari ini dari mulai transisi demografi ya ee lalu juga epidemiologi kita termasuk juga teknologi yang juga semakin kompleks. Nah, ini tentu akan membuat ee upaya-upaya pengendalian dari penyakit-penyakit ee yang masih menjadi hyberden ini AIDS eh TB ya malaria dan lain sebagainya ini juga akan semakin kompleks. Tapi tentunya dengan adanya pemeriksaan Kesehatan ee gratis ini menjadi instrumen ya deteksi dini di dalam peningkatan mutu layanan termasuk
tentunya di dalam program jaminan kesehatan nasional ya yang memang hari ini juga menjadi isu yang strategis. Jadi memang perlu pendekatan-pendekatan kebijakan yang visioner ya, yang bisa mengintegrasikan gitu antara semua faktor ee ataupun juga semua sektorlah ya yang ada di kementerian ee lembaga. Nah, upaya-upaya kesehatan yang hari ini Memang lebih menitik beratkan pada upaya-upaya kuratif dan rehabilitatif begitu. bukan berarti ee promotif preventifnya enggak ada ya, tapi memang masih perlu dioptimalkan ya untuk bisa menjadi bagian di dalam upaya kesehatan ee masyarakat. Jadi bahasanya lebih diperhalus Pak Kunta ya perlu dioptimalkan begitu. Bukan berarti tidak ada, bukan berarti
belum dilakukan, enggak ya. tapi memang perlu ada peningkatan untuk ee menjadi bagian Yang memang penting ya di dalam keseluruhan sistem ee kesehatan kita hari ini. Nah, Ascat cita Presiden hari ini ini ee kembali lagi ya menjadi harapan ya menjadi harapan baru untuk kita bisa memperkuat memperkuat promotif dan preventif kita ya tadi dengan ee screening ya screening ee PTM bagaimana juga pemberian makanan bergizi itu bagian juga ee di dalam promotif preventif screening TB dan lain sebagainya. Jadi tentu Asta Cita Presiden hari ini menegaskan ya pembangunan kesehatan enggak hanya sektor pelayanannya saja tapi juga investasi yang strategis
negara ini di dalam membangun SDM ee Indonesia yang lebih unggul gitu ya ee yang lebih lebih produktif juga dan juga mampu berdaya saing. Oleh karenanya ya kebijakan kesehatan harus bisa menjadi ee apa? Bagian yang ditempatkan sebagai ee bagian yang ee terintegral dari agenda besar pembangunan nasional ya. Karena Memang tadi tantangan utama pelayanan kesehatan kita ee begitu banyak ya. ee kasus-kasus HIV, TB, malaria yang menyumbang ribuan kematian gitu ya setiap tahunnya ini membebani kita secara nasional ya termasuk juga secara jumlah apalagi kalau ee di tuberkulosis e laporan dari Global TB eh report itu di 2024 Indonesia
ada di peringkat kedua. Rasanya hari ini juga sama ya, walaupun ada negara yang baru masuk di urutan ketiga yaitu Filipina. Chinanya Turun ke urutan keempat. Nah, ini kayaknya kita juga mesti belajar dari China kayaknya kenapa dia bisa turun walaupun jumlah penduduknya ee miliaran begitu ya. Nah, ini ee angka-angka ini saya kira ee apa namanya menjadi satu ee rujukan ya untuk kita bisa ee melihat tantangan ee ke depannya ya dan ee kasta cita yang memang sudah menjadi komitmen nasional bangsa Indonesia dan kami ya di lembaga legislatif DPR RI bersama dengan pemerintah ya tentu ee akan memperkuat
Asta cita Presiden di bidang kesehatan ini. Kami memastikan bagaimana kebijakan kesehatan bisa berpihak kepada rakyat. Bagaimana setiap rupiah anggaran ya ini bisa memberikan manfaat yang nyata untuk masyarakat dan tidak ada yang juga tertinggal di dalam pelayanan kesehatan. ya. Jadi ee kita menegaskan bagaimana komitmen negara untuk bisa memperkuat layanan ee kesehatan ya ee yang memang inklusif yang bisa bermutu dan juga berkelanjutan dengan area prioritas Kesehatannya ya tadi ya cek kesehatan gratis untuk semua kelompok umur ya termasuk penurunan tuberkulisis dan juga pembangunan rumah sakit yang lengkap berkualitas di daerah terpencil dan juga tertinggal. Selain itu juga ee
yang juga menjadi program unggulan pemerintah hari ini adalah makan bergizi gratis ya. Ini ee menjadi satu upaya untuk peningkatan mutu layanan kesehatan ee juga di dalam program JKN ya. Untuk itu perlu sebuah ee ya momentum ini ya menjadi sarasehan Nasional tempat dari para regulator, para legislatornya, para ahli-ahli, pakar-pakar ini dan juga akademisi yang hadir ya hari ini bisa mendiskusikan prospek kesehatan di masa yang akan datang, termasuk mengidentifikasi gitu peluang-peluang dan juga tantangan pembangunan kesehatan. juga merumuskan bagaimana strategi kebijakan yang tepat dan juga penting adalah implementatif ya, termasuk bagaimana penguatan tadi aspek promotif dan juga preventif
Kesehatan. Nah, kami yang ada di DPR RI tentu sesuai dengan tugas dan fungsi kami ya ee memastikan bahwa Asta Cita ini enggak hanya program eksekutif saja ya, tapi juga punya basis hukum yang kuat ya dari sisi regulasinya agar bisa berkelanjutan juga lintas ee pemerintah ya, lintas kementerian lembaga. Jadi ee dari sisi dukungan DPR RI tentu kami mendukung yang pertama adalah bagaimana harmonisasi Dari regulasi kesehatan ini ya ee karena sinkronisasi Undang-Undang Kesehatan lalu juga berbagai macam aturan-aturan turunan ya agar implementasi dari pelaksanaan baik itu cek kesehatan gratis ee pembangunan rumah sakit di daerah ee DTPK maupun
juga distrib dari SDMSDM kesehatan kita ini enggak terhambat hanya karena ee regulasi yang ee sektoral begitu ya. Jadi kita biasanya di ee rapat-rapat kami di Komisi 9 itu memastikan ee terus Bagaimana sinkronisasi antar regulasi yang ada dan juga ee regulasi turunan ya supaya tidak memperlambat juga. ee program yang juga sangat penting lainnya adalah ee ee penempatan juga produksi terhadap ee SDM kesehatan khususnya adalah yang memang ee spesialis ya. Jadi ee itu itu juga menjadi satu konsen kami termasuk juga bagaimana mendorong regulasi yang berbasis ee promotif dan juga preventif ya ee seperti peraturan yang terkait dengan
ee pengendalian Faktor-faktor risiko ya ee gula, garam, tembakau itu ee iklan-iklan ya termasuk e apa ee produk-produk ultra processing food ya yang hari ini banyak sekali pemberitaannya. Nah, ini kita coba untuk bisa adanya ee regulasi yang jelas ya untuk kita dorong kepada ee pemerintah termasuk mengkaji juga regulasi agar ee porsi pembiayaan di preventif dalam sistem JKN ini juga bisa meningkat gitu. Ada peralihanlah paling enggak ya peralihan ee yang sebelumnya Adalah eh curative heavy system ya. ini bisa ee sedikit demi sedikit ee beralih kepada promotif dan juga preventifnya dan juga regulasi yang mendukung terhadap ya gaya
hidup ya gaya hidup masyarakat bagaimana gaya hidup yang sehat, pengendalian terhadap konsumsi dari produk-produk yang berbahaya itu juga menjadi satu hal juga yang penting karena ee masyarakat tentu harus diberdayakan untuk kita bisa sama-sama mencapai ee Indonesia sehat. Selain dari Sisi harmonisasi regulasi juga yang menjadi sangat penting. Selamat datang Prof.ron. Bu Neti juga sudah hadir. Terima kasih sahabat saya. Ya. Ee ee saya lanjutkan izin ya dukungan kami ee DPR RI juga dari sisi penganggaran tadi ya yang memadai untuk bisa memberikan dukungan yang memang diajukan ya e untuk Asta Cita Kesehatan dengan alokasi yang harapannya tentu tepat
sasaran ya untuk program-program promotif dan juga Preventif. Silakan, Prof. silakan. Termasuk juga mendukung pemerintah di dalam berbagai kampanye-kampanye kesehatan, penyediaan fasilitas kesehatan yang juga mendukung ee pencegahan-pencegahan penyakit dan juga penguatan tenaga kesehatan masyarakat untuk promosi kesehatan dan tidak kalah penting juga ya tentunya peran dari ee DPR RI di dalam pengawasan dan juga kolaborasi di dalam pelaksanaan program kesehatan. kami memperkuat fungsi Pengawasan untuk bisa memastikan ya program-program Asta Cita ini ee bisa berjalan efektif dan juga tepat sasaran sesuai target yang memang telah ditetapkan. Jadi kolaborasi ini ee bisa berupa edukasi kepada masyarakat, bisa juga berupa peningkatan
kesehatan lingkungan ya sampai bagaimana pengembangan kebijakan yang memang berbasis ee data gitu. Jadi prioritas anggaran kesehatan dalam APBN kami DPR RI terus-menerus ee berupaya untuk bisa Mengawal ya terutama juga melalui ee ee teman-teman yang ada di badan anggaran ya Banggar DPR RI untuk bisa menegaskan prioritas anggaran di sektor kesehatan sebagai bagian ee integral dari agenda AS cita ee Presiden hari ini juga ini ee mencakup terhadap prioritas layanan kesehatan pemerik pemerataan terhadap akses ee dan juga penurunan ee terhadap angka-angka tadi ya berbagai macam ee hyberden eh health yang masih menjadi PR kita maupun juga Ee kemiskinan-kemiskinan
es krim yang juga menjadi salah satu faktor. Jadi di Badan Anggaran sendiri memang secara eksplisit juga sudah menyatakan ya tentu akan mengawal alokasi anggaran kesehatan untuk bisa mendukung program-program Asta Cita ya. Karena memang ya penting ya ee penganggaran ini adalah ya instrumen kunci gitu ya untuk kita bisa memastikan kebijakan kesehatan ini bisa dieksekusi gitu ya. Jadi kalau enggak ya hanya Omon-omon kan gitu ya. Kalau tanpa anggaran yang pasti. Jadi kita pastikan penganggaran ini ee untuk bisa ke menjadi instrumen ee utama di dalam memastikan kebijakan kesehatan ini bisa dilaksanakan, dieksekusi oleh pemerintah, baik pemerintah yang ada
di pusat maupun juga sampai ee pemerintah daerah gitu. Itu saya kira ee dukungan yang ee kami lakukan selama ini ya sesuai dengan tugas dan fungsi kami dari sisi legislasi. dari sisi budgeting Maupun juga dari sisi pengawasan ee DPR RI terhadap ee Asta Cita Presiden. Mungkin nanti di dalam pembahasan akan ditambahkan juga oleh sahabat-sahabat saya di sini yang hadir ya, ada Bu Dr. Seika maupun juga Bu Neti ya. Saya kira saya cukupkan sekian ya dari saya terima kasih saya akhiri wabillahi taufik walhidayah wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Baik, terima kasih banyak kepada Ibu pimpinan Komisi 9 Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia atas opening speech yang telah menegaskan bahwa pembangunan kesehatan di Indonesia memerlukan dukungan kebijakan yang visioner dengan tetap mengoptimalkan upaya promotif dan preventif tidak hanya pada sisi kuratif dan rehabilitatif. dan DPR RI telah melakukan beberapa dukungan ee berkomitmen untuk menjalankan Asta Cita dengan cara mengeluarkan regulasi yang jelas berbasis bukti melakukan fungsi pengawasan agar program berjalan Tepat sasaran dari level pusat hingga daerah. Terima kasih banyak ee Ibu Puti atas opening speech yang sudah disampaikan. Baik. Baik hadirin yang kami hormati, baik yang hadir secara luring maupun daring, kita akan melanjutkan ke agenda berikutnya yaitu penyampaian
keynote speech. Keynote speech pertama akan disampaikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang akan diwakili oleh Bapak Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Bapak Kunta Wibawaugraha S. M. PhD yang akan segera menyampaikan dengan topik Indonesia Public Health Outlook 2026. Kepada Bapak Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan kami persilakan. Bismillahirrahmanirrahim. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang, salam sejahtera bagi kita Semua. Om swastiastu, namo buddhaya, salam kebajikan dan yang penting salam sehat. sehat. Ee saya mengiku Pak Subuh ini ee saya apa saya akan menyapa ee tuan rumah ada Bu Puti, ada Bu Selika dan Bu Neti. Selamat datang Bu Neti.
Kemudian eh penyelenggara ini ada Pak Dedi dari Yakni dan Pak Subuhinkes dan saya nyapa juga Pak Dirut BPJS Pak Ali Kufron karena baru datang beliau. Makasih Pak Ali Kufron. Jadi kalau tadi Pak Dedi menyitir ee ee kata-kata Benyamin di Israel, saya akan menyitir juga kata-kata dari Mahatma Gandhi in menjikannya kalau saya lebih ini lebih sosial daripada beliau. Eh Mamad Gandhi itu bilang bahwa it is that is real and not of gold and silver. Intinya kekayaan sejati su sebuah bangsa itu bukan terletak p cadangan emas atau sumber daya alam semata, Melainkan p kualitas hidup dan kesehatan
rakyatnya. Ini maknanya sangat berarti gitu ya, bahwa intinya memang yang penting ada sumber daya kemanusianya. Banyak negara maju yang bisa berhasil bukan karena SD. SDA. Meskipun harga sekarang sudah naik, tapi yang penting adalah ee masyarakat. Bagaimana kita meningkatkan kualitas hidup dari masyarakat dalam konteks asta cita Yang oleh presiden saya menyampaikan bahwa ee ee investasi pada kesehatan yang tadi sudah disampaikan oleh Bapak Ibu sekalian ya. Ada makan bergizi gratis, ada tek kesehatan gratis. Itu ada investasi ekonomi jangka panjang yang paling berharga. Paling berharga ini yang harus terusmenus yang tadi saya sampaikan Bu Puti. Sustainability ini harus
dijaga ya. Investasi ini tetap harus dipertahankan. Untuk itu saya melakukan apresiasi ya Pada Yakmi dan Arinkes yang telah menyelengarakan sarasean kesehatan nasional Indonesia Public Headup 202. ini kalau di kita ada di sini semua itu bukan karena tadi kan disebut jabatan gitu ya. Kalau saya lebih suka bahwa kita semua adalah pakar dari kesehatan masyarakat. Maka saatnya kalau kita g-gul di sini ya kita bertukar pikiran yang penting adalah mencari solusi. Saya panjang waktu saya masih di KemenQ itu ya. Saya belajar kenapa ada negara maju Dan kenapa ada negara yang stagnan dan ada negara miskin. Ternyata semua negara
itu tahu persoalannya gitu ya. Persoalan di berbangsa itu seperti apa. Kita juga tahu betul masalah-masalah di Indonesia terutama di sektor kesehatan. Ada tanting enggak turun-turun gitu kan. Ada tibi enggak tadi tibi enggak selesai-selesai. Itu adalah masalah-masalah yang sudah kita tentuk. Tapi yang penting adalah how to solve The problem. Dan negara maju itu bisa menjadi negara maju kalau dia bisa menyelesaikan masalah. Semua negara tahu masalah tapi hanya segelintir negara yang bisa menyelesaikan masalah. Jadi inilah inilah saya yakin ee ee forum yang bagus ya kita bertemu dan ini semua ada di sini semua mewakili ininya masing-masing ya.
ada dari legislatif, ada dari eksekutif, dari pakar, dari university, dari asosiasi. Ini paspen bagi kita Untuk how to solve the problem. Eh ee kemudian kemudian kemudian kita juga lihat bahwa pemerintah tadi sudah dijelaskan juga oleh Bapak Ibu sekalian bahwa intinya kita melalui asta cita presiden ini telah menetapkan komitmen kita untuk memperkuat layanan kesehatan yang inklusif, bermutu, dan berkelanjutan. Inya salah satu pilar bagaimana kita juga ingin merubah mindset kita menuju ke promotif preventif. Ini bukan hanya Jargon ya, tapi memang harus kita lakukan. Kalau jaz jargon agak susah kita mencapai yang tadi disampaikan kesehatan yang inklusif, bermutu,
dan berkelanjutan. Saya ingin menyintir ee dengan adanya PHTC saya susah ya PHTC itu singkatan apa gitu ya. Tapi kalau saya tahunya itu quick wins gitu kan itu bahasa Inggris. Karena kadang-kadang ternyata bahasa Inggris itu justru lebih simpel dan sederhana gitu. Kalau bahasa Indonesia itu panjang dan lebar gitu. Itu menunjukkan pemikiran kita itu kadang-kadang panjang dan lebar. Kita harus berusaha untuk membuat sederhana. Pwin kita tadi sudah sampaikan yang pertama cek kesehatan gratis. Memang capaiannya saya sepakat tadi ya capaiannya sudah sangat luar biasa. sudah mencapai 70 juta penduduk Indonesia yang ikut cek kesehatan gratis. Tapi tadi sampaikan
bot snack gitu ya. Tapi kita harus tahu ya memang ini baru dimulai Februari gitu kan. Kemudian kita mengkonsentrasi di cek kesehatan gratis untuk tahun depan. Tahun ini ya bukan tahun depan, tahun ini 2026 karena mulainya kan 2025 ya. Tahun6 ini kita akan memperluas cakupannya menuju ke 130 juta dan saya sepakat sekali yang penting adalah tata laksananya. Ini yang harus kita lakukan ya. Tapi ini PR yang masih harus kita lakukan perbaiki bagaimana kita membuat tata laksana Untuk seluruh Indonesia. Memang PR dan tugasnya menjadi beban mengatakan beban ya Puskesmas menjadi ujung tombak kita. Terima kasih tadi ada
asosiasi dari Puskesmas dan ada Pak Adinkes ini harus tujung tombaknya itu di situ. Bagaimana Puskesmas benar-benar bisa meng-handle dan tidak hanya memeriksa tapi menata laksanakan. Kalau kita lihat dari CKG, kita sekarang pertama kali kita mempunyai data epidemiologi seluruh penduduk Indonesia. Ini sangat luar biasa ya. Kita punya data itu harus kita analisa untuk membuat kajian dan juga kebijakan-kebijakan dan rekomendasi. Jangan sampai data itu hanya kita dudukin, tidak pernah kita buka. Kalau kita lihat di CKG ada karier gigi itu konsisten masuk dalam tiga temuan masalah kesehatan di semua usia. Ini menarik sekali. Ternyata gigi menjadi ee penyakit
yang paling besar. Ini tanggung jawabnya Bu Puti sebagai dokter gigi di sini ya. Pak Usman juga ya. Eh, hebat ya. Di sini mantan Eslon 1 Kemenkes ada dua ini. Ada Pak Subu, ada Pak Usman. Oh, Bu Tari juga. Sor kelihatan ya. Kemudian ee penyakit tidak menularnya sampai konsisten ya. Ada hipertensi, ada diabet dan juga kardiovaskular. termasuk seiringnya bertambah usia itu Yang paling banyak adalah kanker payudara terutama untuk wanita dan depresi dan kecemasan tinggi untuk anak remaja. Hal-hal ini harusnya saya sepakat kita t laksana tapi kita juga harus punya rekomendasi apa sih sebenarnya yang harus kita
lakukan ya kan untuk menyelesaikan tadi masalah sudah ada di depan mata kita sudah punya data tinggal bagaimana kita menyelesaikannya saya sama kasih nanti kalau forum ini Bisa membuat rekomendasi juga bagi kita supaya kita juga bisa melihat dari angle-angle yang lain gitu ya kadang-kadang angle pemerintah itu kan lebih ee ke atas itu tapi yang detail ke bawah itu harusnya dari Bapak Ibu sekalian. Kemudian yang kedua mengenai pengetasan tibi. sayafakat sekali ya pengapaiannya sudah luar biasa di 2025 terutama dari penemuan kasus karena awalnya pasti kan kita temukan dulu kemudian pengobatan Kemudian keberhasilannya termasuk terakhir pemberian TPT ini
sudah data-datanya sudah sangat bagus untuk penemuan kasus sudah 79% inisiasi pengatan untuk TBSO itu 93% untuk TBRO 85% pers keberhasilannya untuk TBSO juga 85%, TBRO 60%. Nanti detailnya mungkin dari Bu ee Endang bisa menjelaskan. Tapi intinya bukan hanya angka-angka ini ya, tapi kita lebih bagimana kita menuju golnya kan jangan nomor dua dong gitu Kan. Kasihan maka nomor dua tapi kok jelek gitu ya. Kalau nomor dua futsal enggak apa-apa gitu ya. Kalau nomor dua TB ini yang agak berat. Jadi inisiasi pengobatan ini menjadi kunci keberhasilan pengobatan terutama TB RO yang perlu di kita tingkatkan dan untuk
tahun 2026 kalau untuk CKG kita meningkatkan kualitas pemeriksaan dan tata laksananya. Untuk TB 2026 kita ingin meningkatkan implementasi strategi yang sudah ada termasuk pertama Penguatan diagnostik kemampuan diagnostik desa siaga dan pendayagunaan kader. Karena ternyata kader ini penting sekali untuk menjaga supaya apa? Kalau sudah tahu notifikasi dia tahu sakit dia harus minum obat. itu kader harus punya tanggung jawab berat untuk membuat masyarakat yang terkena atau terindikasi pada TB itu minum obat, pemantauan pengobatan dan juga TBT. Yang ketiga ini peningkatan kualitas rumah sakit ini masuk di PHTC. Bagaimana kita ingin Membangun apa menyebar akses layanan kesehatan pada
masyarakat terutama di daerah terpencil. kita sudah akan membangun ee 66 rumah sakit dari tipe D ke tipe C. Saat ini dari 11 rumah sakit sudah selesai. Sedangkan yang sisanya masih dalam perencanaan dan juga ke harapannya nanti tahun 2026 semuanya sudah selesai untuk 2026. Jadi sisanya masih kita masih akan melakukan 22 rumah yang akan selesai 22 rumah sakit dan 20 rumah Sakit lagi akan proses pembangunan. Akselerasi strategi akselerasi ini perlu kita lakukan terutama untuk di daerah. Nanti mohon di dari adinkes bisa melihat juga bagaimana daerah juga menyiapkan diri agar ee pembangunan tadi berjalan termasuk pemanfaatannya. Jangan
sampai kita hanya bangun kemudian pemanfaatan tidak dilakukan. Itu yang penting. Utilisasi dari rumah sakit kita dan isiasi dari alat kesehatan yang kita berikan. Karena Golnya, goal-nya bukan hanya membangun dan membeli alat kesehatan, tapi gol-nya adalah memperbaikan layanan kesehatan bagi masyarakat. Itu kemudian harapan dari dari kita ee kami mengharapkan sarasian ini sekali lagi saya minta supaya bisa menghasilkan rekomendasi kebijakan yang visioner, terintegrasi dan implementatif khususnya terhadap beberapa macam yang tadi kami sampaikan untuk kesehatan gratis tibi dan juga mungkin dari Makanan bergizi gratis dan juga untuk peningkatan layanan kesehatan masyarakat Karena ee tadi saya sampaikan how to
solve the problem ini yang sangat penting bagi kita untuk menuju negara maju. Terakhir tadi saya sampaikan juga selain tiga hal tadi mengenai semua tadi ujungnya ke mana? Ke sumber daya manusia di bidang kesehatan. Inilah PR kita bersama. Bagaimana kita bisa meningkatkan produksinya, mendistribusikannya, dan meningkatkan Mutunya. ini yang menjadi ee terus-menerus harus kita lakukan ee perbaikan-perbaikan. Demikian dari saya eh saya tadi lupa ya. Saya itu mewakili Pak Menteri Kesehatan gitu. Mohon maaf karena Pak Menteri tadinya mau ke sini cuma karena ee ada rapat yang sangat mendadak dan itu juga berkaitan dengan bencana. Jadi beliau harus ke
sana. Jadi saya mewakili Pak Menteri Kesehatan. Jadi ee penutup saya bacakan aja ya. Kementerian Kesehatan akan berkomitmen mempercepat transformasi sistem kesehatan melalui penguatan layanan promotif preventif, integrasi pembiayaan dan pelayanan, serta penguatan tata kelola di pusat dan daerah. Karena ujung tombak kita adalah sebenarnya di daerah. Untuk itu kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menyelaraskan kebijakan, mengamankan dukungan regulasi Dan anggaran, serta memastikan setiap kebijakan benar-benar berdampak di lapangan. Kita bisa berdebat di sini, tapi setelah itu kalau sudah diputuskan ya kita harus bergerak bersama-sama, tidak boleh satu ke kanan, satu ke kiri gitu ya, Pak ya. Dan saya
sangat berterima kasih kepada ee Komisi 9 yang sangat ee membantu dan men-support Kementerian Kesehatan terutama sektor kesehatan bukan hanya Kementerian Kesehatan ya Bu Ibu Puti ya, Sektor kesehatan untuk terus bergerak dan maju ke depan itu Bu Neti ya. Walaupun sudah senyum saya enggak enak. Ee demikian Indonesia sehat hanya akan terwujud jika kita bergerak serempak, bertindak tegas, dan menempatkan kesehatan sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Itu bukan jargon, tapi itu harus dilaksanakan. Terima kasih atas beraksian Bapak, Ibu para pakar kesehatan masyarakat sehingga kita benar-benar nanti bisa mukan Rekonasi yang terbaik. Saya tutup dengan pantun, Pak, ya. Supaya
nanti kayaknya tegang semua di sini. Jadi saya akan pant gedung Nusantara di Senayan membahas strategi sehat masa depan Cakep. Asta cita presiden jadi haluan cakep. Kesehatan masyarakat kita tingkatkan. Pak. Baik, terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang telah memberikan kerangka besar mengenai arah transformasi sistem kesehatan Indonesia khususnya dalam merespon beban ganda penyakit dan penguatan pendekatan promotif preventif. Hadirin yang kami hormati, keberhasilan cakupan semesta jaminan kesehatan tidak hanya diukur dari jumlah peserta, tetapi juga dari mutu layanan dan keberlanjutan pembiayaan. Untuk itu, kami persilakan Direktur Utama BPJS Kesehatan Bapak Prof. Dr.
Ali Gufron Mukti, M.Si., PhD. AAK untuk menyampaikan keynote speech selanjutnya. Kepada Bapak Direktur Utama BPJS Kesehatan kami persilakan. Baik, terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang. Salam sejahtera bagi kita semua. Shalom. H sastu. Namo budhaya. Salam kebajikan. Baik. Tentu tadi kalau Pak Sekjen sampaikan Dengan ee penutup dengan pantun, saya juga bacakan pantun. Kalau di PPJS harus begitu, Pak. Pergi ke taman memetik kenanga. Cakep. Kenanga putih tapi bukan putih sari loh ini ya. Cakep. Kalau itu pimpinan komisi kenangan putih harum baunya cakep. Kesehatan publik menatap masa depan bangsa Cakep. Outlook 2026 jadi pijakan langkah bersama. Jadi
lagi masih banyak kalau lagi ini ya sudah saya bacain satu lagi nih. Anyotan menjadi tikar rapi kuat ikatannya. kolaborasi lintas sektor jadi pilar menguatkan tata kelola kesehatan Indonesia. Tentu Pak ee Bu Butisari dan pimpinan komisi ee atau anggota Komisi 9. Baik Saya lihat ada Bu Neti, ada Bu Dr. Sicilia, ada eh Selika, ada Prof. Agustin dan lain sebagainya. Dan ini Pak Iya. Waduh mantap ini. Pak Kobat, Pak Asnawi, Pak Osman yang baru datang. Sudah, Pak. Dari tadi sudah dari tadi tapi pikir baru datang. Iya, langsung. Nah, ini pengawas semua nih. Nah, dari DJSN juga semuanya
sudah kenal lah. Baik. Jadi kita tidak usah sebut satu Persatu. Yang jelas nih tuan rumah nih baik Pak Dedi Supratman ataupun Pak Subuh. Bapak, Ibu sekalian begini intinya menurut saya bahwa ee tanpa jaminan sosial itu tidak ada keadilan sosial. Ee slide. Jadi, Bapak, Ibu sekalian bahwa sebetulnya jaminan sosial itu merupakan retribusi ee pendapatan atau income lah kayak gitu. Nah, USC sendiri tujuannya itu kan bagaimana menjamin setiap orang, setiap tempat di manaun Kapanp itu bisa akses pelayanan kesehatan yang dibutuhkan tanpa atau dengan kualitas yang cukup tanpa kesulitan keuangan. Itu tujuannya di situ. Jadi semuanya harus masuk.
Tetapi tadi kan sudah Pak Sekjen juga niru kata-kata siapa. Saya tidak tahu kata-kata siapa. Tapi yang jelas bilangnya begini. Tidak ada kesejahteraan sosial tanpa keadilan sosial. Tidak ada keadilan sosial tanpa jaminan sosial. Jaminan Sosial ini sangat krusial gitu. Nah, yang jelas jaminan sosial di Indonesia ini ada dua. Satu ya kebetulan dulu ee kita bertanggung jawab ya sebagai ketua tim persiapan BPJS itu menyiapkan BPJS dua-duanya tenaga kerja dan BPJS kesehatan. Begitu. Nah, yang menarik berikutnya berikutnya ini telat nih udah ngomongnya sudah banyak ini. Masih lah itu. Oke. J implementasi gotongroyong terbesar ya dan tercepat ya. Berikutnya
Berikutnya ya kalau kita lihat delan misi asta cita ee presiden kita atau pemerintah kita sekarang yang nomor empat itu memperkuat pembangunan sumber daya manusia atau SDM sains, Teknologi, pendidikan kesehatan. prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan pemuda milenial dan generasi Z dan penyandang disabilitas serta memperkuat sistem kesehatan nasional. Nah, ini berikutnya. Jadi kalau USC di Indonesia ini dalam Asta cita presiden tentunya kita itu tidak ada yang tertinggal atau inklusivitas layanan. Jadi kalau dinonaktifkan wah sebentar sebentar lah tapi ada sekitar ya datanya kalau menurut Kemenkes sekitar 49 juta lebih atau menurut Kemensos 53 juta lebih
yang desilnya itu 1 sampai 5 tapi belum masuk PBI. Nah, itu masalahnya. Makanya ya biar tepat target kemudian diperbaiki. Maksudnya seperti itu. Cuma masalahnya Bagaimana tidak ada yang tertinggal atau inklusivitas layanan. Loh, ini mana nih? Berikutnya slide. Nah, ini ya. Jadi inklusivitas layanan kesehatan. Saya tidak usah cerita banyak di situ. Yang kedua aja biar cepat. Peningkatan mutu layanan kesehatan. Tadi sudah belum? Belum. Ini kecepatan malahan. Nah, yang ketiga, integrasi agenda prioritas nasional. Nah, ini sebagai kunci. Tadi ada CKG yang disebut-sebut, ada agenda tuberkulosis. Untuk kita ketahui ya, Untuk waktu COVID seluruh komponen bahasa itu ikut
serta TNI, Polri semua ikut. Tapi waktu TBC siapa yang ikut? Saya enggak tahu. Tapi yang jelas Indonesia ini yang meninggal karena ATBC lebih banyak daripada COVID untuk diketahui saja. Dan yang menarik lagi ya ini orang di RRC yang penduduknya 1,4 miliar dibanding di Indonesia yang kena TB lebih banyak Indonesia. Wah, gimana? Padahal itu enggak sulit sebetulnya ya. Nah, yang keberlanjutan sistem ketahanan Ya ini menarik ya. Sistem kesehatan terutama yang keempat. Nah, ini JKN ini basisnya itu gotongroyong memang kalau tergantung perseptifnya ya itu uang dari pemerintah itu sekitar 50-an at 50% lebih dikit ya dari masyarakat
artinya itu dia yang bekerja ya dari sektor formal dari informal atau kita sebutnya PBPU peserta bukan prim upah itu juga sekitar 40-an9 jadi ini satu bentuk gotong-royong yang di banyak negara belum bisa secepat Indonesia. Berikutnya, Indonesia ini bayangkan berikutnya harus slide harus. Halo. Baik. Jadi, tapi enggak cocok ini yang diomongkan sama slide-nya. Berikutnya, berikutnya dulu aja. Berikutnya ini penting juga, tapi nanti terus berikutnya biar cocok. Berikutnya, berikutnya lagi ya. Di banyak negara, contoh di Jerman yang pertama kali asuransi sosial itu perlu waktu 127 tahun untuk mencapai 85%. Indonesia BPJS ini BPJS-nya ya hanya perlu waktu
10 tahun untuk 98% sesuai dengan Asta Cita dan tercapai. Maka Presiden ISA, ISA itu International Social Security Association di mana Indonesia masih tetap sebagai pemimpin TC health atau jaminan kesehatan lah untuk 162 negara ya gitu. Jadi banyak sekali sekarang berbagai negara pada datang ya ke kantor BBJS. Lihat yang menarik Bapak Ibu sekalian Harvard, Oxford, John Hopkins segala macam ngundang gimana kok Indonesia bisa meskipun di dalam negeri dijelek-jelekkan, cuma yang dilihat yang jelek. Yang baik jarang dilihat. Makanya ini saya sampaikan yang baik-baik gitu. Bukan berarti sangat sempurna. Tidak. Banyak masalah, banyak PR. Sampai di perguruan tinggi
saya bilang masalah di perguruan tinggi bagi S2, S3 adalah tidak punya masalah. Iya. Makanya kalau Ingin masalah datanglah ke BBJS saya kasih masalah. Banyak masalahnya gitu. Nah, yang jelas Bapak Ibu sekalian ini contoh aja FKRTL ya. FKTL itu kayak rumah sakit rujukan. Nah, untuk itu jumlahnya sejak BPJS ada naik 1513. 1500 loh. Itu banyak sekali. Tapi yang kita dengar di medsos ini gara-gara BPJS rumah sakit bangkrut lah. Gimana kalau itu bangkrut? Kenapa bisa tumbuh 1500? Dan yang menarik lagi ya, ini data semua Yang saya sampaikan ya, 65,8% yang mitra kerja BPJS itu rumah sakit swasta.
Di mana itu yang benar loh datanya ini bisa dipertanggungjawabkan datanya ini kayak gitu. Nah, ini saya sampaikan yang baik-baik. Kalau yang jelek-jelek juga banyak tapi nanti saja dulu ya karena sudah sering yang jelek disampaikan dan bukan salahnya BPJS pun BPJS yang salah. Nah, untuk itu saya kasih di depan dulu. Ayo ke ke depan. Satu lagi. Ke depan. Depan. Depan depan yang tadi loh. Satu lagi. Satu lagi. Iya. Satu lagi sebelumnya. Satu lagi. Satu lagi. Satu lagi. Terakhir satu lagi. Nah, jadi ini belum banyak yang tahu juga. BPJS itu badan hukum publik yang tidak mencari profit.
ini harus ini tapi enggak boleh defisit ya. Kami masuk aset networ masih defisit meskipun cash flow-nya sudah bagus ya kita terima Kasih pada direksi yang lalu ya tetapi masih defisit tiba-tiba tahun yang sama jadi positif Pak ya. Yang jelas BPJS ini bukan di bawahnya sebuah kementerian ya langsung di bawah presiden. Jangan nanya presiden ya tapi yang jelas itu bukan di bawah kementerian atau lembaga. Nah, ini orang paham aja juga sering enggak paham dikira di bawah sebuah lembaga. Tidak. Ya, saya sampaikan tidak. Terus dananya, nah ini yang berdebat itu loh ini dana siapa gitu. Yang jelas
itu dananya dari Dua sektor yaitu pemerintah, APBN dan non APBN ya dari masyarakat gitu. Berikutnya. Berikutnya. Nah, yang BPJS lakukan tanggung jawabnya itu bukan UKM ya, upaya kesehatan masyarakat itu bukan, tapi lebih ke arah UKP meskipun ada promosi, prevensi, kurasi, rehabilitasi semuanya. Nah, ini juga enggak dipahami karena BPJS itu lebih ke arah dimensi-nya. Yang dipermasalahkan supply side. Supply side bukan tugas tanggung jawab BPJS. Jadi apa supply Side itu? Dokter, faskes, obat, terus apa namanya? alat ya itu splash semua bukan BPJS disalahkan kok BPJS di gimana faskesnya jelek lah kok BPJS BPJS enggak ngurusi faskes BPJS
enggak beli obat ya kecuali ya tertentu aja yang kaitannya dengan lansia gitu berikutnya. Nah ini yang menarik. pertama ini single schem ya skemanya itu tunggal yaitu JKN dulunya itu berbagai skema ada di situ. setiap daerah ya jam kesda ya kebetulan ada jam kesda, ada jam kesta Pak Muttakin tahu itu ya itu banyak ada 300-an dan dalam pesertanya ini malah 284 tapi lebih dari 98% dari deit tiba-tiba tahun yang sama ya aset netonya jadi surplus dikasih down payment kepada rumah sakit ya makanya rumah sakit tertarik Pak lah dulu diutangi bahkan banknya ikut-ikut ngutangin gitu pertama kali
dengan Kementerian Kesehatan kita naikkan tarifnya maka kepuasan meningkat out of pocket-nya itu turun dari hampir 50% Menjadi 25 maksimum 28%. Yang menarik payment channel-nya itu gampang sekarang ada auto dapat segala macam lebih dari R juta. Kalau Bapak Ibu bisa nyebutkan 15 saja hebat ya. Ini R juta Pak lebih ya. Nah tidak berhenti di situ. Nah fungsi pokok dari BPJS sebetulnya itu tiga. Revenue collection. Bagaimana ngumpulin duit gitu. Yang kedua, respolling di tingkat nasional. Yang ketiga itu strategic purchasing. Bagaimana kita membeli layanan kepada Dari rumah sakit, dari klinik dengan cara yang strategik. Caranya strategik itu gimana?
Antara lain FKTP harus ke FKTP dulu ya. Kalau Bapak bikin atau lihat di Google ya, itu Obama keberhasilan BPJS IKM. Amerika aja lewat sama Indonesia bukan? Saya belum cerita mengenai digital transformation loh ya. Karena di Amerika kebetulan saya pernah di eh katalah Medicare saya bilang too many smart people in US. So the smart people the characteristic they want to be independent and difficult to be managed. Ya, kalau di Indonesia ya enggak banyak-banyak yang pintar ya karena argue-nya itu katanya itu 87. Hah. Oke, naik 93 ya. 93 masih agak berat juga sebetulnya. Tapi tidak itu ee
yang perlu. Nah, ini kenapa COB belum begitu jalan? Menurut saya karena persepsinya masih beda. Satu Indemnity, satunya managec. Nah, kalau padahal yang diikuti itu managecare apa? Kendali BIA, kendali mutu. Kalau di Amerika baru belum banyak managecare ya, Kaisar Permanente atau yang anggotanya banyak. Nah, ini lalu bisa di-fernya pakai INACBG sekarang. Nah, Kemenkes mengusulkan pakai IDRG gitu. Nah, apapun dulu namanya IADRG sebelum INASPIS dirubah inicijs tadi saya sampaikan teman-teman Kemkes sudah dirubah apa aja boleh tapi in. Kenapa? Itu kebetulan Nama istri saya gitu. tambahan aja ini. Eh, tapi kalau tadi disampaikan Pak Sekjen Mab ya, MAT
itu medical advisory board ya, itu BBJ sudah lama kayak gitu ada kendali mutu, kendali biaya, ada CCT ada quality cost group itu sudah anti anti froud system sudah pokoknya sudahlah kayak gitu. Nah, sekarang menjadi masalah ini peserta peserta ada yang di subsidi itu Ministry of Social Affair dari Kemensos, kemudian Kementerian Keuangan, Kementerian Kesehatan, Kementerian eh Minister of Home Affair eh Dalam Negeri dan lain sebagainya. Itu yang subsidi ini jumlahnya berapa? 96,8 juta alokasi uang. Nah, kemudian yang tadi menurut Kemenkes 49-an lah yang 1 sampai kira-kira 5 ya deselnya itu belum masuk menurut Kemensos itu lebih
R juta lebih belum masuk gitu makanya di biar tepat sasaran gitu tapi menjadi persoalan di sini karena kemudian menjadi nonaktif BPJS Cuma ngikutin aja kayak gitu ya ini dan BPJS itu enggak ngerti Ya, itu kira-kira yang non aktif berapa itu enggak tahu. Tahunya itu yang didaftarkan dari penentu nilai yang nomor satu itu ya itu ke Mensos dulu dikasihkan ke Menkes ke Menkes didaftarkan kepada BPJS gitu. Nah, yang nomor dua itu yang punya gaji ya itu 1% ee yang istilahnya pegawainya bayarnya 1% dari gaji dan maksimum ada maksimumnya R juta. Gajinya Rp50 juta ya dianggapnya R
juta kayak gitu. Nah, Pemberi kerja 4% termasuk pemerintah dalam hal ini pegawai negeri ya, pegawai negeri kita banyak di sini pegai negeri itu pemerintah bayar 4% gitu sebagai pemeri kerja. Lalu sektor informal itu bisa 3 dolar, bisa 6 dolar, bisa 10 dolar gitu. Nah, BPJS itu biar masyarakat mudah ya itu kita transformasi mutu ukurannya cuman tiga. Mudah yaitu apa? pakai KTP aja seluruh seluruh Indonesia bisa gitu. Yang kedua cepat ya karena apa? Belum-belum dulu Umumnya wah Pak kami peserta BPJS harus nunggu 6 jam baru dapat pelayanan. Untung kalau dibilang penuh e bisa berhari-hari gitu. Nah
terakhir itu non discrimination itu ukuran kita meskipun masih ada yang didiskriminasi tapi sudah jauh berkurang. Cuman kan enggak pernah dilihat nih jauh berkurang. Yang kok masih didiskriminasi. Iya, sudah berkurang. Ini contoh aja ya. Rumah sakit di Bandung itu kalau peserta BPJS dapat di kelas bawah tanpa AC Jadi satu dengan ee tempat parkir. Saya sampaikan ke Bu James James ingatkan kalau 2 bulan masih kayak gitu putus saja. Ternyata 2 bulan jadi bagus di ada diskriminasi rumah sakit swasta ini ya. Dan saya langsung berkunjung ke sana. Luar biasa. Berikutnya terus. Terus ya biar cepat aja. Terus. Nah,
terus terus cepat terus. Nah, ini biasanya ya ini ni sebentar sebentar sehari itu R52.000 yang pakai seluruh Indonesia sekarang sehari lebih dari 2 juta. Orang Mongol Itu bingung. I cannot imagine how BPJS can handle claim every day more than 1 million. Itu 1 juta klaim sehari. Itu aja bingung. dia enggak bisa membayangkan apalagi 2 juta. Dan itu harus tepat. Kalau umpamanya kita klaim bayarnya itu R miliar terus oleh BPJS dibayar R00 juta. Woh teriak-teriak pasti ini kayak gitu. Dan kami janjikan tidak pernah lebih dari 14 hari ya tanpa pending, tanpa dispute itu kita baca bayar
berikutnya cepat-cepat ya biar Selesai. Nah, ini yang tahun 2025 untuk yang penyakit berbiaya katastrofik itu lebih dari R triliun coba untuk tujuh penyakit gitu. Berikutnya iya lebih dari 50 triliun berikutnya. Nah, ini tumbuhnya dari sisi pendapatan, penerimaan, kolektibilitas itu luar biasa. Kolektibilitas, Pak. sudah 99% dulunya 70% waktu Ibu ee Ibu Menteri Keuangan nih. Nah, itu masih bingung kok bisa sekarang 95% gimana Gitu. Nah, itu ada ada strateginya. Tapi dari sisi penerimaan itu naiknya luar biasa dari 139 triliun di tahun 2020 itu tahun 2005 menjadi 176 triliun. Sekarang ini sudah lebih ya. Ini luar biasa kalau
dari sisi itu. Berikutnya, berikutnya cepat aja, cepat. Mana terima kasih itu. Oh, oh belum. Terima kasih. Tapi yang jelas sebentar sebentar bentar ini penghargaan terlalu banyak jumlahnya. Hampir setiap saat didapat penghargaan. Yang jelas ya Ini dari Boston ya diklik coba diklik. itu heran lihat setiap hari transaksi lebih diklik coba lebih dari 2 juta transaksi dan semua bisa dimonitor ya. Tadi ada Pak Wamen, saya sampaikan loh, Pak Wamen bisa dimonitor kinerjanya seperti apa sebelum jadi wamen kita cek itu maksimum bintang S sampai maksimum L sampai bintang Well, first of all, I'm super impressed with all everything
we've seen here. When they walked in, it looked like Star Wars. It's really something out of the future here. Sending here in front of a screen where everybody sees in real time what is happening with health encounters in Indonesia. Super impressive. So, lessons learned here. Indonesia much more ahead than everybody thinks, which is super impressive. to understand tapi ini BPJS kesehatan Yang bukan urusannya BPJS gitu berikutnya. Nah ini di Afrika Selatan, di UCL, di mana-mana e berbagai di PBB ya diundang segala macam. Berikutnya berikutnya. Halo. Halo, halo. Halo. Next. Next. Ya, ini penghargaan sudah terus
ya ini. Iya. Ini dari Isa Good Practice itu katanya ini terbaik saat SIA Pasifik gitu loh. Terus berikutnya itu pernah di Arab Saudi itu tahun 2024 akhir ya. Ini klik coba ini ya. ini yang To something that is remarkable it helps you to get a feel of what is happening on the ground and how it is being used also to dri and all I think it's I'm I'm highly impressed so to come back to Indonesia and to see the now and what it's achieved is really quite impressive. Um, so I congratulate everyone who's worked at
David J. It's amazing to see the level of coverage across the country and to see the the Attention to to equity and and meeting the needs of the population. And I think I'm still learning about the but what I can say is I'm impressed with how much it is innovated and testing and experimenting with new things. Um, to me, the things that are most exciting are the things that make software difference for the individual. So making access easier um bringing services closer to the individual or to the community I think the ways that JS is
Innovating and finding ways to do that that's what impressive the impressive so that the coverage that BPJS has is something that many countries aspire to achieve so in many ways uh uh it's it's a place that we can look to to learn um and see what being done here that we might be able to transfer and use uh in other parts of the world um that are not as far along in different aspects of health. the integration uh between the levels of the health system and from Providers to uh BJS is something that's really stood
out. So the way that the technology has been used and information is shared to provide better care uh for the population is something that's been really incussive and I'm excited to learn more about that. I was very impressed by that digital transformation and I can't imagine how they handled 1 million insurance claims a day. So I was very impressed by how efficient the leadership, how efficient The management of everything was. So I think Indonesia's experience with JKN has not only been aspirational but it's also been inspirational to a lot of countries which come from the
same context lower middle income countries that are aiming to achieve universal health coverage. The experience that Indonesia has had is provides invaluable lessons to many countries that are on the same path which you know Indonesia has almost achieved near Universal Decreasing out of pocket expenditures improving service dely quality as well as improving efficiency. So I think the world is looking towards Indonesia for you know your country experiences and how we can go back and emulate the same in our country. BPJS K BPJS Kesehatan BPJS Kesehatan keren BPJS kesehatan yang terakhir. Terakhir terakhir sendiri. Nah ini
baru institusi Pemerintah yang tadi Nobel ya. Berikutnya, berikut terus, terus terus nominasi ya baru karena belum dapat kemarin Donald Trump kepenginnya dia ya meskipun yang dapat Venezuela Maduronya ya kakinya di ambil terus hadiahnya dikasih Donald Trump. Nah gitu. Berikutnya berikutnya terakhir terakhir terakhir. Terima kasih atau terakhir anak terakhir. Cuma begini masalahnya di Indonesia itu belum banyak orang tahu Pak. Jangankan Masyarakat, pejabat aja enggak banyak enggak tahu lah. Maka kita bikin lagu belum tahu gitu. Berikutnya terakhir ya. Kenapa? Karena memang ini daripada Bu Rektor UGM itu bersekusi tentang ijazah biar masyarakat tahu tahu karena kalau mau
nyanyi gitu kamu belum tahu DPJS sudah sangat maju Banyak negara yang mau tiru Dengan kembali biayamu banyak berseksi yang masih keliru. Dikiri kelompok tertentu. Mereka yang tidak mampu. Padahal sistemnya sudah menyatu. Kamu belum tahu tahu di rumah sakit ada TPJS Mereka siap membantu. Tolong Kamu cari tahu. Teknologinya sangat citu. Riwayat medis yang di tanganmu membantu doktermu dan kamu tiap saat persepsi yang masih terima jika masih begitu layan kita seperti harapanmu sej BPJS BPCS Disalahin terus tidak menjamin aksesu Semoga kami jadi meski kamu dan keluarga jadi peserta yang saling bantu. Jangan lupa jaga selalu kesehatanmu dan
kuatu. Baikan, terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Pak Jirut. Baik, terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Direktur Utama BPJS Kesehatan atas keynote speech yang telah memberikan kita refleksi komprehensif mengenai perjalanan program jaminan kesehatan nasional di Indonesia. Hadirin yang kami hormati, untuk keynote speech ketiga yang akan disampaikan oleh Bapak Menteri Sosial Republik Indonesia akan kami sampaikan pada saat beliau telah hadir di lokasi acara. Oleh karena Itu, kita akan melanjutkan terlebih dahulu ke agenda berikutnya. Untuk Bapak, Ibu tamu undangan yang hadir luring di ruang rapat Badan Legislasi DPR RI, kita akan melanjutkan dengan pengambilan foto bersama
sebagai dokumentasi kegiatan sarasehan kesehatan nasional Indonesia Public Health Outlook 2026. Kepada para pembicara kami mohon untuk tetap berada di depan. Kepada peserta yang duduk di sisi kanan ee sisi kanan Ruang rapat baris ketiga dan keempat kami persilakan untuk maju ke tengah ruangan. Untuk seluruh peserta selain baris ketiga dan keempat tetap duduk di tempat duduknya. Kita semua akan berdiri menghadap ke atas balkon. Jadi semua menghadap ke atas balkon. Peserta di baris ketiga dan keempat agar maju ke depan. Nanti kita foto dari atas balkon. Nah, kita foto dari atas. Oke. Oke, kita ada saran, Bapak dan Ibu,
selain baris Ketiga dan keempat, kita menghadap ke sana. Semuanya berdiri, Baik, baris ketiga dan keempat silakan bergerak menuju ke tengah ruangan. Baik, kita tunggu 1 menit. Bapak dan Ibu silakan bergerak ke tengah ruangan agar semua bisa terlihat dari atas balkon. Ini narasumber berdiri duduk berdiri dua baik Bapak dan Ibu sudah siap semua? Siap. Oke, Bapak dan Ibu di atas, Kameramen dan fotografer. Yang mana nih? Enggak enggak kelihatan. Oke, satu satu BPJS boleh Bapak Ibu. Sudah, sudah. Terima kasih Bapak Ibu. Silakan kembali ke tempat duduk masing-masing ya. Ini balik dulu. Kenapa kelihatan semua? Bapak Ibu acara
masih lanjut ya. Silakan Ke tempat dulu ya. Ya, silakan Bapak. Pak Menteri Sosial bentar lagi akan hadir. Baik, kami persilakan Bapak dan Ibu untuk kembali ke tempat duduk masing-masing. Kita akan memasuki agenda selanjutnya. Kami juga ingin mempersilakan dengan hormat kepada para pembicara di depan untuk kembali menempati tempat duduk yang sudah dipersiapkan. Iya, ke situ aja enggak apa-apa. Ke situ Aja tuh masih banyak. Heeh. Enggak apa-apa, Mas. Iya, iya, iya. Pak enggak enggak yang di situ Selamat Baik, hadirin yang kami hormati, kita akan memasuki agenda selanjutnya. Kita akan memasuki agenda diskusi panel yang akan membahas secara
lebih mendalam implikasi kebijakan kesehatan nasional Dalam perspektif sistem kesehatan dan kesehatan masyarakat. Diskusi panel pada siang hari ini akan dipandu oleh moderator dan telah menghadirkan sejumlah narasumber yang akan dibawakan oleh Bapak Dr. Hermawan Saputra, SKM, Mars. Dan dengan demikian saya persilakan Bapak Dr. Harmawan Saputra sekaligus Ketua terpilih IAKMI tahun 2022 dan 2026 untuk maju ke depan dan mengundang para pembicara untuk hadir di diskusi panel. Terima kasih kepada saudari Dr. Dewi Nur Aisyah atas kesempatannya luar biasa. Kita applaus buat master of ceremony kita. Beliau salah satu kader IAKMI yang cukup progresif dan smart dan ee saat
ini juga mendukung Kementerian Kesehatan. Bapak, Ibu sekalian, em kita akan masuk kepada sesi panel discussion yang memang alhamdulillah kita memiliki tamu yang bahkan ruangan ini tidak cukup untuk menampungnya Dan semua profesi alhamdulillah hadir di sini. Rekan-rekan, teman-teman dari berbagai profesi IDI, PDGI, kemudian juga PPNI, IB, IAI, PPKMI, ada Prof. Sisil dari Paei, kemudian Persagi, Pak Dodi, IAI lengkap ya PPNE terima kasih. Alhamdulillah mungkin tidak semuanya sempat saya sebut dari organisasi profesi, tapi alhamdulillah Kita sudah mendengarkan bagaimana para pimpinan kelembagaan kita baik dari parlemen, BPJS, maupun pemerintah sudah menyampaikan semacam pengantar bagaimana orientasi pembangunan kesehatan di
Indonesia. Bahkan di sini Bapak, Ibu terkhusus kelihatannya pamungkas tadi adalah di rout BPJS yang mengisi dengan atraktif ya. Dan sebagai pengantar kita juga memperkenalkan ada dewan pengawas BPJS terpilih nih yang sudah ee beberapa waktu yang lalu dikukuhkan melalui Parlemen di DPR RI. Di sini juga hadir nih Prof. Adrianto Pasat. Tadi sudah ada Ibu dr. Lula Kamal juga tadi juga ada Prof. Sunarto. Oke, jadi Bapak, Ibu sekalian ee pertemuan ini alhamdulillah akan menjadi semacam guideline kita ke depan karena berkaitan dengan sarasehan kesehatan nasional Indonesia Public Health Outlook 2026. Nah, untuk materi dan sesi kali ini saya
langsung saja akan mengundang beberapa Narasumber untuk hadir di depan sini di ruang ee depan di podium pertama. Nah, ini saling mendisposisi. Tadi ada disposisi dari Menteri Kesehatan kepada Sekjen. Kemudian sekarang ada disposisi dari Sekjen kepada Direktur PTM, Dr. Siti Nadila. Siti Nadya mana tadi? Saya sudah melihat beliau. Siti, Dr. Siti Nadya Tarmizzi. Silakan. ini saling mendisposisi nih nih. Oh, Sebenarnya ada Prof. Asnawi tapi nanti ada sesi khusus tidak? Dr. Nadia ada sesi khusus untuk Profasenawe. Silakan silakan kita applaus buat drter Siti Nadia. Baik, Dr. Siti Nadya Tarmizi saat ini adalah eh Direktur Penyakit Tidak Menular
Kementerian Kesehatan, tapi sudah malang melintang di berbagai ee jabatan ya di lingkungan Kemenkes. Ee tentu kita sudah mengenal beliau. beliau. Yang kedua kita akan persilakan dari Badan Gizi Nasional Dr. Is. Niken Gandini. Oh, Bu Yesi. Gimana nih? Oke, silakan Bu Yesi karena memang untuk urusan gizi nasional kita sangat membutuhkan sinerginya terkait dengan ee orientasi kesehatan masyarakat kita. mohon berkenan hadir di depan beliau mewakili kepala badan gizi nasional yang Berhalangan hari ini. Kita applaus buat Bu Yesi. Kemudian tentu saja ini ada pamungkas karena seorang tokoh kesehatan masyarakat, guru para ahli kesehatan masyarakat Indonesia dan juga menjadi
ee pembicara di berbagai event nasional dan internasional kita untuk pembangunan kesehatan sebagai legenda bahkan ya legenda hidup The Legend One Prof. Dr. Askobat Gani. Silakan, Prof. Di samping ahli kebijakan kesehatan, Beliau juga dikenal sebagai Health Economis. Nah, ini cocok dengan bahasan pertemuan kita hari ini. Terima kasih Bapak Ibu sekalian. sekaligus kita akan memperkenalkan karena ini akan berurutan kita juga di samping ada pembicara di depan kita tapi juga ada di seberang kita juga tiga orang srikandi akan menjadi pembahas dalam diskusi panel kita kali ini. Ini pertama dari ee forum parlemen Komisi 9 ya. Tentu saja ada
dua orang anggota DPR RI kita dari Komisi 9. pertama Ketua Kaukus Kesehatan DPR RI Dr. Haj Neti Prasetyani, MSI. Makasih, Bu Neti. Kemudian juga ada Dr. Haj Selika Nura MHes. Beliau dari Fraksi Partai Demokrat dan sebagai perwakilan dari unsur yakni IIPTKMI. Saya tidak tahu kalau di Adinkes. Beliau juga pakar kita adalah dr. Agustin Kusumayanti, PhD. Beliau bertiga akan menjadi ee pembahas untuk diskusi kita pada sore hari ini. Baiklah, pertama kita akan ee meminta kesediaan dari Bu Nadya langsung karena mewakili Pak Sekjen tadi Pak Sekjen mewakili Pak Menteri begitu untuk menyampaikan beberapa bahasan yang lebih spesifik
terutama berkaitan dengan program cek kesehatan gratis ini menyangkut capaian dan implikasinya terhadap upaya pengendalian penyakit tidak menular nih di Indonesia. waktu mohon diefektifkan Bu ee Nadya disilakan. disilakan. Baik, terima kasih eh izin Pak Asnawi eh mungkin ee karena disposisi bertingkat-tingkat jadinya begitu eh izin ee Bu Puti, Bu eh Bu Neti ee mungkin cepat saja karena sebenarnya tadi apa yang coba kami sampaikan sebenarnya hampir sudah sama dengan yang disampaikan oleh Pak ee Sekjen ee Pakwan mungkin lanjut slide berikutnya. Jadi kalau berbicara mengenai ee ee ee asa cita. Jadi tadi ini sudah ditampilkan juga ya sama Pak
Dedi ya mengenai apa Sih yang menjadi program hasil hasil terbaik cepat atau PHTC tadi ada yang quickin yang disebutkan pertama adalah PKG, kedua adalah kasus TBC dan rumah sakit lengkap yang berkualitas. Lanjut slide berikutnya. Langsung saja mungkin cepat ya. Ee jadi secara ee cepat kalau kita lihat bahwa ee tadi sudah disampaikan 70 juta telah diperiksa CKG ee di mana 65%-nya adalah ee CKG tahunan dan 35% adalah CKG yang kita lakukan di anak sekolah. Jadi CKG ini meliputi Mulai dari bayi baru lahir sampai dengan laia. Ne. Jadi dia melakukan pemeriksaan gerak pemeriksaan kesehatan mulai dari artinya
ee yang lahir sampai kemudian ee yang lansia. Dan nanti kita bisa lihat bahwa ee tadi sangat ee ee sangat ee sesuai dengan apa yang disampaikan juga oleh Pak Dirut BPJS bahwa ee penyakit-penyakit katastrofik ee itu menjadi beban utama dalam pembiayaan BPJS. Dan kita juga melihat bahwa penyakit tidak menular, Hipertensi, dan diabetes merupakan ee jumlah yang terbesar dari hasil CKG ini. ee nanti 2026 selain tadi peningkatan pemeriksaan dan juga kita tadi melakukan penekanan tata laksana di tahun 2026 ini untuk ee tadi mungkin TBC sudah ee kita ee tahun 2000 walaupun masih ada beberapa catatan tadi yang
disampaikan oleh ee Pak ee Ketua IGAKMI bahwa sebenarnya kita sudah 79% dari estimasi ee tetapi memang ee di sisi lain pengobatan kita tinggi walaupun memang Penemuan kasus harus kita tingkatkan, tapi ee keberhasilan pengobatan terutama yang resisten itu masih harus ditambahkan. Kemudian yang terakhir, PHTC yang ee terakhir adalah pembangunan RSUD yang juga disampaikan. Jadi di peningkatan dari RSUD D ke C di di wilayah DTPK itu sudah ee 10 rumah sakit selesai. Di 2026 itu akan 22 rumah sakit akan selesai dan tambahan lagi 20 rumah sakit berikutnya. Lanjut slide berikutnya. Boleh, ya? Oh, ya. Ya, ini tadi
ee kami sampaikan bahwa PKG itu meliputi mulai dari bayu baru lahir ee balita, anak prasekolah, kemudian skrining dewasa dan lansia. Jadi kalau kita lihat pada skrining dewasa dan lansia itu hampir ada 20 pemeriksaan yang kita lakukan. ee dan ee artinya masih banyak sebenarnya masyarakat dari survei kita ke masyarakat yang belum memahami mengenai CKG ini. Mungkin pada kesempatan ini pada forum yang cukup besar dan ee Dihadiri oleh berbagai ee lintas sektor dan juga lintas program ini bisa juga kita semakin sampaikan kepada masyarakat. Lanjut slide berikutnya ya. Ini yang anak sekolah. Jadi ee kita mulai dari SD,
SMP sampai SMA. Lanjut slide berikutnya. Ya, lanjut ya. Ini kami sampaikan R0 juta, 46 juta adalah ee tahunan. Jadi yang sementara tadi yang di anak sekolah ada 24 juta di mana kita lakukan di 2024 ee sekolah. Nah, nanti di tahun 2026 ini Kita akan ulang kembali. Jadi mereka yang sudah di CKG, di anak sekolah itu akan terus ee kita lakukan pemeriksaan kembali di tahun 2026 ini. Begitu juga untuk ee non sekolah artinya CKG tahunan itu juga akan dimulai kembali sehingga kalau tadi disampaikan targetnya 13 ee R30 juta, R136 juta itu juga adalah mereka yang kita
harapkan tetap terus melakukan ee pemeriksaan baik tahun sebelumnya di 2025 dan nanti di 2026 kita lakukan pemeriksaan kembali. Lanjut Berikutnya ya. Ini sudah tadi mungkin lanjut saja ya. Eh, ini kalau kita lihat tiga provinsi dengan peserta CKG tertinggi itu adalah e secara prostase itu Maluku Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara. Tapi kalau dari jumlah ee Jawa Tengah yang pertama, Jawa Timur dan Jawa Barat. Tapi kalau kita bandingkan dengan jumlah penduduknya ini masih merupakan PR yang besar untuk kita mengejar ee CKG pada ketiga provinsi ini. Sementara kalau Yang paling rendah itu memang ee daerah-daerah pemekaran di ee
Provinsi Papua dan Papua Barat sebelumnya. Lanjut slide berikutnya. Ee ini untuk ee anak sekolah. Jadi kalau kita lihat bayi baru lahir itu sudah mencapai 52%. Ee kalau untuk usia 7 sampai 17 tahun ee karena kita juga menyasar ee sekolah maupun juga sampai dengan pesantren itu 52%. Ee kemudian kalau kita berbicara mengenai ee yang CKG tahunan itu ee baru 10% dari 27 balita dan usia prasekolah ee dan memang yang cukup menjadi tantangan adalah dewasa dan lansia yang kurang lebih angkanya baru 18%. Lanjut slide berikutnya. Nah, ini ee mungkin sedikit ee temuan terbanyak ee dari bayi baru
lahir kalau kita lihat ee yang pertama adalah permasalahan kekurangan enzim pelindung sel darah merah atau yang kita kenal sebagai G6 PD. Kemudian ternyata yang kita deteksi memiliki faktor resiko penyakit jantung bawaan ee Itu ee nomor dua terbesar 662 dan ee kekurangan permasalahan hormon tiroid itu nomor 3. Kemudian ee kita kenal juga kekurangan hormon adrenal atau HAK dan berat lahir rendah itu ee sebesar 0,13%. Lanjut slide berikutnya. pada anak balita dan usia sekolah ee ini gigi karias paling besar ee jadi mungkin menjadi PR kita semua. Ee kemudian berat badan yang kurang, tuberkulosis juga kita temukan pada
usia ini dan pada anak ee usia SD. Kemudian ee adanya gangguan Perkembangan dan anemia. Jadi ke anemia jug kalau kita lihat ee angkanya di sini ada sebesar 4,5 juta. Lanjut. Kalau pada usia ee 7 sampai 17 tahun ee gigi tetap nomor pertama, kemudian kita sudah temukan ee gejala hipertensi pada anak ee usia ee rentang usia 7 sampai 17 tahun. Jadi biasanya umur ee 14 15 tahun kita temukan tekanan darah ee sudah ada hipertensi di situ. Kemudian kalau kita kenal dengan adanya ee kotoran di telinga itu nomor tiga pada anak usia Sekolah ee gizi kurang itu
sudah mulai kita lihat ee dan anemia. Artinya kalau kita bicara mengenai bagaimana pencegahan stunting, kalau kita lihat di sini dimulai usia 717 tahun itu kita sudah punya masalah gizi kurang dan anak di satu ee usia ee usia sekolah kalau kita lihat ee anemia juga sudah ee kita temukan sebagai salah satu masalah kesehatan. Lanjut slide berikutnya. Kalau kita lihat kembali pada dewasa ini lagi kembali nomor pertama adalah gigi Karies. Eh tadi PR-nya Pak Usman cukup banyak Pak Usman karena nomor satu terus pada segala rentang usia. Kemudian obesitas sentral. Eh jadi kalau kemarin ee Pak Menkes disampaikan
sempat menurunkan ukuran celana ya Pak ee Asnawi ya. Jadi ini benar terbukti memang harus menurunkan ukuran celana karena obesitas sentral ee memang jadi permasalahan pada usia ee produktif kita. hipertensi tadi kami sampaikan dan kolesterol tinggi serta diabetes. Jadi Kalau kita lihat empat yang belakang itu adalah nanti cikal bakal daripada ee apa yang disampaikan oleh Pak Dirut ee BPJS tagi sebagai ee terakhirnya atau ujungnya adalah penyakit-penyakit ee yang berakibat pada pembiayaan yang kita ee ketahui sebagai pembiayaan katastrofik. Lanjut slide berikutnya. Lanjut ya. ini pada lansia kurang lebih sama. Ee jadi lansia jarang yang obesitas sentral mungkin
karena sudah pensiun ya Bapak Ibu ya. Jadi ee ee jadi Kalau kita lihat justru malah tekanan darah tinggi yang pertama kemudian gangguan penglihatan biasanya karena katarak kemudian kolesterol tinggi dan ee diabetes. Ini kita lihat gigi memang masih jadi kalau kita lihat ee gigi ini PR-nya ee dari lahir sampai dengan lansia. Mungkin kalau bayi baru lahir kan belum punya gigi. Ee jadi yang sudah punya gigi pasti sudah punya masalah ee permasalahan gigi. Lanjut slide berikutnya. I lanjut ya. Jadi ee kira-kira kita mengambil yang mungkin sesuai dengan berdampak terhadap kematian dan kesakitan yang tinggi serta kecacatan ee
yaitu kita mengambil seperti hipertensi, diabetes, dan ee kanker payudara. Jadi kalau kita lihat memang ee tertinggi adalah seiring dengan bertambahnya usia. Lanjut slide berikutnya ya. Nah, yang menjadi permasalahannya adalah dari orang yang kita ketahui hipertensi, ternyata yang balik untuk ee mendapatkan Pengobatan ee itu masih ee sangat rendah dan apalagi kalau kemudian jadi hanya 20%-nya yang bisa kemudian ee mendapatkan pengobatan dikarenakan setelah hasil CKG itu mereka tidak datang kembali ke faskes dan kemudian dari mereka yang datang dan terus melakukan pengobatan sampai dengan tekanan darah. nya itu terkontrol itu ee sangat kecil atau 3,1% ya. Jadi ini
merupakan PR ee untuk hipertensi kita. Jadi kalau kemudian kita menemukan kasus Stroke kemudian ee kasus-kasus penyakit jantung ya ee sebenarnya ee harusnya kita tidak heran karena dari ee hulunya saja sudah kita melihat ee ee situasi seperti ini. Lanjut slide berikutnya. Ini mungkin untuk DM. Lanjut ya. slideak eh sori sori mundur. Eh untuk DM tadi ee ini juga sama. Jadi dari ee jumlah diabetes yang kita temukan itu yang tadi datang kembali itu kembali hanya 20% ke kemudian rajin kontrol itu Hanya 12,6% dan yang ee bisa mengendalikan diabetes melitusnya itu hanya 2,3%. Lanjut slide berikutnya. Nah, ini
mungkin karena kita tahu kanker payudara adalah ee kanker nomor satu pada perempuan. Ee dan kita bisa melihat bahwa sebenarnya kita juga melakukan deteksi. Tapi kembali lagi yang mau untuk dirujuk karena penanganan dari kanker payudara tuh harus ke rumah sakit, tidak bisa diselesaikan di puskesmas yang akhirnya mau dirujuk Kemudian ke rumah sakit kemudian ee bisa sampai kita diagnosa. Kita belum lihat apakah ee sampai dengan pengobatan selesai atau tidak. ini ee belum kita evaluasi lebih lanjut, tapi sampai terdiagnosa kanker pun itu hanya 7,2% padahal kita sudah menemukan abnormalitas payudara pada ee perempuan yang kita lakukan ckg. Lanjut
slide berikutnya ya. Ee jadi ini yang akan kita lakukan. Kalau tadi Pak Sekjen mengatakan bahwa Ke depan kita bukan hanya berhenti pada screening, tapi kita akan ee melakukan tata laksana. Jadi yang pertama adalah pemberian obat pada hari yang sama dengan hasil screening. Jadi tidak meminta lagi untuk peserta CKG datang lagi minggu depan atau besoknya untuk mendapatkan obat. Tapi langsung kita berikan obat terutama untuk DM dan hipertensi. Serta tadi karena permasalahan kolesterol cukup besar jadi kolesterol juga akan diberikan. Jadi Obat ini akan diberikan minimal 7uh sampai dengan ee rata-rata 15 hari untuk memberi kesempatan kalau misalnya
ee pasien yang tadi kita diagnosis berdasarkan hasil CKG itu akan mengaktifkan BPJS-nya ataupun untuk pindah ke pesertaannya ataupun kemudian untuk melakukan perubahan-perubahan lain terkait ee seperti misalnya menjadi anggota baru BPJS. Jadi kita ee akan diberikan obat secara gratis oleh pemerintah. Ee kemudian yang lain ee Tadi kita lihat bahwa masih banyak ya yang tidak mau untuk datang sehingga beberapa ee penguatan seperti pelibatan kader, pemantauan wilayah setempat ee posyandu, adanya WA grup itu juga akan kita ee lakukan di ee upaya kita untuk ee bagaimana tadi bukan hanya ee screening sampai dengan tata laksana dan ee digitalisasi untuk
monitoring pasien sebagai bagian yang ee tentunya menjadi PR kita di tahun 2026 ini seperti reminder ee pada satu sehat Mobile Dengan ee tentunya mengharapkan semua masyarakat bisa men-download satu sehat Mobile supaya fitur remindernya bisa muncul. Kemudian nanti di pencatatan di tenaga kesehatan itu akan ada notifikasi untuk pasien-pasien yang tidak datang. Kemudian tadi untuk mengetahui apakah ee pasien datang ke faskes lain ataupun ke rumah sakit ini akan dilakukan cross notifikasi di dashboard pada tenaga kesehatan ada tagging merah serta ada interoperabilitas termasuk juga ee Memungkinkan interoperabilitas dengan BPJS melalui sistem Pare yang ada di dalam BPJS supaya
ee kita bisa ee melihat bagaimana tata laksananya karena nanti ee tentunya tata laksana ini memang disediakan di awal obat secara gratis oleh pemerintah. Tapi kemudian nanti akan selanjutnya karena hipertensi DM adalah pengobatan jangka panjang pasti akan ee mengikuti kepersertaan daripada ee pasien tersebut. Lanjut slide berikutnya ya. Mungkin sedikit Tambahan ee kita juga mendeteksi jadi kalau kita harus sehat, sehat jiwa dan raga. Kalau kita lihat di sini ee kalau terkait permasalahan kesehatan jiwa itu depresi dan cemas ternyata lima kali lebih besar dibandingkan kelompok dewasa dan lansia. Mungkin kita tidak bisa mendeteksi secara langsung. Tapi dengan adanya
CKG ini, Bapak, Ibu sekalian, kita bisa lihat bahwa ee kondisi depresi, cemas pada anak dan remaja itu cukup tinggi. Dan ini artinya mengapa Kemudian menjadi perilaku berisiko ee termasuk mungkin nanti kebiasaan yang terkait PTM seperti merokok ataupun ee konsumsi gula garam, lemak yang berlebihan itu juga salah satu upaya untuk ee merilis mungkin gejala depresi dan cemas pada anak dan remaja ini. Lanjut slide berikutnya. Ee mungkin ini tata laksananya bahwa memang skrining kesehatan dilakukan di Puskesmas, tapi kemudian untuk pemberian obatnya ada yang bisa dilakukan oleh Puskesmas, ada Yang memang harus dilakukan rujukan. Jadi sama kembali lagi
untuk rujukan kita akan mengikuti ee mekanisme pembiayaan sesuai kepesertaannya, apakah itu BPJS ataupun non BPJS ya. Saya cuma cek lagi aja kan, Pak. I ya. Ya. Ya. Ee lanjut saja. ini ee beberapa yang tentunya di 2026 untuk peningkatan kesehatan jiwa, peningkatan kapasitas petugas, kemudian penyediaan obat, Kemudian edukasi ee serta ee pengembangan hotline untuk pencegahan bunuh diri. Lanjut slide berikutnya ya. Lanjut ya. Ini ee target kita di RU 26 R130 juta. Kalau tadi R3 juta ini akan meningkat kurang lebih dua kali lipatnya. Ee jadi kita berharap bahwa semua ee yang hadir di sini juga bisa mengajak
untuk ee masyarakat melakukan CKG kembali. Kalau yang sudah di 2025 kembali, yang belum ee untuk ikut ee CKG ini ee sepanjang tahun 2026 dan ee kita Punya pengalaman R591.000 ee per hari. Tapi artinya kalau ee Rp0 juta 2025 itu R591.000 R000 per hari, maka kemungkinan kita harus meningkatkan kurang lebih sampai 1 juta seperti itu. Lanjut slide berikutnya ya. Ini beberapa strategi untuk bagaimana mulai dari screening sampai dengan tata laksana kita lakukan. Ya, saya rasa saya berhenti di situ. Ee Pak Hermon terima kasih banyak ee saya cukupkan. Ee asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jadi terima
kasih Dr. Nadia sudah menyampaikan capaian dan juga forecasting perencanaan di tahun-tahun mendatang. Berikutnya kita akan mendengarkan penyampaian paparan dari Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN Ibu Dr. Ermia Sofiesi. Disilakan Bu. Baik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Yang terhormat ee tiga srikandi pembahas ini katanya Ibu semua. Ee mungkin saya tidak perlu satu-satu lagi ya, Bapak Ibu semua. Ee yang terhormat juga Bapak Ibu ee Bapak moderator, Bapak Ibu semua di sini. Perkenalkan saya Yesi. Saya sendiri sebagai sekretaris deputi bidang sistem dan tata kelola. Ee permohonan maaf dari Pak Kepala Badan Ibu karena beliau harus ke lapangan.
dan Pak Tigor juga sedang ke lapangan. Jadi kami setiap hari ini Berganti harus ke lapangan mengingat ee sejumlah satuan pelayanan pemenuhan gizi berting ee selalu bertambah setiap hari. Mungkin ee langsung saja kami akan menyampaikan bagaimana Indonesian eh mendukung Indonesia Public Health Outlet 2026 dari Badan Gizi Nasional. Ee silakan paparannya Mbak mungkin ke ee slide 14 langsung ya. Bapak, Ibu sekalian bahwa kita tahu Badan Gizi Nasional ee mendapat amanah untuk ee melaksanakan sistem pemenuhan Gizi ee dengan ee dengan programnya makan bergizi gratis di mana ee kita membangun satuan pelayanan pemenuhan gizi yang sampai saat ini memang
sudah mencapai ee 23.144 per hari ini 23.14 4 dengan beroperasional sebesar 21.381 dan dan masuk dalam tahap persiapan saat masih sudah tinggal 1763. Ini SPPG agromelerasi bukan termasuk tadi ee SPPG terpencil. Jadi SPPG terpencil ditargetkan sekitar 8.000 Ibu Dan saat ini masih dalam berproses. Ee Bapak, Ibu sekalian bahwa dari target operasional SPPG dan penerima manfaat yang telah tercapai ee sampai ee Februari ini, maaf ini salah ketik ini ada yang Agustus pada sampai Februari ini adalah ee tadi operasional SPPG-nya sebesar 23.14. Ee lalu ee penerima manfaatnya sudah mencapai ee 67 juta ee ee yang sudah kita
layani. Ee mungkin Sekitar 2 miliar kita porsi yang sudah kita berikan dengan target lapangan kerja baru yang sudah dihasilkan di SPPG ini sebanyak seri 1 juta orang. ee apa e target ee pekerjanya ya, relawannya yang ada di sini, lapangan kerja baru dan ini masih di sekitar SPPG saja. Kita belum belum lagi menghitung efek multiplier effect yang di ee yang disebabkan oleh SPPG ini gitu ya. Karena ini menyangkut kepada supplier. Dari supplier ketemu lagi Pemasuk, dari pemasuk ketemu lagi petani kita. Jadi ee sedikit sudah beberapa hal kita kita coba hitung ee dan ee mungkin di site
di slide ke selanjutnya Mbak nanti setelah itu. Nah, ini kira-kira yang membuat e kita sudah mencoba menghitung Bapak Ibu dari operasional yang sudah operasional hari ini per hari ini 21.381 SPPG. kita berusaha untuk menghitung berapa sih sebenarnya jumlah produsen yang perlu atau petani yang diperlukan. Nah, ini kalau dihitung-hitung untuk ee pisang saja sudah 3.800 petani per bulan. Jadi ee bisa kita bayangkan bahwa ee multiplayer effect-nya dari SPPG, dari MBG ini ee sangat eh signifikan berpengaruh di masyarakat kita. Lalu next ini kontribusinya dari pemasok bahan pangan petani dan peternak ini beras ayam telurnya sedang belayar berasnya
sendiri sekitar 106.905 pemasok. Jadi ini pemasoknya saja belum kepada efek di belakangnya gitu ya. Next. Lalu lanjut ini perakiraan kebutuhan bahan pangan SPPG wilayah agromerasi. ini kita menggambarkan bagaimana efek dari ee kalau dikasih makan bergizi gratis selain anaknya yang mendapat kesehat, hal-hal lain bisa tercapai di sini ya. Bagaimana ee pemenuhan kebutuhan pangan sendiri itu mempengaruhi ee tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar. Karena di ee Perpres 115 tahun 2025 juga sudah Dibunyikan bahwa ee MBGR ini harus memberdayakan ee lokal. Jadi sudah disebutkan sekali langsung di Perpres sehingga kita sudah bisa melihat bahwa ternyata perakiraan kebutuhan pangan di SPPG
di warumasi ee semakin hari semakin meningkat sesuai dengan ee ee jumlah SPPG yang ee sudah ee ada sampai saat ini. Next. Selanjutnya ini yang tadi saya sebutkan bahwa SPPG ee di yang sudah kita bangun itu ada dua, SPPG aglomerasi dan di wilayah Terpencil ini luasannya tidak terlalu banyak, tidak terlalu besar di 150 m² dengan menyiapkan tiga kamar dan ada beberapa fasilitas yang memang dikhususkan untuk ee tiga unsur ee organik BGN. Next, tidak usah terlalu panjang. perakiraan kebutuhan bahan pangan di wilayah terpencil ini juga sudah bisa kami coba petakan Bapak Ibu sekalian. Ee lalu ee kita
kembali ke Kita kembali ke slide atasnya bahwa di dalam tahun 2025 Bapak Ibu sekalian ee kami Badan Gizi Nasional berusaha untuk memetakan mungkin kita sudah banyak mendengar ya hal-hal yang terjadi di dalam program MBG dan di tahun 2025 sendiri kami berusaha ee untuk mengatasi hal-hal tersebut gitu ya Dan ee mungkin kalau kita lihat di slide keempat, Mbak, yaitu kejadian menonjol di dalam MBG yang telah ee menurun. Nah, ini Bapak Ibu sekalian, kejadian Menonjol dalam MBG telah menurun secara signifikan sejak September 2025. Izin kami menamakannya kejadian menonjol karena memang itu sudah di nomenklaturkan. Jadi, bukan apa
namanya kejadian luar biasa. Kesannya kalau kejadian luar biasa itu kayaknya mati orang semua gitu ya, Bu. Betul. Jadi kita ee hal-hal yang seperti ini sebenarnya psikologis juga untuk kita bisa mengembangkan program ini untuk lebih baik gitu ya. Jadi kejadian Menonjol dalam MBG telah menurun. Memang ee kalau kita melihat dari Agustus ke September itu cukup tinggi di mana di sini terjadi percepatan ee ee adanya SPPG tersebut. Jadi sejak Agustus ini ee jumlah satu ee sarjana penggerak pembangunan Indonesianya juga sudah bertambah sehingga SPPG-nya juga meningkat ee cukup tajam. Nah, linier dengan kejadian menonjol yang ada ini proses
belajar yang harus kami lakukan, yang kita lakukan bersama baik di Tingkat pusat sampai tingkat daerah. Dan ini begitu penanganannya ee kita lakukan secara ee intensif. Nah, alhamdulillah di bulan Desember itu kejadiannya tuh tinggal delapan. Walaupun kejadian-kejadian masih ada, namun tidak terlalu membuat ee apa ya mm gregetnya lagi gitu ya, Bu ya. Jadi sudah ada ee apa cara-caranya gitu ya. Walaupun mungkin Bapak Ibu mendengar berita terakhir cukup membuat greget gitu ya. Tapi kami berusaha memperbaiki terus ee Tidak ee seperti yang sebelum-sebelumnya. Ee lalu kita lihat kita sudah memetakan ke isu strategis yang ee ada pada saat
risiko. Nah, ini Bapak Ibu kita mencoba untuk mengklasifikasikannya di mana ee apa saja sih yang terjadi gitu ya. Nah, ternyata ada penolakan program MBG di masyarakat, gramasi menu tidak sesuai angka kecukupan gizi, lalu pencurian bahan baku di SPPG oleh relawan itu kita sudah meng ee Kelangkaan bahan pangan di sini masih keracunan pangan ya tadi kejadian menonjol itu ya, Pak Bapak, Ibu. Program dianggap cacat hukum, program dianggap mengambil hak asasi di bidang pendidikan gitu. ini kita sudah memetakannya dan ee next-nya Mbak ini kita sudah mencoba untuk kenapa sih berdampak tinggi gitu ya. Ee untuk isu keracunan
pangan atau kejadian menonjol tadi ini ee tentu dampak tinggi ini akan menyebabkan kesesahan di masyarakat, menimbulkan Kegaduhan sosial, mempengaruhi tingkat kepercayaan pada program ee MBG sendiri. Kemungkinan terjadinya rendah yaitu kenapa kemungkinan terjadinya itu rendah? kepatuhan terhadap pedoman petunjuk teknis dan standar operasional prosedur itu sudah mulai diikuti tadi yang penurunan tadi minim ee dan satu lagi yang kedua tadi tinggi karena minimnya kontrol terhadap SPPG, rendahnya kontrol kinerja kepada kepala SPPG. Nah, ini memang di tahun-tahun 2005 karena target kami kuantitas belum kualitas. Makanya ee seiring berjalan waktu kita berusaha untuk memperbaiki kinerja dari Kepala SPPG yang memang
menjadi ee kepala atau ee ee pengelola dari ee satuan pelayanan pemenuhan gizi. Apa sih mitigasi yang sudah kami lakukan Bapak Ibu? bahwa adanya pedoman dan petunjuk teknis yang detail menjelaskan mengenai penyediaan bahan baku, lalu pengolahan, manajemen waktu, peningkatan pemantauan dan pengawasan, serta Pemberlakuan sanksi. Sanksi terhadap pelanggaran harus selalu diimplementasikan dengan tegas dan telah dilakukan sosialisasi dan pelatihan keterampilan kepada seluruh personil SPPG dengan mematuhi secara komprehensif pedoman dan petunjuk teknis dan SOP yang sudah kami tetapkan. Jadi ke sini makin ke sini kalau Bapak Ibu dengar lihat di TikTok di segala itu sudah kami berlakukan suspen untuk
SPPG yang sudah bermasalah. Jadi begitu ada terjadi Kejadian aja hanya untuk en orang saja ee SPPG itu sudah langsung kena suspen SP1 untuk perbaikan selama 1 minggu. Bila tidak ada itu akan ada SP2. Nah, bila tidak ada perbaikan, mohon maaf sekali akan langsung kami keluarkan surat untuk penutupan permanen dan ini memang prosesnya melalui beberapa tingkatan ya memang ke kedeputian yang memang bertugas untuk itu gitu ya. Jadi hal-hal yang seperti ini sudah makin ke sini makin ee kita berlakukan sanksi. Baik untuk kepala SPPG-nya pun kalau bermasalah itu sudah dalam SP juga karena status mereka yang BCH
2 sudah ASN jadi kena sanksi paling tidak dinonaktifkan dulu tidak memegang SPPG lalu itu pertama. Lalu yang kedua memindahkannya ke daerah yang ee tidak di daerahnya. Jadi jangan-jangan kepala SPPG ini karena di merasa di daerahnya dia keenakan. Jadi tidak ada rasa fight, tidak ada rasa ee apa untuk dia bisa mengontrol ee dirinya gitu karena dia Merasa dekat dengan ee daerahnya. Next. Ee ini salah satu isu-isu yang mungkin yang sangat ee mungkin ada yaitu penggunaan dana program. Next. Nah, ini kenapa berdampak tinggi makkan menyebabkan kerugian negara, kegaduhan sosial di media sosial, tingkat kepercayaan. Kenapa terjadinya tinggi
mark up bahan pangan, bahan baku dengan oknum di SPPG, ketidakpatuhan terhadap pedoman. Nah, markap ini juga sudah kita berlakukan Karena tahun ini merupakan tahun kualitas Bapak Ibu. Jadi, kuantitas tidak lagi dikejar. Kami memberlakukan namanya arahan kebijakan pemimpinan adalah tahun kualitas di mana semua infrastruktur baik infrastruktur SDM dan apa fasil ee pembiayaan itu kita naikkan semua. Jadi kalau sudah ada harga up, harga bahan baku ini sampai mitranya pun kami SP-kan. Jadi tidak KSPG-nya tapi mitranya pun diesP-kan gitu ya. Jadi ini polisinya BGN sudah bergerak Bapak Ibu Yaitu kedeputian ee pemantauan dan pengawasan. sekarang tiap hari paling
tidak du SPPG itu kena SP baik ini ada AKAP maupun ee ee permainan dari KSPPG maupun di ee mitranya. Jadi ee hal-hal yang tersebut yang kita ee ee kita lakukan mitigasinya kita selalu berusaha untuk menghubungkan dengan kebijakan-kebijakan yang ada baik itu kebijakan platform harga resmi. Untuk markup ini mungkin platform harga resmi yang ada di daerah bekerja sama dengan Pemda. Lalu kita juga menggunakan indeks kemahalan wilayah. Ini sudah melalui berbagai kajian dan tahun ini kemungkinan akan ada kajian baru karena kajian yang lama masih di 2024. Ada beberapa daerah yang memang memerlukan indeks kemahalan yang e perlu
pengulangan. Contohnya di Papua Pegunungan, Bapak Ibu. Jadi, Papua pegunungan saat ini mungkin sekitar Rp50.000 per porsinya. Jadi, ini membuat kita harus mereform lagi gitu ya indeks Kemahalan wilayahnya. Ee baik baik ee mungkin itu saja pencurian bahan baku ini juga sudah di dipidanakan. Jadi kalau yang bahan baku kemarin ada beberapa SPPG relawannya sudah dipidanakan dan mungkin terakhir dengar yang terkait dengan akuntan atau pengawas keuangan yang me ee ya mengambil uang em SPPG itu sendiri ya untuk uang ee bantuan bantuannya yaitu uang operasionalnya kelangkaan bahan pangan. Ee mungkin Lanjut yang terakhir. Lanjut yang hampir terakhir. Baik, ini
produk-produk kebijakan yang sudah kita buat Bapak, Ibu sekalian dan tahun ini karena produk tersebut menuju ee apa kebijakan itu menuju kepada kebijakan kualitas, maka ee produk kebijakan yang akan kita buat juga justru untuk ee ee menunjang kualitas. Ee ya mungkin kalau yang berhubungan sama kesehatan sertifikasi. Bapak, Ibu sekalian, setiap SPPG yang ditetapkan Untuk operasional saat ini sudah harus memiliki SLHS di mana 1 bulan setelah dia penetapan operasional dia wajib untuk SLHS. Memang sampai saat ini sih masih 7, masih 7.704 4 yang sedang apa yang sudah SLHS dan mungkin di beberapa ee dinas-dinas saat ini sedang
berproses. Jadi ya kita sedang bekerja sama terus dengan Kementerian Kesehatan ya Bu, Pak untuk bisa mencapai SLHS. E Bapak Ibu sekalian, saat ini sanksi juga sudah Ditetapkan. Kalau SPPGUS tidak mendaftar SLHS mendaftar saja itu sudah akan dapat suspen satu lagi dari Badan Gizi Nasional. Demikian Pak yang dapat kami sampaikan. Terima kasih Bapak Ibu semua. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bapak Ibu sekalian ini ee saya menegaskan sebelum kita masuk ke Prof. Pak Kobat bahwa ee Badan Gizi Nasional alhamdulillah sudah Mengoptimalkan tenaga kesehatan masyarakat para ahli kesmas di berbagai wilayah di Indonesia untuk turut mengawal mutu
dan terlaksananya program ini dengan baik. Kita applause buat BGN dan Tenaga Mas Indonesia. Baik, kita masih ada waktu namun semakin ee mepet waktunya. Sekarang kita akan masuk ke pembicara ketiga yang tentu saja kita akan mohon kesediaan Prof. Dr. Asobati, M.Ph., DRPH. Yang pasti, Prof. Pimpinan Komisi 9 DPR RI, Ketua IAKMI Dan Ketua Adinkes. Bahkan di hadapan Kepala BKPK, tim dari WHO, CCM, Global Fund dan mitra kita yang luar biasa. Mohon berkenan Prof. menyinergikan bagaimana mengharmonisasikan semua ini. Silakan, Prof. Makasih, Pak Moderator. 15 menit, ya. Siap, Prof. Pendek betul itu. Lebih cepat lebih baik. Baik. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Selamat sore. Saya ini sebetulnya mewakili Hadinkes ini Pak Subu ya karena katanya anggota dewan pakar tapi juga yakmi. Pakkesmi saya masih dewan pembina puskesmas gitu. Saya juga dewan pembina AS klin. Saya enggak diundang ini Pak Subuh asosiasi klinik swasta 11.000 loh anggotanya itu. Saya pendirinya dan sayaan pembina. Ee yang kedua saya anggap penting sekali kalau Kemendagri hadir sini dan Kementerian Pendesaan karena saya akan Kemendagri ada ya. Maaf kalau Iya. Jadi begini saudara saya enggak ada slide mungkin ada beberapa ya nanti saya baca ini pedoman saya untuk berbicara saja saya akan mengutip pepatah Cina.
Saya enggak bisa bahasa Cina jadi saya sampaikan dalam bahasa Inggris bunyinya mengatakan we would never eat the omelet without breaking the exel. Kita tidak akan pernah makan telur dadar Kalau tidak berani memecahkan kulitnya. Kalau makan telur, pecahkan kulitnya baru kita lihat telur busuk apa telur layak makan apa tidak. Kenapa itu saya sampaikan begini, UNDP tahun UNDP tahu ya, United Nations Population Development tahun 2000 mengatakan people are the real wealth of a nation. Kekayaan sejati sebuah bangsa itu adalah penduduk. Bukan nikel ya. Kita ribut sekarang. Bukan kelapa sawit Ya. People are the real wealth of a
nation. Item kedua tadi patah Cina. Nah, kenapa saya mengutip pepatah cita ini begini? Baru-baru ini mungkin mudahan saya enggak salah ya di medsos saya lihat presiden kita mengatakan bahwa penduduk negaranya paling bahagia itu Indonesia. Anda percaya enggak itu? sebuah paradoks kan ya kata Bang Dunia miskin kita kan naik sehingga mengatakan Profangkali untuk bahagia kita miskin Aja deh gitu kan begitu ya paradoksnya saya mencari kenapa kira-kira ya kan coba slide turun slide berikut terus terus terus terus satu slide lagi turun lag satu lagi stop ah ini IQ dari beberapa studi ya generasi tahun-an tuh 109 AQ
kita turun turun turun tahun 2020 ke 78 2024 itu dari World Population Report itu 7849 ya sama dengan Timor Liste the worst in Southeast Asia inilah wales kita tadi berikut slide berikut tolong lewat ya jangan ini nanti terakhir Berikutnya, berikutnya. Nah, ini studi lain lagi sama kira-kira hasilnya itu ya. Kita terendah lumayanlah naik 92. Coba slide sebelumnya yang ada monyetnya itu IQ kita sama dengan gorilla. Barangkali ini menjelaskan why we become the happiest people in the world. Karena Tres bahagia, monyet itu Rendah. kasih pisang bahagia dia. Saudara ketawa saya mau nangis ini ya. Dikasih makan,
dikasih mainan, bahagia. Tress untuk bahagia itu rendah karena kita monyet IQ. Jadi sebetulnya tamparan buat kita ini bagaimana kita mau bersaing ke depan dengan IQ gorila. Habis kelapa sawit kita ke bahan hutan ya kan. Nikel habis, batu bara habis, minyak habis. karena kita monyet. Nah, kenapa itu terjadi? Kan begitu pertanyaannya. Saya akan masuk ke substansi. Mudah-mudahan Pak Suu Ketum ini ada manfaatnya untuk Indonesia. Kembali ke slide pertama coba. Nah, jadi kita harus pecahkan kulit telur. Ini saya ambil. Saya pernah kepada Pak Menkes yang pertama tadi. Yang kedua. Yang kedua, maaf. Ah, enggak usah dibaca saya
terangkan itu ya. Yang merah-merah itu adalah ini Riskidas 2013 18 SKI 2003 baru ini yang merah itu Adalah tren PTM ya naik semua ya itu logis karena orang tua kita makin banyak hari ini lansia kita kan 28 juta orang nanti 2030 di akhirnya zamannya Pak Brobowo ini naik menjadi 36 juta. Tahun 2045 68 juta tiga kali penduduk benua Australia. Segerombolan orang tua-tua ini seperti saya ini di situ. E ciri orang tua ini kan pertama jelas enggak mati-mati gitu, Pak Subuh. Ya, saya termasuk lansia. Saya harus katakan umur saya 80 sekarang. Jadi saya lansia. Jadi enggak
apa-apa saya ngomong-ngomong hal-hal yang miring tentang orang tua kan gak apa-apa ya. Enggak mati-mati. Yang kedua kata cucu saya cerewet. Ya. Yang ketiga selalu ngomong masa lalu ya. When I was as you begini selalu masa lalu. Kenapa kakek enggak mau cerita masa depan? Saya bilang, "There is a graveyard in front of me. Masa depan saya kuburan. Saya enggak mau cerita." Tetapi yang terakhirnya penting yang menggerogoti Pak Guon tadi, Stroke cancer kan begitu ya. Gagal ginjal. tahun yang lalu saya baru dengan Pak Guon itu cuci darah itu 7,8 triliun. Ini kantongnya Pak Gofron 7,8 triliun baru
cuci darah. Kalau stroke lebih tinggi lagi. Nah, itu orang tua-tua pasti itu kaum saya tadi. Jadi yang merah ini ya ini kondisi sinekanonnya akan naik begitu. Bagaimana kita mengatasinya? Bendung. Jadi kalau tadi cuci darah stroke itu ibarat Air keruh di hilirnya sungai jernihkan hulunya. Nah, Ibu tadi yang mau promotif preventif saya sudah capek dengarnya tuh ya. Polisi kita tingkatkan promotif kir saya sudah pensiun begini mau mati masih dengar itu juga berkuat permutif preventif pencegahan capek saya dengarnya itu. Nanti saya jelaskan ya. What we should do kan. Jadi bendunglah air keruh ini di hulu CKG. Iya,
tapi nanti ada pendapat Tentang CKG gitu ya. Yang biru biru itu ini penting sekali. Inilah berkaitan dengan early human capital investment tadi modal manusia ya. Karena biru ini kan imunisasi secara lengkap, anemi bumil, kemudian stunting itu semua menyangkut dengan ibu hamil, bayi balita anak remaja memburuk. Bukan data saya, datanya Kemenkes itu discuses dasas mana Pak Asnawi ini kan Kemenkes Bu Nadia juga ya bukan data Saya Pak Menteri kan nanya itu dari mana tu PR kantor Bapak saya bilang ya. Nah, kemudian ya saya enggak usah sebutlah TB segala macam ya. The progress is so small despite
ini banyak sekali selama 2013 25 yang tadi promotif preventif kita punya pedoman yang gebrak malaria dari R Maria kan UNICEF bikin IMCI kita terima MTBS Gerdunas TB sekarang maaf nih ya Pak e C bu ILP Ya ada 4 L kluster kegiatan dalam gedung luar gedung total kegiatannya 518 ya kata Margaret Chan diur WHU 2017 so much we have done in developing innovation guideline we up go up to the ceiling jadi pedoman-pedoman itu termasuk barangkali kita sampai ke langit sampai ke atap but kata si Margaten itu di 2007 ya one thing has been negle severely. Apa
itu health system strengthening? Jadi, Pak Subuh ya, ada Kota di Banten itu kekurangan makan. Pas saya punya ikan bagus ini. Ketum Yakmi. Oh, saya punya sayur. Saya punya ini. Kita kumpul pertanya gimana membawanya ke sana. Truk kita tuh bocor bannya, sopirnya SIM-nya baru ditangkap polisi. Uang tol enggak ada. That is the system yang kita neglected. Kita sibuk dengan inovasi-inovasi termasuk dosa saya juga bantu-bantu pedoman-pedoman begitu. Pedoman daa ya pas ya pedoman itu tetapi sistem tidak kita lakukan. Itu kira-kira Menjelaskan kenapa ini no significant progress. Pertanyaan saya, apakah nanti kalau SKI kita lakukan 2028 kita bikin
legesim membaik gak? Time is 4 tahun lagi mau begini enggak? Jadi hiruk pikuk di gedung DPR yang terhormat ini apakah begini lagi? Nanti kita meeting lagi kalau saya masih hidup Bu ya. 2008 hadir di sini masih sama saya bikin tabel berikutnya. Itu challenge kita. I not quite optimistic. Ya, ini mungkin saya salah. Ini kan seorang pensiun begitu. Tapi saya sudah 50 tahun nih bergelut di publik ini kan. Kenapa? Nah, berikut slide ini. Satu lagi. Mudah-mudahan 15 menit selesai. Tolong turunkan satu berikut. Nah, gak di atasnya yang pertama tadi kali ya. Nah, yang pertama. Jadi kata
Margaret Chin, kita harus Memperkuat sistem kesehatan. Nah, sistem kesehatan kita Bapak Ibu sekalian bukan ini slide-nya Bapak coba yang pertama kali ya. Nah, ini ini pedoman saya untuk cerita aja enggak usah dibaca. Kita merumuskan SKN kita tahun 2. Saya ikut tuh merumuskannya di Kemen CAS ya. Karena Almata Declaration tahun '8 mengatakan, "Ever country has to formulate the own national system. Kita bikin, kita bikin, kita bikin beberapa kali revisi. Yang terakhir kita Punya SKN tahun 2012, peraturan presiden nomor 72. Kita mau revisi itu, Pak Subuh dengan PENAS. Saya mengharapkan ada Perpres baru, drafnya sudah ada. Tapi
Kemenkes bilang bukan begitu, Prof. ST itu adalah pengelolaan kesehatan itu blok pertama dari SKN. mestinya ada Perpres baru ini ya. Kalau ada Pak Sekjen saya katakan ini harus kita punya draf kok. Saya ikut dengan Bapenas memformulasikan sistem yang Baru. Di situ ada building block ada enam building block kita tambahkan tujuh. Blok pertama itu adalah ya ini kata margaret chin. Bagaimana kita membuat primary healthcare itu menjadi jantungnya sistem kesehatan to make primary care as the heart. Sistem bukan rumah sakit bukan catlab Pak Subuh ya primary healthc siapa dia 10.300as betul ya askin itu Pak enggak hadir
di sini 11.000 Ibu tidak kita Undang dokter praktik mandiri kan itu ya lan primer pasti bukan. Nah, bosnya itu Pak Subuhi ini Dinkes itulah garda terdepan untuk merubah angka-angka tadi. Pertanyaan sejauh mana kita perkuat ya kalau kita memperkuat itu menurut yang kedua jadi primary health care adalah ada duit enggak di situ? Berapa kita alokasikan? Saya kira duitnya kalau puskesma itu mini school Ya. Ibu Endang almarhum dia alokasikan namanya BOK. Ini konkrit-konkrit aja Pak bisa kita rubah tahun depan ya. Bok bantuan operasi kesehatan. Kebetulan saya mendorong-dorong gitu masih Pak SB. Bu Endang mengalokasikan 385 miliar dibagi-bagi
ke 9.000 lebih puskesmas diketawain itu makan bakso juga habis. Tapi sebelum ibu itu meninggal, saya akan perjuangkan Prof. Jadi sebelum setahun kemudian kan beliau meninggal Itu naik 1 triliun. Datang Ibu Siti Fadilah dinaikkannya ke 2,6T masih kecil. Kemudian datang Ibu Nafsia ya naik ke 5,6. Ibu Nila Muluk 6,4 naik. Ini ibu-ibu semua nih naik bok tapi kecil. Ah datang Pak BGS Pak kalau merobak angka-angka itu kan taruh perkuat penjeringan air keruh itu di hulu. Apa itu bok? Naikan, Pak. Dan menteri ini yang nota B ini bukan dokter dia naikkan ke 7,2T. Nih saya bilang Orang
ni public health juga nih orang begitu kan ya. Kemudian naik-naik tahun kemarin itu 12,74 triliun tapi Bu dia ke puskesmanya 7,6 nyangkut di provinsi kabupaten. Dipakai lagi untuk tunjangan dokter spesialis terpencil 6,8 mestinya ke puskesmas. Jadi, Bapak, Ibu sekalian bisa enggak kita perjuangkan perkiraan saya Puskesmas itu dengan ILP sekarang itu sampai 20 triliun, Bu? Kalau enggak Kita making guideline, making guideline satu periode lagi naikkan itu. Apa susahnya sih menaikkan dari 7 12,74 ke 20T tapi Puskesmas? Oh, nanti enggak dipakai ya kita bantu ya kita gorok kepalanya UPKESM kalau dipergunakan tidak bagus kan saya yakin masih
bisa karena ya jadi itu satu naikkan bok kalau mau merubah tadi itu angka-angka itu. Yang kedua adalah SDM. Ini agak susah SDM emang ya karena kan konsepnya ILP itu di tiap desa ada Namanya UPKD Kapustu. Ada gedung, ada perawat dari bidan. Dari mana dapatnya itu? Maka saya berpaling kepada Posiandu. Ini penting ke depan segera dilakukan. Kita mempunyai Posiandu sekarang R50.000. Jasanya siapa itu? jasanya Ibu Tin Soeharto. Saya masih akui itu. Tahun 4 ya kan saya hadir di Al-Ugelang. Soarto katakan hadiri delan menteri hadir dengan satu kepala BKKBN Salah seorang menteri itu namanya Profesor Emil Salim.
Saya dulu asistennya di situ. Dia hadir itu geduk geduk geduk pakai tambur deklarasi posiandu dari oleh masyarakat pelayanan terpadu. So berhenti diwariskan R50.000. ribu posyandu berantakan reformasi. Sekarang kita revitalisasi. Nah, sekarang jumlahnya Rp350.000. Kadernya sekarang R,5 juta. Nah, kader ini ada yang di desa, ada yang di Kelurahan. Nah, yang di desa dia dapat insentif dari dana desa. Tahun lalu dana desa 71 triliun. Itu kira-kira untuk honor apa? Insentif kader kemarin itu 4,5 triliun. dari 71 untuk kader. Saya mengatakan kemarin melakukan asesmen kadernya harusnya kita berikan 20% full time staff equivalent. Karena saya hitung rata-rata mereka
kerja itu du du ee 5 hari ya. Ada yang 3 Hari, 17 hari 5 hari itu kan 5 dari 25 hari kerja. Nah, saya hitung kalau dia dapat 20% UMPR dari semua kabupaten itu kita perlukan uang kira-kira 7,1 triliun dana desa sebagian. Nah, bisaakah APBN Ibu ya APBN itu kalau desa maka saya katakan biasanya ada dari pedesaan di sini kan ya supaya peruntukannya boleh dari dana desa mudah-mudahan tidak turun. Nah, kadar ini Bapak Ibu sekalian jangan anggap enteng ya. Sekarang Kemenkes apresiasi sudah merumuskan 25 Keterampilan ya kan kemudian dibina harus certified supaya tidak diganti-ganti oleh
kepala desa. Begitu ada insentif ya keponakan saudara harus certified ini kalau bisa kita punya namanya layanan primer paling dekat ke masyarakat CKG bisa saya minta di manokwar itu diperiksa Pak hem ya itu pakai itu Bu N gula darah bisa pakai itu diawasi pus gula darah kolesterol asam urat oh Bapak Prof ini apa namanya gula Darah di bawah 80 alhamdulillah kan begitu ya ee kolesterol 126 enam asam urat di bawah tujuh kader saya cek di manukwari cek di situbond cek di pidi kemarin sama jadi bisa mereka untuk ckg ya itu pendapat saya mengenai penguatan layanan primer.
Yang kedua, saya menyarankan tolong insentif UKM dinaikkan ya tahun ini kalau enggak salah hanya 6 e 7 triliun eh dari 7,4 itu hanya 1,2t. E kalau bisa dinaikkan Bu Nad itu saya sudah ngomong sama Bosnya juga sih. Kalau bosnya sih maunya t triliun katanya. Selamat datang Bapak Menteri Sosial Republik Indonesia. Kita applaus buat Pak Menteri, Bapak Saifulah Yusuf. Dimohon langsung ke depan Pak Menteri. Sebentar ya, Prof. Mohon maaf tadi. Iya, Pak Menteri Kesehatan ada di sebelah, Pak Mensos. Jadi, mohon izin sedikit Pak Menteri ee ini Prof. Askobat Mungkin akan menyampaikan sisa kesempatan beliau berbicara. Ee
ya Prof. Asobatgani, guru besar bidang kesehatan masyarakat. Izin melanjutkan dahulu, Prof. Silakan. Baik. Saya mungkin sedikit lagi, Pak Moderator, ya. Saya kira ingin mendengarkan dari Pak Mensos. Nah, jadi itu saya kira penguatan layanan primer tenaga anggaran itu harus naik di situ ya tidak bisa 12,7T kalau syukur suukur tahun depan tuh naikkan ke 35 tapi sebagian 20 ya insentifnya 3 triliun kita sudah mulai tinggal perbesar begitu ya ada berapa komentar itu CKG mungkin kalau mahasiswa FK masih ingat level and Clark ya lima jenjang pelayan itu kan promotion ya kemudian prevention yang ketiga ini satu paket early
detection and from treatment satu paket screener pengobatan satu paket sehingga pertanyaannya buad satu paket mestinya orang ketemu Hipertensi atau inilah hiperlipidemia langsung dikasih obat pertanyaannya layanan primer siap enggak untuk treatmennya jadi enggak apa-apa sama dengan MBG ya saya menganggap kita kan kalau Prof Emil Salim mengatakan kita berlayar sembari membangun perahu jadi banyak bolong-bolong tenggelam, Bu ya. Termasuk ini juga ya, tolong kita perbaiki itu. Jadi konsekuensi dari ee CKG adalah treatment. Karena agak tidak etis kita sebagai dokter misalnya diagnosis tapi tidak melakukan treatment malah stres. Ini orangnya tidak etis itu satu paket tapi saya kira sudah
dalam kata Prof. Asnawi ke depan ini skrin pengobatan TB ini Bapak Ibu sekalian saya mau koreksi sedikit ya. kita bukan nomor dua jumlah. Iya ini kat jadi ya kita tuh nomor 11 dari 19 itu. Jadi cukup baik Ibu kalau kita hitung rate-nya kita nomor dua kena penduduk besar kita Lebih baik dari Philipin sebetulnya dari itu Prof. Nawya Filipin berapa itu gitu. Jadi enggak jelek-jeleknya juga ya, tolong dikoreksi itu kita nomor dua enggak ya, kita nomor 11 tapi masih rendah juga gitu. Tapi begini, TB ini kan masalahnya adalah CTCM periksa compliance. Itulah kader tadi. Bapak kenapa
enggak ambil obat? Hari ini makan obat gantinya PMU 1,5 juta kader. Saya sudah lihat kalau dilatih bisa itu yang tibg Saya enggak komentar Bu ya. Saya menganggap itu memang kita sedang berlayar sembari membangun perahu. Saya ngelihat aduh kita perbaiki betul-betul ya. Oke. Cuman begini Bu ya. Salah satu misinya Kemenkes kan mengurangi obesitas sentral tadi Bu ya. Obesitas itu Bu beyond health. Beyond health. Apa itu beyond? Makan junk food. Ada studi itu ya ee dari apa namanya? Brazilia, daerah Kumo, Rio de Geneno, Kalkuta, kemudian Nigeria, Philipin itu junk food Bu, makanan makanan cepat saji itu yang
di negaranya seinggi ditolak. Kita di sini dianggap modern tapi katanya, Prof. Banyak junkfood tuh seblak-seblak dan sebagainya. Nah, pertanyaannya Bu, ini di bawah kewenangan siapa ini? Junkf ini sedikit cerita boleh, Pak, ya. Jadi di Inggris itu hipertensi tinggi ini sehingga national service itu mau bangkrut. Tony Blair waktu itu menterinya lapor, coba selinggi kenapa hipertensi? Why? Ya, British people banyak hipertensi Pak Subuh ya salt intake di makanan-makanan. Kata Tony B panggil kemari itu semua produsernya ke Downing Street nomor 10 tanpa diketahu mass media kau turunkan garammu 10% tahun depan. Oke, enggak usah ada yang tahu. Tahun
berikutnya 10% lagi. Tahun berikutnya 10. 3 tahun turun 30%, Pak. Hipertensinya turun 36%. Enggak perlu Yakmi, enggak perlu Adinkas, enggak perlu dokter. Policy that is healthy public policy. Berani enggak kita mengatakan, "Eh, kamu cepat saji luar negeri out. Kamu apa mengedarkan junk food?" Obesitas kita berapa perak salah ya mengerikan itu junk food. Jadi Kamenkes bilang begini enggak bisa. Nah pertanya Bu bisakah ini jadi tugasnya badan gizi diatur angka kecukupan Gizinya Pak jadi enggak ada. Tapi orangnya juga Bu enggak bukan itu melarang itu. Bisa, Pak. Cepat sajiang peraturan presiden tutup gerimu. Siap lah. Iya. Ingat Pak
kalau enggak begitu larang keluarkan ya. Kalau enggak tadi, Pak, kita itu kan bahagia dalam keadaan miskin. Itu kan menipu, Pak. Kita terlela. Maka Saya ingin pecahkan kulit telur ya. Itu yang saya sebut social determinant of health. Nah, people is the real wealth of a nation. Sudah saya katakan tadi termasuk Amarta Shen Investing in human capital. itu pemenang normal namanya Gary Becker. Nah, kemudian itu tadi kita harus memperbaiki bukan hanya HDI IQ barangkali sebagai indikator. Jadi barangkali ini beberapa masukan ya string primer care anggaran tadi SDM kader sedikit-sedikit saja mungkin Banyak yang lain. Mudah-mudahan menjadi masukan
yang bisa segera tapi jangka panjang harus kita tempatkan bahwa health ini sedang membangun the real wealth of a nation bukan hanya berantas-berantas penyakit. Ya, karena people sekali ulangi lagi, the real wealth of a nation is people. Tapi kan selalu saya ke sebuah provinsi yang terakhir ini, maaf Pak ya, welcome Prof. Ke provinsi miskin. Kenapa saya enggak usah sebut ya? Kami kan batu Karang, batu-batu tidak punya minyak, tidak punya hutan. Bapak kan punya 4,2 juta penduduk. Kenapa hilang dari datar kekayaan? Itu dosa kita ya. tidak memasukkan ciptaan Tuhan yang maha sempurna ini sebagai daftar kekayaan. Jadi
ya tidak kita pelihara. Maka kita bahagia dengan sepotong pisang tadi. Bapak, Ibu sekalian no hard feeling ya. Jadi ini maaf suara dari orang pensiunan secara Formal yang betul-betul Adinkes sama yakmi yang jelek-jelek tadi suara pensiunan. Maaf Pak Mensos saya tadi agak bercanda-bercanda sedikit. Pak. Mudah-mudahan menyentuh. Terima kasih Bapak Ibu sekalian. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Luar biasa Prof. Askobat Gani. Terima kasih dan ini ee menjadi diskursus yang luar biasa ini banyak sentilan buat kita semua. Bapak, Ibu Sekalian di hadapan kita sudah hadir Menteri Sosial Republik Indonesia Bapak Saifulah Yusuf dan beliau sedianya akan menjadi
keynote speech pada pertemuan kita hari ini. Untuk ee pengantar dan untuk memperkenalkan yang hadir sedikit, izin kepada Bapak Menteri, tuan rumah kita hari ini ada tiga kelembagaan kita, institusi kita. Pertama tentu adalah pimpinan Komisi 9 DPR RI beserta beberapa anggota Komisi 9 ada di sini. Bapak Menteri ada Ibu Dr. Gigi Putisari selaku Wakil Ketua Komisi 9 DPRRI. Kemudian ada Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Bapak Dedi Supratman. Ada Ketua Umum Asosiasi Dinas Kesehatan Indonesia Bapak Dr. M. subuh dan juga para guru besar banyak ada di ruangan ini, profesor-profesor di bidang kesehatan, para NGO organisasi
profesional dan juga pemerhati kesehatan masyarakat. Di Hadapan kita di sebelah Pak Menteri ini para pembicara ada Ibu dr. Siti Nadya dari Kementerian Kesehatan iya, ada Ibu Dr. Yesi dari Badan Gizi Nasional dan yang barusan bicara adalah Prof. Askobatgani, guru besar bidang kesehatan masyarakat. Jadi, Bapak Menteri mohon berkenan Bapak Menteri memberikan sedianya tadi adalah pembicaraan di awal, tetapi justru ini menjadi puncak acara kita. Jadi ini ee kadarullah, Pak Menteri, mohon berkenan Pak Menteri memberikan bagaimana narasi kita terkait dengan tantangan dan kebijakan PBI BPJS terutama kaitannya dengan penerima bantuan IUR. serta upaya penjaminan akurasi data desil sosial
dan ekonomi masyarakat kita. Dan memang erat kaitannya orientasi kesehatan masyarakat ini dengan ee situasi sosial kesehatan nasional. Mari Bapak, Ibu sekalian kita applaus buat Bapak Menteri Sosial Bapak Saifulah Yusuf. Dipersilakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat sore. Salam sejahtera untuk kita semua. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati. Pertama, setelah bersyukur saya mohon maaf tidak bisa tepat waktu karena sebelum dari sini tadi dengan Pak Kapolri peserta jajaran terus ada dengan Pak Mendagri dalam rangka penanganan bencana di Sumatera. Lalu saya masih punya kesempatan bertemu dengan para Bapak Ibu sekalian dari berbagai latar belakang dan juga para ahli
di bidang kesehatan ini. Sungguh saya syukuri dan ini merupakan kehormatan bagi saya. Untuk itu terima kasih kepada Pak Dedi yang telah mengundang saya peserta segenap jajaran. Dan untuk itu saya akan memulai untuk mengenalkan bidang tugas saya. Kalau soal saya mungkin sebagian sudah kenal Panjang perjalanan politik saya ini. Dulu pernah di DPR setelah itu jadi menteri turun jadi wakil gubernur dua periode terakhir Walikota Pasuruan hampir jadi kepala desa naik lagi jadi Mensos. perjalanan panjang tiga kali ikut pilgup kompetitornya sama Ibu Khofifah. Jadi tiga kali saya pilgup itu pilihan gubernur Jawa Timur itu sama tetap kompetitornya Bu
Khofifah. 2009 Saya menang 2014 saya menang Bu Kifah kalah jadi Menteri Sosial 2019 saya kalah saya jadi Menteri Sosial jadi tukaran tempat. Nah, tapi hari ini saya berada di tengah-tengah para ahli yang mengetahui lebih detail. Sementara saya mungkin mengetahui bidang kesehatan secara umum. Jadi, saya tahu lebih banyak yang umum Bapak Ibu sekalian khususnya tadi para pembicara adalah tahu lebih banyak tentang yang detail. Untuk itu saya Mohon maaf yang sebesar-besarnya manakala apa yang saya sampaikan ini nanti ee tidak sesuai dengan harapan. Yang pertama kami diberi mandat oleh Presiden untuk ikut mengeksekusi program dalam melaksanakan perintah Undang-Undang
Dasar Pasal 34. Kalau bisa saya ini disajikan dulu biar nanti kita sama-sama apa ya bisa menindaklanjuti lebih lanjut. Jadi pasal 34 itu adalah fakir miskin dan anak-anak yang terlantar Dipelihara oleh negara. Dari situ dulu kemudian dituntun oleh undang-undang di antaranya Undang-Undang Nomor 9 dalam rangka menangani fakir miskin dan anak terlantar itu ada tiga yang paling penting perlindungan dan jaminan sosial, rehabilitasi sosial, dan pemberdayaan sosial. Lalu kemudian dituntun lagi oleh Undang-Undang tahun 2011 di mana penanganannya itu harus terarah, Terpadu, dan berkelanjutan untuk memenuhi apa? Untuk memenuhi agar yang fakir, miskin, anak-anak terlantar dapat terpenuhi kebutuhan material,
spiritual, dan sosialnya. Salah satu di antaranya adalah menyelenggarakan jaminan kesehatan sosial. Jadi ini yang menuntun kita ya dari Undang-Undang Dasar. Kemudian ada dua Undang-Undang. Dalam menindaklanjuti perintah Undang-Undang Dasar dan Undang-Undang itu, Presiden Prabowo menerbitkan INPRES nomor 4 tahun 2025, yaitu tentang data tunggal, sosial, dan ekonomi nasional. Sejak itulah Indonesia untuk pertama kalinya memiliki data tunggal. Selama ini pemerintah datanya sendiri-sendiri. Kementerian Sosial punya data sendiri, BAPENAS punya data sendiri, Ibu, Bapak sekalian. Kemudian Kementerian PMK punya data sendiri karena bingung pemerintah Daerah akhirnya juga punya data sendiri-sendiri. Provinsi punya data sendiri, kabupaten punya dasar sendiri. Apa yang
terjadi kemudian egoektoral, programnya tidak terintegrasi. itu disadari betul oleh Presiden Prabowo. Maka itu untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka kita memiliki data tunggal dan yang diberi kewenangan untuk mengelola data itu adalah BPS bukan lagi setiap kementerian. Dulu, Prof. Kementerian Sosial itu punya data sendiri, diatur-atur sendiri, jadikan pedoman untuk menyalurkan bansos sendiri, akhirnya tepuk tangan sendiri. Yang lain tepuk tangan atau enggak terserahlah. Yang penting program selesai sesuai aturan, aman audit selesai. Tapi oleh Presiden Prabowo, kebiasaan itu tidak boleh diteruskan. Berhenti dan lihat data tunggal sosial ekonomi nasional. Apa ini sempurna? Belum. Karena data ini adalah kumpulan
dari pangkalan-pangkalan data yang ada. Kemudian diukur ulang, divalidasi dan dilakukan sedikit ground check ya. Lalu diberi perankingan mulai desil 1 sampai desil 10. Desil 1 adalah 10%. Sederhananya ini ya. Nanti yang bisa menjelaskan BBS. Desil 1 adalah 10% penduduk secara ekonomi paling bawah. Kurang mampu, prasejahtera disebut kelompok miskin atau miskin ekstrem itu tergantung penyebutan kita aja. Tetapi Desil satu adalah mereka yang secara ekonomi terbawah. Dalam bahasa yang sederhana saya sering menjelaskan. Saya tanya sama kan kita bukan ahli statistik juga. Itu gampangnya gimana sih? Ya, kalau ada seseorang pengeluarannya sebulan di bawah R00.000, itu bisa dikatakan
miskin ekstrem. Kalau dia misalnya 600.000 itu miskin, nanti 750 itu mungkin hampir miskin dan seterusnya seperti itulah. Tetapi dengan Begitu kita targeted. Jadi kita dengan begini lihat ada warga yang ada di Desil 1 itu namanya 10% dari penduduk Indonesia. isinya keluarga dan individu. Sekarang ini data terakhir ada 200 juta 289 juta penduduk Indonesia 289 berarti desil 1 itu ada 28,9 juta jiwa KK-nya sekitar 96 juta. Berarti KK-nya setiap desil ada 9,6 juta. Kira-kira seperti itu dulu. Ini sebagai pemahaman yang sederhana. Nanti Yang bisa detailkan itu tentu BBS. Nah, kemudian di ranking ada desil 2, desil
3, desil 4, desil 5 sampai desil 10. Moderator tadi sudah saya cek ya, saya masukkan nick-nya. Moderatornya Desil 10. Berarti sudah paling tinggi itu enggak ada lagi itu Desil 11, Desil. Jadi moderatornya itu di Desil 10. Mau dulu Pak Wamin kesehatan. Oh, iya. I iya gak apa yo gak apa-apa di sini aja gak apa-apa Pak. Komennya belum datang Toh? Iya iya belum. Jangan, jangan di sini aja ya gak apa-apa Bu. Jadi itu kira-kira itu dulu sebelum saya menyampaikan ini. Jadi ini Presiden itu memang ee ingin kita ini memiliki data. Kalau datanya tunggal ya kemudian insyaallah
intervensinya bisa diintegrasikan. Intervensinya tidak sendiri-sendiri karena datanya tunggal baik kementerian, lembaga maupun daerah. Semuanya harus Mengacu kepada DTEN ini. Ini Ibu Bapak sekalian yang ingin saya sampaikan. kesempatan pertama untuk memahami bidang tugas kami. Nah, salah satunya tentu yang menyangkut dengan PBI yang sekarang sedang ramai dan kita diskusikan bersama-sama. Bagaimana sih dengan PBI ini? Seru ini. PBI ini saya juga seru kan saya menteri baru setahun. Inilah kira-kira peran pihak-pihak dalam pengelolaan PBIJK. Ya, Kementerian Sosial menyampaikan penetapan perubahan PBI jaminan kesehatan berdasarkan verifikasi dan validasi kepada menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan dan dewan apa
itu? Dewan Jaminan Sosial. Iya. Selamat datang, Pak Wakil Menteri Kesehatan. Mohon menemani Menteri Sosial langsung Di depan, Pak. I mohon maaf, Pak tadi sama Pak Menteri juga sama sama Pak Menteri. Tadi saya sama di menendang ini terus ke sini cuman beda ruangan katanya sama. Izin lanjut Pak Menteri. I mohon izin ya, saya teruskan pelan-pelan. Terus ini ada kita teruskan mendaftarkan perubahan PBI jaminan kesehatan sebagai peserta program jaminan kesehatan kepada BPJS Kesehatan. Jadi setelah kami tetapkan kami serahkan kepada Menteri ke Kementerian Kesehatan setelah itu diteruskan ke BPJS Kesehatan. Mengapa lewat Kementerian Kesehatan? Karena yang membayarkan ya
iuran dari APBN itu adalah Kementerian Kesehatan. Nah, BPJS yang melakukan kerja sama dengan rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk membiayai peserta BPJS kesehatan termasuk yang dari PBI. Inilah peran-perannya ya. Basis datanya sesuai dengan Impres itu Tentu detesen dan detesen baru lahir belum sempurna. Namun jika tidak diperbaiki, ketidakadilan justru akan terus terjadi. Ini Pak yang pertama. Lalu apa yang berikutnya yang ingin kami sampaikan, Bapak, Ibu sekalian? Ini alokasi anggaran langsung. Nah, kalau ini yang keseluruhan tapi ini dulu. Ini alokasi anggaran PBI ya. Menyasar R96.800.000 RIB jiwa. Sebulan itu APBN lewat Kemenkes membayar BPJS kesehatan itu 4
triliun lebih sebulan. Ya, nilai total bantuan untuk R96.800 jiwa itu atau penerima manfaat itu 48 juta lebih. Ini Pak Wamenkes tahu persis ini. Ini untuk diketahui bersama. Ini yang dari PBI. Tapi sebenarnya ada lagi yang dari APBD. Yang dari APBD ini. Ini catatan dari APBD. Jadi sama-sama dari pemerintah, cuma ada yang dari APBD. Bahkan ada beberapa daerah yang sudah UHC, Universal health Coverage, sudah seluruh warganya didaftarkan sebagai peserta BPJS kesehatan kecuali yang mandiri. Ya, ini coba daftar. Nah, ini kalau digabung dengan APBD, daerah yang membiayai PBI juga, tapi dalam ee anggaran APBD itu ada 50%
lebih penduduk Indonesia. Sudah 55% lah. Ya sudah 55% coba. Itu lebih dari 150 juta jiwa. Ini dulu. Mari kita sama-sama renungkan. Jadi Sudah 150 juta jiwa lebih atau penerima manfaat 156,8 1 56,8 56,8 coba. 55% penduduk Indonesia dibantu melalui uang negara baik itu yang lewat APBN maupun yang lewat APBD. Nilainya berapa kira-kira, Pak Wamen? Itu kalau digabung berapa itu, Pak Wamen? Nanti ditemukan bisa itu. Jadi nanti bisa diceritakan sama beliaulah ada PBPU Mandiri kelas 1 2 PBPUB itu itu lebih rinci lagi itu itu nanti yang bisa jelaskan beliau. Tapi ini yang globalnya aja yang umum
kayak gitu Prof. Luar biasa enggak Prof? Sudah 55%. Oke. Lalu alokasi yang seperti itu bagaimana Cara membaginya? Ini cara pembagiannya dulu. Dulu waktu saya dilantik, saya nemukan data itu ya ada yang jomplang di atas, ada yang di bawah, ada yang tengah-tengah, ada yang gak karu-karuan. Maka sejak itu saya rumuskan kita harus punya rumus. Rumusnya itu adalah persentasi penduduk miskin. Nah, itu maka garis merah itu adalah persentasi penduduk miskin untuk menjadi ukuran pembagian atau alokasi penerima Manfaat. Garis merah adalah proporsi kuota nasional PBI JK terhadap jumlah penduduk miskin. Titik biru dan orange adalah sebaran penerima PBI
sebelum dan setelah realokasi. Jika titik di atas garis maka jumlah penerima PBIJK lebih tinggi dari seharusnya. Jika di bawah garis maka lebih rendah dari seharusnya. Dari grafik dapat dilihat bahwa sebagian Besar titik orange semakin mendekati garis merah yang artinya ada perbaikan proporsi penerima PBI terhadap angka kemiskinan daerah. ini sudah kami laporkan di Komisi 9 tahun lalu. Kan pada awal-awalnya itu juga sempat agak sedikit ada ee mungkin salah pengertian dari banyak pihak ya waktu itu. Setelah kasih tahu rumusnya seperti ini ya semua sepakat. Jadi supaya kita punya rumus gitu enggak membagi berdasarkan cepat-cepatan. Siapa Yang cepat
kirim surat dapat tinggi, yang terlambat dapat rendah. Paling tidak kita sudah punya patokan apa semua sudah digaris merah belum. masih memerlukan waktu karena terus-menerus kita sampai sekarang melakukan apa yang sebut kita sebut dengan ground check beserta pemerintah daerah. Ini enggak mudah, Bapak, Ibu sekalian. Sekali lagi, data itu dinamis. Pagi sama sore bisa berubah beda. Betul. Besok apalagi? Beda lagi. Setiap hari ada yang meninggal, setiap hari ada yang lahir, setiap hari ada yang menikah, setiap hari ada yang pindah tempat. Dan ini juga penting, setiap hari ada yang naik kelas, setiap hari yang turun kelas. Maka PBI
JK ini setiap 1 bulan dilakukan pemutakhiran yang ditetapkan oleh bupati, walikota kemudian diusulkan kepada kami. Jadi setiap bulan karena ya sebenarnya merespon ee dinamika yang cukup tinggi Itu. Bapak, Ibu sekalian yang saya hormati. Selanjutnya apa yang ingin diselesaikan ini? Istimewa sekali. Setelah kita ukur, wah ini meong. Ini tanda mau dapat rezeki. Apa yang ingin diselesaikan setelah kita ukur dengan DTSEN? Ini data yang kami terima dari DTSEN. Ibu Ketua, Bu Puti berdasarkan DTEN masih ada penduduk desil 1 sampai 5 yang belum menerima PBIJK. Sementara sebagian dari desil 1 sampai 10 masih tercatat sebagai penerima. Jumlahnya cukup
fantastis. 54 juta jiwa yang seharusnya menerima tapi tidak menerima. Sementara ada 15 juta lebih yang seharusnya tidak menerima, tapi menerima bantuan iuran sebelah kanan itu sama sebelah kiri. Kelihatan betul itu. Lanjut. Dalam rangka untuk menindaklanjuti Arahan Presiden dan program-program dari Presiden, kemudian kami menyusun satu pembagian alokasi program sebagaimana dalam layar. Jadi ini kami yang menjadi bidang tugas kami. Kalau desil 1, desil 2 sekolah rakyat nanti 1 sampai 4 PKH dan juga misalnya bantuan sembako nanti JKN ini 1 sampai 5 desil 1 sesuai asesmen karena itu atensi respon kasus. Tapi intinya yang ingin sampaikan bahwa kita
sebenarnya ke depan akan fokus kepada desil 1 2 3 4 sesuai kuota. Sekarang kenapa masih ada loncat sampai lima segala macam? Karena memang belum semua data ini bisa dilakukan ground check sehingga kita masih ngasih kelonggaran untuk sementara supaya juga transisinya ini landai. Ini adalah kebijakan presiden. Judul besarnya itu kan transformasi bangsa. Nah, di tempat kita mulai dari transformasi data gitu, Pak Dede. Jadi, arah kebijakan kita adalah Mengalihkan kelebih yang membutuhkan. mengalihkan PBI dari desil 6 sampai 10 kepada desil 1 sampai 5 yang belum terlindungi. Kemudian memperluas perlindungan bagi kelompok paling rentah rentan menjaga keadilan dan
berkelanjutan dan menjaga keadilan dan keberlanjutan sistem jaminan sosial. Ini hasilnya untuk sementara Bapak Ibu sekalian sudah ada pergeseran sebelum dan sesudah dilakukan yang namanya pengukuran berdasarkan det. Jadi bergeser sekarang ini errornya tinggal sedikit ya. Desil 6 sampai 10 itu hanya 45.000 R000 sisanya. Tapi desil 1 sampai desil 5 sudah R6 juta. Sekali lagi sudahedikit lagi sudah tuntas ini dari yang sebelumnya di Desil 1 itu terima R juta. Akhirnya dengan menyesuaikan DTS jadi 27 juta. Desil 2 19 juta jadi 23 juta lebih dan seterusnya. Sementara di Desil 6 yang sebelumnya 6 juta tinggal 21.000 R000 yang
sebelumnya 4 juta lebih Penerima manfaat tinggal 11.000 turun dan seterusnya. Ini kira-kira ee proses transisi data yang tentu ini memerlukan ee partisipasi masyarakat. Jadi kami ingin membuka partisipasi masyarakat sesuai arahan Bapak Presiden. Jadi intinya begini, Bapak Presiden. Ini data ya dan data ini adalah dikelola oleh BPS tetapi kami kementerian dan lembaga ditugaskan untuk melakukan pemutakhiran ini di Tesen. Saya mengundang Bapak Ibu sekalian yang hadir di sini untuk ikut berpartisipasi. Ini mekanisme yang kita buat. mekanisme dulu. Ada dua jalur pemutakhiran. Kami mengundang seluruh masyarakat untuk ikut berpartisipasi. Jalur formal pertama mulai dari RT, RW, Musyawarah Desa,
Kelurahan, Dinas Sosial, BPS, kabupaten kota, pendamping kami pendamping PKH tetapkan oleh Bupati, Walikota masuk ke DTSN Atau juga ada jalur partisipasi. kita siapkan beberapa saluran. Salah satunya adalah cek bansos. Itu adalah aplikasi yang di dalamnya ee ada fitur usul sanggah. Sekarang dengan perkembangan terbaru kita juga sudah sajikan di situ nama-nama penerima PBI termasuk memiliki penyakit apa. Sudah ada kodenya di ee aplikasi Cekbansos ini. Benar ya, Pak Joko? Benar ya. Ini kepala pusdatin saya ya. Kalau salah tolong diingatin saya Ya. Jangan sampai ini kita keliru menginformasikan. Kemudian yang berikutnya, Pak Wamen, ini penting untuk kita ajak.
Saya datang ke sini senang sekali. Jadi ngasih PR sama peserta termasuk para pembicara. Setuju. Sekali lagi DTSN belum sempurna, namun terus diperbaiki melalui berbagai kanal partisipasi. Yang pertama kanal resmi partisipasi. Kanal resmi yang dikelola oleh operator Data desa atau juga operator di Dinsos, kabupaten kota. yaitu namanya SING, Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial. Next generation. Jadi ini ada operatornya sudah. Ini untuk jalur resmi ada cek bansos tadi sudah saya ceritakan. Tapi kita juga melakukan ground check langsung ke lapangan sudah ada 12 juta KPM di tahun 2025. Insyaallah di tahun ini mudah-mudahan lebih banyak lagi oleh pendamping PKH,
Oleh petugas BPS, dan oleh Pemda. atau lewat call center kami yang beroperasi 24 jam di 021171 atau WA lapor bansos 08877171171. Kami ingin membuka apa adanya tidak perlu ditutup-tutupi. Memang hari-hari ini tidak waktunya lagi menutup-nutupi apapun apalagi dalam mengelola uang rakyat. itu adalah arahan Presiden. Dibuka partisipasinya, setelah itu diverifikasi, divalidasi dengan ukuran yang ada. Setelah itu dikembalikan Kepada masyarakat untuk dinilai lagi. Nah, kami sekarang di bawah pimpinan Pak Luhud ada yang namanya digitalisasi bansos. itu adalah tim percepatan transformasi digitalisasi pemerintah. Nah, kalau digitalisasi bansos ini selesai, suatu saat siapapun boleh mengusulkan bansos pengin ikut PBI,
tapi yang akan menolak mesin. Anda diterima karena Anda memenuhi syarat 1 2 3. Anda ditolak karena Anda tidak memenuhi syarat. Alasannya 1 2 3. Itu yang sedang Dirancang ke depannya supaya bansos kita lebih tepat sasaran. Inilah kaidah reaktivasi kami. Kita ingin menghadirkan suatu mekanisme yang adil atau mudah. Ini juga terus kita perbaiki. Bukan berarti ini juga ee terus tuntas, tapi kita akan perbaiki, kita akan masuki ee menerima masukan. Sekarang ini. Ada masukan yang baik sekali. Pertama, kenapa orang yang dinonaktifkan tidak diberitahu terlebih dahulu? tiba-tiba Kaget, tiba-tiba tidak jadi, tiba-tiba kok ini tiba-tiba kok gak bisa
dilayani gitu. Terus yang kedua, rumah sakit kan tidak boleh menolak pasien. Itu jelas undang-undang itu. Rumah sakit tidak boleh menolak pasien. Tapi pertanyaan rumah sakit nanti yang bayar siapa? Ah, itu pertanyaan ya. Nah, nanti itu harus dicarikan solusi karena pemerintah tidak boleh memutus harapan masyarakat yang ingin berobat. tetapi juga kita harus Memastikan rumah sakit bisa tetap hidup dan dua-duanya nanti bisa dijawab. Bapak, Ibu sekalian yang saya hormati, ini alurnya saja tetapi kita ingin sampaikan Dinas Sosial melakukan verifikasi tingkat kesejahteraan pengajuan reaktivasi apakah masih layak atau tidak. Jadi banyak ee laporan ee para penerima manfaat itu
dari golongan orang-orang yang seharusnya tidak memenuhi kriteria. Bawa mobil katanya, bawa ini, bawa itu. Banyak sekali laporan. Maka itu kita harus terus lakukan verifikasi dan validasi dengan menghimbau kepada yang merasa mampu untuk mengundurkan diri sebagai penerima bantuan. Mari kita kasih kesempatan mereka-mereka yang lebih membutuhkan. Khusus dalam kondisi bencana orang terlantar, kondisi yang mengancam keselamatan jiwa atau kebijakan pemerintah, maka seseorang dapat Menerima bantuan PBI meskipun berada di luar desil yang ditentukan. Ini keputusan Menteri Sosial tahun 2026. Jadi sudah kita antisipasi sebenarnya ee adanya penyakit-penyakit apa itu katastrofik. Katastrofik ya yang memerlukan perawatan berkelanjutan. Dan kemarin dengan
DPR sudah sepakat ya dari yang kita nonaktifkan itu ada 106.000 lebih ya pasien yang katastrofik. Maka Itu kita reaktivasi kembali untuk kita lakukan ground check 3 bulan ke depan. Selain reaktivasi reguler, Kemensus membuka opsi untuk mereaktivasi otomatis pada 106.000 PBI nonaktif yang menderita sakit kronis dan katastrofik. Kami memiliki riwayat penonaktifan dan pengajuan reaktivasi. Intinya begini, Bapak, Ibu sekalian. Tahun 2025 kita itu menonaktifkan lebih dari 13 juta penerima manfaat. Tahun 2025 yang melakukan reaktivasi itu ada 87.000 Lebih. Ada 87.000 lebih. Sisanya ada yang beralih ke Mandiri. Jadi para penerima manfaat PBI ini beralih ke Mandiri dia
setelah kita nonaktifkan. Sebagian lagi diambil alih oleh kabupaten kota yang telah UHC. Jadi universal health covery tadi itu seperti Karawang tempat saya. Saya dulu walikota UHC. Tempat saya itu karena UHC. Jadi kalau ada warga kota Pasuran, cukup dengan KTP aja itu bisa dilayani Oleh rumah sakit. Inilah sedikit contoh sebagai gambaran supaya Bapak Ibu sekalian bisa lebih ee memahami apa yang sedang kami lakukan. Ada nama Dalimin di dalam DTSEN itu Desil 10. Nah, ini belum tentu pas Desil 10 tapi ini aset-asetnya ada rumah ya, dia punya motor lumayan ya. Ini desil 10. Kemudian ada Jamhuri Desil
7. Nah, ini rumahnya itu aset-asetnya desil 10. Ini mendapat PBI sebelumnya. Nah, kemudian kita nonaktifkan dan kita Alihkan kepada nama-nama sebagai berikut. Namanya Appendi Desil 1 dan ini penerima baru di Januari 2026. Kita alihkan kepada keluarga yang seperti ini. Ini Ibu Bapak sekalian ya. kita alihkan ke namanya api. Lalu yang kedua juga kita alihkan kepada nama berikut ini. Monem desil 1 penerima baru. Ini aset-asetnya seperti ini, rumahnya seperti ini. Kita alihkan kepada yang Seperti ini. Jadi ini memang ee suatu proses transformasi data ya yang kadang memang memerlukan ee apa kearifan bersama dan kami tentu sangat
terbuka untuk bisa menerima masukan saran dari Bapak Ibu sekalian. Terakhir ini slide terakhir. Inilah upaya-upaya perbaikan dan percepatan. Jadi setelah kemarin itu sebenarnya tidak ada gado, sebenarnya tidak ada lempar-lemparan. Jadi kami sudah jelas posisinya Kementerian Sosial Seperti apa. Kamilah yang menetapkan penerima manfaat itu setelah melakukan koordinasi dan ground check bersama pemerintah daerah ya. lalu mendasarkan pada detis, maka yang diusulkan oleh bupati walikota itu harus warganya yang berada di desil 1 sampai desil 5. Tidak boleh keluar dari desil 1 sampai desi 5. Setelah itu diserahkan ke Kementerian Kesehatan. Kementerian Kesehatan nanti yang akan membayarkan kepada BPJS
Kesehatan, BPJS Kesehatan Yang akan membayarkan kepada rumah sakit-rumah sakit. Jadi cukup jelas ee cara kerja kami. Iya. Jadi kalau Menteri ee Dirut BPJS Kesehatan menyatakan bahwa itu yang menonaktifkan Kementerian Sosial ya memang iya Kementerian Sosial bukan yang lain ya memang itu tugas dan tanggung jawab kami gitu gitu. Jadi jadi tidak ada sebenarnya tidak ada apa kami ini lempar-lemparan di sini dilempar di sana dilempar di sini dilempar enggak. Jadi Orang bisa melakukan reaktivasi dengan saluran yang sudah kita buat. Tapi memang saya dikritik sama teman-teman sosialisasinya kurang. Nah, itu saya kira iya mungkin perlu sosial. Maka datang
ke sini ini bagian dari sosialisasi. Jadi kita jujur aja. Jadi enggak usah ditut-tutupi mengkurang sosialisasi. Iya. Ini saya nanti malam itu diundang Pak Hotman ya. datang aja nanti saya datang mau saya jelasin. Nah, ini Kemudian upaya-upaya perbaikan Bapak Ibu sekalian. Satu, menambahkan desa atau kelurangan sebagai tempat reaktivasi. Kalau kemarin hanya di Dinsos, kita kemarin bicara dengan Kementerian Menteri Desa, kita akan coba dorong menambahkan desa dan kelurahan sebagai tempat reaktivasi biar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat. Di samping saluran yang sudah kami buat tadi, BPJS, Kemenos, dan Kemen CAS berkolaborasi untuk percepatan proses reaktivasi. Kami Ingin nanti
dibantu oleh Kemenkes dan BPJS kalau perlu orang atau penerima manfaat bisa langsung reaktivasi di masing-masing fasilitas kesehatan. Kalau misalnya rumah sakit fasilitas kesehatan bisa membantu jadi langsung ikut dibantu. Jadi rumah sakit juga tidak hanya menerima pasien tapi juga membantulah. Kan bisa membantu itu pakai apa ee smartphone-nya atau pakai apa itu kalau bisa begitu. Ini yang 106 atau semuanya Secara keseluruhan nanti yang 106 pasti ini yang secara keseluruhan kan. Nanti ke depan masih terus, Pak. Reaktivasi ini kan terus ini ya 106 ini sudah pasti otomatis kalau ini. Tapi ini terus-menerus ke depan ini kan harus diverifikasi,
divalidasi. Kalau semua ikut terlibat mau membantu pemutakhiran, saya yakin data kita makin tahun ee makin bulan, makin tahun akan makin akurat, Pak. Saya percaya kalau kita terus gerakkan semua instrumen yang kita Miliki ini tadi, Pak yang 106. Reaktivasi otomatis pada 106.000 penderita penyakit katastropik ya. Yaitu kondisi kesehatan serius, mengancam jiwa, membutuhkan perawatan jangka panjang seperti jantung, kanker, stroke, dan gagal ginjal yang dinonaktifkan. Otomatis sekarang diaktifkan lagi setelah pertemuan dengan Ee DPR dan kami kemarin sudah koordinasi dengan BPS untuk melakukan ground check selama 2 bulan ke depan. Nanti akan kita lihat hasilnya sebagai satu data yang
akan kita analisis untuk mengambil kebijakan ke depan. kita akan terus mendorong Pemda untuk aktif dalam pemutakhiran DTSN baik itu pengusulan maupun reaktivasi bansos. Saya kira ini Bapak Ibu sekalian kami yang berada di hulu untuk menyiapkan data itu ee mohon bisa partisipasi dan Dukungan Bapak Ibu sekalian. selebihnya kami kembalikan ke moderator. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Luar biasa. Terima kasih, Pak Menteri. Rupanya motivasi beliau yang luar biasa hari ini salah satunya untuk menyosialisasikan updating dan juga rencana strategis Kementerian Sosial. Bapak, Ibu sekalian, Sedianya kita akan langsung tadinya kepada para pembahas mohon berkenan para anggota dewan
kita. Tiga srikandi kita yang sebagai pembahas sebelah kita isi dulu mau langsung Pak S. Oke, tanggapin boleh. Iya. Jadi kita persilakan langsung Wakil Menteri Kesehatan kita untuk menanggapi berapa saat sebelum beliau bergeser ke Komisi 9. Kita applaus buat Pak Wamen Dr. Benyamin P. Oktavianus. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat sore. Salam sejahtera untuk kita semua. Shalom. Om swastiastu. Nam buddhaya. Salam kebajikan. Terima kasih karena di sini Pak Menteri Sosial kami ke sini tadi dengan teman-teman Komisi 9 Ibu Putisari, Ibu Seli dan kawan-kawan di sini masih di ruang sebelah pembahasannya masalah yang mengenai yang Pak Menteri Sosial sampaikan.
Saya minta kalau boleh Pak Menteri Sosial juga ke sebelah karena sangat menanti penjelasan Pak Mensos yang seperti ini kan kita langsung tenang ya. Kita langsung tenang karena betul itu bahwa Iya. di di di sebelah masih belum tenang soalnya di sebelah nunggu di sebelah teman-teman Komisi 9 nunggu karena memang ee begini saya kan dokter lama lah ya. Saya dokter lebih dari 30 Tahun. Jadi lahirnya BPJS pun tahu kalau kita akui hari ini bahwa pelayanan kesehatan masyarakat kalau kita maujur kan makin hari kan sudah makin baik dibanding dulu dibanding 10 tahun lalu kan hari ini kita lebih
senyum tapi ee kan terjadi masalah kemarin sebetulnya tadi yang tadi Pak Menteri Sosial sudah sampaikan bahwa ee waktu data diberi harusnya kita juga yang dari Kementerian Kesehatan dan BPJS tuh dengan Kemensos Usul saya sih rapat ada masalah enggak ada masalah rapat tiap bulan. Iya. Supaya ee kejadian kemarin itu gak terjadi. Tapi kita bisa atasi 106.000 langsung dibereskan karena kalau itu enggak bisa ditunda. Saya hanya ingin kasih data kenapa ee bayangkan tahun 2019 itu ee kasus jantung menghabiskan 10 triliun, sekarang sudah 17 triliun. bayar ee biaya jantung untuk gagal gincang ginjal dari 2,3 triliun Sekarang naik
jadi 13,38 triliun. Dari kanker juga sama dari 3,8 naik jadi 10 triliun lebih. Stroke dari 2 triliun jadi 7 triliun lebih. Artinya kita harus melakukan maka kenapa pemerintahan dari Pak Perbogibran melakukan langkah pertama ada dua dari delan program hasil terbaik cepat Presiden Asta Cita dua dalam bidang kesehatan yang pertama adalah bukan mengatasi pemberian dibentuk MBG makan bergizi gratis dibentuk badan gizi Nasional karena untuk mengatasi kurang gizi dan stunting itu enggak ada jalan lain maka dilakukan itu. Maka bayangkan anggarannya tahun ini disiapkan 351 triliun, tiga kali lipat anggaran Kemenkes. Karena apa? Untuk mengubah suatu bangsa SDM-nya
harus bagus. Maka kita bertanggung jawab juga di sini. Saya bilang sama teman-teman di sini anggaran sebesar itu kalau stunting gagal dunia kesehatan ikut salah karena uangnya ada. Jadi enggak ada alasan kalau kita enggak bisa berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional. Kita-kita yang di sini pemerhati kesehatan semua, Pak Hermawan, saya, kita semua harus bisa menghabiskan dana itu tepat sasaran dan tidak menyalahi aturan hukum. Satu yang itu. Yang kedua adalah program cek kesehatan gratis. Kenapa cek kesehatan gratis? Kita lihat tadi angkanya, Pak Mensos ya. Jadi angka jantung, serangan jantung, gagal ginjal sama stroke itu penyebabnya Sama. 90% cuman
orang diabetes, kencing manis, sama hipertensi. Enggak tahu bahwa kalau diabetes hipertensi setelah 3 sampai 5 tahun enggak terkontrol ya jadi serangan jantung, jadi cuci darah, jadi kena stroke. Maka cek kesehatan gratis ini harus kita galakkan di 2026 maksimal supaya angka kejadiannya Bu Zeli bisa turun. 202728 turun. Kalau enggak uangnya enggak akan cukup. Ini akan terus naik. Dan buat apa di usia produktif Kita jadi kena serangan jantung. Di usia produktif maka CKG kalau uangnya sekarang baru ada 100 buat 130 juta orang, kita fokus dari umur 20 tahun ke atas saja dulu sampai umur 50. Di mana
orang usia kerja 100% harus diperiksa supaya kalau dia sakit rumah tangganya hancur. Itu dulu. Jadi kita cegah orang-orang yang bakal sakit gara-gara dia punya diabetes umur 30 40 tahun punya diabetes punya hipertensi langsung kita terapi supaya jangan kena stroke, Jangan kena heart attack maupun kena cuci darah di usia 40, 45, 50. Jadi rumah tangganya ekonominya hancur semua itu, Pak Wensus. Itulah dasar dilakukan cek kesehatan gratis yang kita ee akan lakukan secara masif. Tahun lalu bisa R0 juta, tahun ini minimal R130 juta. Saya minta peran serta kita semua yang ada di sini. Karena apa? Ini enggak
bisa. Kalau kita enggak serbu sama-sama kasusnya makin naik. Jadi angkanya kan bayangkan hanya untuk bayar serangan Jantung 17 triliun untuk pengobatan jantung. Untuk cuci darah sudah jadi sekarang 13,38. Penderita cuci darah hari ini 156.000 orang menghabiskan uang. 7,5 triliun hanya untuk cuci darah. Bayangkan betapa besarnya bagaimana kita ee tadi Nah, ini Pak Mensos. Jadi begini, Pak. Tadi di sebelah ramainya gini yang 11 juta tuh kan ada yang besok mau melahirkan, ada yang besok mungkin ee harus seksio, harus operasi. I mereka tanya, saya bilang, "Ya tunggu Pak Mensos." Jadi kira-kira itulah, Pak. Bagaimana dengan yang kalau
yang katastrofik? Oke, 106 sudah beres. Bagaimana yang enggak katastrofik tapi nanti malam karena appendisitis harus operasi apendic tapi ya Prof Gani ya, tapi enggak belum masuk di apa tuh yang mendapat PBI. Nah, kayak kayak gini mungkin bisa kita bikin kebijakan asal Masuk rumah sakit ya. Nanti akhirnya datanya dikasih Kensos. hidupkan kira-kira gitulah sambil mempercepat itu, Pak. Mempercepat ee validasi data yang 11 juta orang itu. Iya. Mungkin hanya bukan 11, semua peserta BPJS lah kira-kira. Iya. Iya. Jadi itu dari saya bahwa satu lagi program daripada Presiden adalah pemberantasan tuberkulosis. Kita ini Nomor dua di dunia. Bayangkan
kita punya kasus begitu tinggi. Saya kebetulan wamen cases spesialis paru. Jadi dipanggil presiden, kamu ahli paru. Saya kasih tugas kamu tugas khusus berantas TBI. Maka kami akan melakukan kerja. Teman-teman mumpung di sini semua bisa dengar. Jadi kita tahun lalu punya 860.000 pasien tuberkulosis yang diobati. Belum termasuk yang belum ditemukan ya Bu Nad ya. Yang sudah ditemukan tahun lalu 860.000 R000 orang berarti ada di 860.000 rumah. Berarti kita harus menyasar 860.000 rumah itu ada berapa orang yang akan kita periksa? Ada yang 2 orang, 5 orang, 9 orang, 12 orang. Itu namanya tracing. Itu yang akan kami
kerjakan 2026 bersama teman-teman. Saya minta teman-teman Komisi 9 bantu kami tentu Kemenkes eh terutama dengan seluruh Kadinkes dan semua pemerhati kesehatan di sini. Bahwa kita akan melakukan tracing. Jadi, seluruh keluarganya harus difoto ronsen. Seluruh keluarganya diperiksa tensi dan dicek gula darahnya. Kalau ada DM, hipertensi, kelainan jantung dan paru langsung bisa terdiagnosa. Yang terdiagnosa tidak sakit karena sudah tertular kita kasih obat pencegahan yang suspek sakit dikejar. Maka kita membutuhkan sekitar 6 juta orang yang ngecek kesehatan gratis spesialis untuk TB, Pak Mensos. Jadi inilah salah satu Tugas daripada saya memanfaatkan momentum ini. Seperti juga tadi Pak Mensos
mensosialisasikan saya juga mensosialisasikan tugas presiden berantas tibi ayo bantu saya gitu loh. Karena enggak bisa kita kerja sendiri itu satu. Jadi nanti alat ronsen portable sudah mulai kita bagikan ke daerah-daerah. Jadi ronsennya itu bisa di pendukuhan, enggak harus ke puskesmas. Kita bisa datangi di kantor desa, di kantor-kantor kita sudah Lakukan di Jawa Tengah sudah lebih dari 700 desa. Jadi itu bisa kita lakukan se-Indonesia. Saya harapkan tahun 2026 mungkin belum 100% tapi 202 harus beres. Itu saya kira ee masukan dari saya, Pak Hermawan. Sekian, terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih, Pak Women
untuk berkenan e geser dahulu. Silakan. Mau lapor di Sebelah Pak Mensos bisa ke sebelah biar tenang. Iya. Siap, Pak. Loh, Pak. Masa mendadak mendundang ke? Pak Menteri masih berkenan di sini atau sebentar? Kitaengat. Oke. Pamit dulu ya. Sekarang apa ini? Eh, masih ada dari ee ketua kampus DPR, anggota DPR2 yang berikan. Nanti mungkin kalau harus pindah saya pindah sebelum Di sini dulu. Baik, terima kasih pada Pak Menteri Sosial dan Wakil Menteri Kesehatan. Bapak, Ibu sekalian, Bapak Menteri masih ee berkenan beberapa waktu untuk mendengarkan pandangan dari anggota DPR RI kita sekaligus Ketua Kaukus Kesehatan DPR RI.
Kita persilakan terlebih dahulu Dr. Neti Prasani MSI. Silakan Bu Dewan kita applaus buat Bu Neti. Terima kasih ee Bapak Dr. Hermawan atas kesempatan yang diberikan. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat sore dan salam sejahtera untuk kita semua. Yang sama-sama kita hormati Pak Menteri Sosial ini seperti ketiban durian runtuh ini ya. ee karena tadi kami rapat ee cukup apa namanya hangatlah ya di Komisi 9 terkait tema yang tadi Bapak angkat di awal perjumpaan ini. Begitu. Jadi kalau Kemudian saya dapat kesempatan bertemu Bapak di sini ya curhatnya enggak nunggu ee pimpinan minta ee ya rapat gabungan, Pak. Ya.
Jadi ini kesempatan yang luar biasa. Terima kasih, Pak Mensos. Tentu saja yang ee juga sama-sama kita hormati ee Kang Dedi penggawanya IAKMI yang nanti akan dilanjutkan oleh Pak Hermawan, Dr. Subuh, Bu Putisari dan juga Bu Yesi dan tentu saja tadi yang disebut-sebut gurunya para guru ya, para dosen e Prof. Asobatgani ee tentu saja Bu ee Siti Nadya dan juga mohon maaf saya tidak dapat menyebutkan satu persatu ini ya. Ee jadi yang pertama Pak ee yang ingin saya sampaikan di forum yang sangat terhormat ini ya karena memang tadi enggak ketemu Pak Mensos Bu Putisari ya tentu
saja saya harus katakan Pak bahwa apa yang kemudian ditanyakan oleh para ee warga net masyarakat di berbagai kanal media sosial ini sesuatu yang harus Mendapatkan jawaban ya. meskipun kalau tadi mendengar penjelasan Pak Menteri ya kita paham ya dalam konteks sinkronisasi, dalam konteks penyaluran bantuan sosial tepat sasaran itu tentu saja kita semua sepakat sangat sepakat. Namun dalam konteks layanan kesehatan tentu alasan sinkronisasi dan verifikasi apapun namanya pemadanan data, pembaruan dan seterusnya ini enggak boleh, Pak menjadi alat penghitung waktu baru buat pasien hemodialisis seperti itu. mereka Punya hitung-hitungan batas cairan dan seterusnya. Tapi dengan status kepesertaan, Pak,
akhirnya sekarang alat ada alat menghitung waktu untuk pasien hemodialisis namanya status kepesertaan itu. Nah, oleh karena itu tadi kita ee terus terang di ruang rapat sini ada Pak Wamen nih tadi saya tanyakan ya. Nah, mungkin sebagai salah satu yang perlu dilakukan oleh pemerintah melalui Kemensos dan juga kementerian lembaga lainnya adalah bagaimana memperbaiki Tata kelola komunikasi publik, Pak. Ya, kenapa? Karena boro-boro publik kami juga belum paham sepenuhnya, Pak. Kalau kemudian ada penetapan desil 1 sampai 10. Kemudian juga membuat dari desil-desil itu ada ada loh yang ber ee yang berhak atau layak menjadi PBI APBN gitu. Sementara
kita juga menemukan terminologi PBI APBD. Jadi ini kriteria tidak mampunya sama atau beda gitu. Sehingga alokasi anggaran PBI APBN ini ternyata enggak Bisa meng-cover PBI atau warga yang berstatus PBI APBD. Apa memang karena anggarannya enggak cukup atau ada alasan lain seperti itu. Nah, ini menurut saya juga perlu dijelaskan. Jadi, jangan sampai nanti peserta itu terperangkap, Pak. terperangkap dan ada istilah tiba masa tiba waktu waktu mau mengakses layanan akhirnya mereka dinyatakan Anda enggak apa enggak bisa mendapatkan layanan hari ini. Silakan urus administrasi dan seterusnya tadi yang Disampaikan juga oleh teman-teman di ruang rapat ya. Nah, itu
yang ee yang pertama. Yang kedua, nampaknya apa yang sedang dilakukan oleh Kemensos bersama BP apa BPS kami menyadari sepenuhnya bahwa ini harus dilakukan. Karena apa? Karena anggaran pendataan itu sangat besar ya Bu Putisari ya. BKKBN aja setiap tahun dulu melakukan pendataan Pak, namanya data Keluarga Indonesia ya dan ee ya meskipun hari ini sudah sudah bisa diintegrasikan lah ya. Nah, oleh Karena itu menurut saya yang juga harus dilakukan adalah bagaimana berkoordinasi dari dampak DTSN ini, Pak. Karena saya yakin bukan hanya program JKN yang akan terdampak, tapi juga PP, kemudian PKH dan seterusnya, ya. Jadi ini menurut
saya ee menjadi sinyal lah ya bagi kita semua untuk mulai memperbaiki tata kelola komunikasi publik sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang ee valid ya dari pemerintah mengapa kemudian dilakukan pemadanan data, Verifikasi dan seterusnya ya. Nah, itu yang terkait dengan Pak Mensos. Kenapa? Karena ini nanti dampaknya pada hitung-hitungannya dr. Benny ini begitu ya. Apakah kemudian bisa menekan pembiayaan? Karena tadi beliau katakan ada program hasil terbaik cepat PHTC atau yang kita kenal sebagai quick win ya. Itu kan sebetulnya keberhasilannya dua Pak ya. Yang pertama masyarakat makin sehat karena kita punya dashboard. Yang kedua pembiayaan kesehatan ini bisa Ditekan
Pak Seperti itu. Itu keberhasilannya. Nah, oleh karena itu ketika dr. Benny dan juga semua pihak sudah menyampaikan hasil ee quick queen ini ya, itu harus dibarengi dengan data yang akurat, data yang valid ya, sehingga betul-betul bisa mencapai dua indikator keberhasilan yang tadi saya sebutkan. Masyarakat makin sehat dan juga pembiayaan bisa ditekan. Karena saya yakin seyakin-yakinnya program pembangunan ketahanan kesehatan Nasional kita itu bukan dihitung dari indikator berapa banyak sih yang mendapat layanan kesehatan. Justru saya masih yakin seyakin-yakinnya berapa banyak masyarakat yang bisa kita pertahankan untuk tetap sehat ya tidak perlu mengakses layanan kesehatan. Oleh karena itu,
kita semua harus mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh IAKMI menggelar sarasehan pada sore hari ini. Kenapa? Karena kalau kita bicara tentang Bagaimana kita meningkatkan derajat dan kualitas kesehatan masyarakat, justru yang harus menjadi tulang punggungnya, yang menjadi backbond-nya adalah upaya pencegahan, upaya promotif dan preventif. Jadi jangan dihadap-hadapkan kalau kemudian di sini disebutnya Indonesia public health itu bukan kemudian diserahkan kepada publik, kepada masyarakat. Yang namanya public health harus dikerjakan oleh public work dan public policy, yaitu pemerintah Harus memperbaiki semua mata rantai sistem yang kemudian bisa membangun ketahanan kesehatan nasional kita. Ini jago-jagonya, Pak, untuk bisa apa? Menapis dari
bawah sebelum orang ketangkap sakit dan berbiaya mahal. Tadi Pak ee Dr. Beni sudah menyebutkan berapa lonjakan anggaran yang harus dibayar oleh BPJS ya. Mulai dari penyakit jantung melonjak dari 10 sampai 17 triliun, gagal ginjal dari 2,3 sampai 13,4 triliun. Dan kita harus Mengapresiasi BPJS kesehatan ini luar biasa. Kok bisa orang bayar Rp35.000 di subsidi R.000, Pak, itu bayar cuci darah bisa 800 sampai R1 juta sekali cuci darah per kali. Per kali. Kalau sepekan dua kali udah R2 juta, Pak. Kalau sebulan 8 kali sudah R8 juta. Berapa sih upah minimum kita? Berapa? Saya yakin siyakin-yakinnya enggak
ada masyarakat yang mampu mengeluarkan koceknya untuk mempertahankan hidupnya. Nah, oleh karena itu saya hari ini ingin mengajak Kita semua jangan hadap-hadapkan ya kesehatan dengan industri dalam berbagai aspeknya. Nah, oleh karena itu kenapa kemudian saya harus menggaris bawahi bahwa pencegahan dan deteksi dini ya ini akan bisa mencegah ya masyarakat akan ee datang dalam kondisi lanjut seperti itu. Nah, masalahnya kalau kita bicara tentang upaya pencegahan ya, upaya promotif dan preventif memang ini menjadi PR kita Pak Hermawan ya. Kenapa? Karena kalau kita Lihat alokasi anggaran untuk promotif-preventif ini sangat kecil ya, sangat kecil. Dan BPJS Kesehatan tadi sudah
menyatakan bahwa ya BPJS kesehatan itu enggak bisa dipaksa untuk bicara supply side ya. Dia hanya membayari ya layanan yang sudah diberikan. Jadi siapa dong yang harus melakukan upaya promotif preventif ini ya? Kalau bukan ee Ibu Bapak yang hari ini menjadi penjaga gawang dari upaya promotif dan preventif. Dan saya ingin menggaris Bawahi kalau tadi Prof. Askobatgani mengatakan kita perkuat Puskesmas dan posandu. Saya sangat sepakat Pak 10 tahun saya di Jawa Barat ya. Ini luar biasa. Semua itu sebetulnya bisa dicegah dari sentra-sentra kegiatan masyarakat yang sangat masif. Salah satunya adalah Posyandu ya. Nah, masalahnya posandu ini isinya
kalau tadi kan disebut-sebut oleh siapa ya? Bu Nadya yang nyebut kader enggak ya? Atau sebelumnya ya pembicara sebelumnya menyebut-nyebut kader ya. Padahal kader itu ya mukanya itu bisa ditebak Pak bermutu bermuka tua Pak. Kenapa? Karena enggak ada sistem rekrutmen seperti ASN. Ya, ini apa Pak Mensos juga paham karena Pak Mensos dulu juga pernah di daerah. Ya, betul ya, Pak. Enggak pernah kita buka open rekrutment ee apa e dibuka eh jalur cepat menjadi kader posiandu gitu ya. Karena apa? Karena ee upahnya, insentifnya sudah jelas ya, gajinya sejuta. Sabar, jujur, tawakal. Kalau Dulu, kalau dulu, dulu gendong
bayi, dulu gendong anak, sekarang Iya, benar, Pak. Ya, cuma dulu terus terang di Jawa Barat ee kami punya sebuah inovasi ya zaman Kang Ahir posandunya dikasih Rp1 juta, kader pos yandunya dikasih Rp750.000 agar apa mereka bersemangat untuk melakukan ee upaya-upaya promotif dan preventif seperti itu. Jadi itu yang kalau kemudian saya sangat mengapresiasi apa yang disampaikan oleh Prof. eh Askabatgani tadi ya, bahwa kita harus memperkuat ya fungsi Puskesmas dan juga posyandu ya, bagaimana kemudian kita bisa mempertahankan kader-kader bisa apa menjalankan fungsi edukasi, literasi. Karena kalau sekarang ada MBG, Pak, kita sangat mengapresiasi MBG ini satu program
dengan tujuan yang sangat mulia ya. Ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa apa yang apa eh you are what you eat. kamu adalah apa yang kamu makan. Masalahnya sekarang ee BGN-nya sering Diprotes ya, SPPGN sering diprotes. Ganti dong menunya. Menunya apa? Menunya apa? Burger gitu ya. Nah, itu kalau saya ketemu masyarakat saya tanya ee kok bisa ya masyarakat atau anak-anak minta burger? Saya tanya ada enggak ya bayi lahir ceprot nangis ditolong bidan minta burger? Ada enggak? Enggak ada. Ada enggak yang minta gorengan? Enggak ada. Jadi siapa yang membiasakan? Jadi harus kita akui ada proses ideologisasi perilaku hidup
baik buruk Maupun sehat seperti itu. Siapa? Keluarga. Jadi penjangkauan terhadap keluarga ini menjadi penting menjadi kata kunci. Suami adanya di keluarga, istri adanya di keluarga, perempuan adanya di keluarga, anak juga adanya di keluarga. sehingga kalau kemudian kita sasar keluarga Indonesia sebagai basis dari pembangunan ee apa namanya ee kependudukan kita, basis pembangunan ketahanan kesehatan kita itu enggak salah ya. Kenapa? Karena anak merokok Ya, usia perokok anak Indonesia itu luar biasa. Saya mohon dikoreksi, Prof. kalau saya salah. Katanya tertinggi di Asia Tenggara. Siapa yang ngajarin anak 3 tahun 4 tahun ngerokok? Siapa yang ngasih contoh? Siapa yang
memberikan keteladanan? pasti bapaknya pertama kali begitu ya. Nah, oleh karena itu saya ee terima kasih bahwa hari ini kita semua sepakat ya bahwa kita harus melakukan screening, melakukan deteksi dini dengan menggerakkan potensi masyarakat ya yang Hari ini sudah ada sebetulnya Puskesmas, Posyandu, kader Posyandu, kader Dasa Wisma itu kalau kemudian di apa namanya direvitalisasi menurut saya itu menjadi salah satu ujung tombak ya, jangan cuma ujung tombok maksudnya ya. Nah, selain tadi kemudian juga edukasi pengendalian komorbit ini penting ya. Kenapa? Kalau kita enggak mau besar pasak daripada tiang. Apalagi tadi dalam rapat potensi defisit itu akan terjadi
ya. Potensi defisit terhadap dana jaminan sosial Kesehatan itu akan akan terjadi. Oleh karena itu, hari ini yakinlah di sini ada Bu Putisari Wakil Ketua Komisi 9 yang sangat komitmen ya. Juga ada Bu Selika dari Fraksi Partai Demokrat. Saya juga dari fraksi PKS semuanya mendukung ya program yang digulirkan oleh pemerintah semuanya untuk bisa membangun ketahanan kesehatan nasional kita dimulai dari hulu, dimulai dari keluarga ya. Nah, mudah-mudahan quick queen dalam konteks pemeriksaan kesehatan gratis Bukan hanya dashboard, tapi betul-betul bisa menjadi apa bisa berfungsi untuk mengarahkan ya kebijakan pembangunan ee ee apa ketahanan kesehatan kita. Terakhir saya sangat
mendorong ahli kesehatan masyarakat ini dilibatkan sejak awal ya. Di sini ada Pak Wamen nih. Pak Wamen, saya titip pesan. Ahli kesehatan masyarakat harus dilibatkan sejak awal karena mereka penjaga gawangnya, mereka punggawanya. ya harus sering-sering ngobrol ini ngobrolnya ya Baik dalam konteks ngopi maupun bagaimana mer-review ya ee kebijakan-kebijakan regulasi yang boleh jadi redund atau masih kosong yang harus kita dorong ya agar ee dari desain programnya kemudian juga penetapan target dan evaluasi dampaknya itu ahli kesehatan masyarakat ada di tengah-tengah kita ya. Jadi jangan lagi kita menjadi ambulans dan pemadam kebakaran karena kita kehabisan energi dan sumber daya
hanya untuk membayar ee Dampak di hilir. Itu saja mungkin dari saya. Billah taufik walidah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Luar biasa, Pak Menteri dan Pak Wamen. Izin sebelum nanti ditanggapi singkat, kita masih ada e dua orang lagi ee pembahas dan luar biasanya ini yang kita hadapi ini para pemimpin yang pernah berpengalaman mimpin daerah. Penso sendiri sebelumnya adalah pemimpin Daerah. Bu Neti, Dr. Neti sebelumnya 10 tahun jadi Ibu Gubernur dari Jawa Barat. Nah, sekarang satu lagi ini ada lagi ini pemimpin daerah sebelumnya yang sudah menjadi anggota DPRRI di Komisi 9, Dr. Selika Nurahadiyah, M.Hes. Kita
applaus. Nah, beliau Ketua eh Kapoksi ya, Fraksi Partai Demokrat di ee Komisi 9 DPR. Teh Seli panggilannya Teh Selika. Iya, Disilakan. Bupati Karawang du Priuri. Iya. Sebelumnya silakan. Ya, terima kasih Pak Hermawan. Yang kami hormati Pak Menteri ee alhamdulillah kita bisa langsung mendengar ya secara jelas dan rinci dan itu adalah persoalan yang kita semua tahu bahwa justru hulu dari semua persoalan adalah data itu sehingga kebijakan yang diambil agar tepat sasaran, tepat anggarannya, tepat Output-nya tentunya itu memang berawal dari data. Nah, jadi terima kasih atas masukan dan tadi penjelasan yang sangat jelas bagi kami yang nanti
pastinya melalui ee pimpinan kami Teh Putiari juga akan kami informasikan kepada teman-teman di Komisi 9. Pak Wamen yang kami hormati, Dr. Beni, pimpinan kami Teh Pisari. Eh, terima kasih juga Mas Dedi, Dr. Subuh, drter Yesi, Prof. eh Askobat yang 80 tahun tapi seperti 55 tahun Prof ya. ya ee rekan-rekan ee para Senior kami, para guru besar kami, orang-orang yang berpengalaman, rekan-rekan dari organisasi profesi, teman-teman sejawat yang saya cintai. Saya ee tentunya saya adalah junior di sini, namun tentunya ee saya juga sempat kaget, Mas. Jadi minta saya menjadi pembahas tapi kita harus mengawal asta cita Bapak
Presiden. Itu yang pertama. Karena Asta Cita ini memiliki tujuan yang sangat mulia ingin membuat masyarakat Indonesia sehat dengan Program yang luar biasa. Ada CKG ya, eliminasi TBC khususnya di bidang kesehatan dan juga transformasi mutu dan tata kelola JKN. Yang pertama saya akan menyoroti terkait masalah transformasi mutu tata kelola JKN terkait masalah akurasi data PBI. Jadi terima kasih kita tahu bahwa kita wajib pemerintah ini wajib menjamin akurasi data di sosial dan ekonomi. Dan itu yang terjadi di lapangan. Ee Pak Menteri ee beberapa kali menjadi pimpinan daerah. Tapi Tentunya ini kita harus mengevaluasi juga nih, Pak Menteri
kalau tadi ee bagaimana data tunggal sosial ekonomi nasional ini. Saya sepakat ini menjadi satu data center. Hanya satu-satunya ee data yang digunakan oleh seluruh kementerian dan lembaga untuk menentukan kebijakan agar tidak berbeda-beda. Karena selama ini orang yang dapat PIP beda sama orang yang dapat PKH. Orang yang dapat PIP PKH beda juga sama orang yang dapat JKN. Itu yang terjadi di Lapangan. Kenapa? Karena awal perekrutan, Pak Menteri. Pereekrutan kalau kita bicara nih, Pak, mohon maaf, pendamping desa yang milih ya, kepala desa. BS orang des orang sana, orang ee daerah sana, Bapak. Nah, ini ee mungkin kalau
nanti kita ngomong reaktivasi dan kita bicara masalah nanti 3 bulan per6 bulan karena kan data ini dinamis ya, Pak ya. Tadi ada yang meninggal, ada yang melahirkan, ada yang pindah tempat dan lain sebagainya. Ini harus menjadi Lokus dari Pak Menteri karena data ini bersifat dinamis. Nah, pertanyaannya adalah ketika tadi ada beberapa kanal partisipasi. Tadi Bapak bilang operator desa, operator desa jelas, Pak, yang memilih adalah kepala desa dan nanti ke Dinas Sosial. Dinas Sosial lapor ke Kemensos. Benar enggak, Pak? Pendamping desa. Betul. Iya, ke Bupati. Betul, Pak. Ke bupati baru ke sana ke Kementerian Sosial. Terus
kanal kedua tadi Bapak bilang juga ada pendamping PKH Bapak, Ada BPS ya, Pak ya. Langsung nanti pemda membantu gitu ya, Pak ya. Itu pun sama, Bapak. Sehingga objektivitas ini juga harus mampu dipertanggungjawabkan supaya enggak kerja dua kali untuk pendataan. Yang ketiga, call center. Tidak semua juga orang, Pak, memiliki HP, memiliki pengetahuan sosialis ini terjangkau sampai daerah-daerah pelosok. Sehingga ini kita harus pikirkan jangan sampai heboh seperti kemarin. Tadi menarik Teh Putisari saya sama Bu Neti Sampai toel-toelan. Kenapa? Karena ternyata Pak Wamen, Pak Menteri Sosial sudah bicara sama Pak Menkes akan adanya tadi Pak penyesuaian data. Nah,
seandainya Komisi 9 dilibatkan sejak awal bahwa kita akan ada reaktivasi data, kejadian heboh e pemberitaan yang mohon maaf ya, Pak di media ini harusnya enggak terjadi karena kita memitigasi awal nih bahwa akan terjadi reaktivasi, bahwa ada 54 juta rakyat yang desil 1 sampai desil 5 tidak terpenuhi haknya Selama ini oleh negara. Kan gitu loh, Pak. Kasarnya ada 15 juta yang mampu membiayai sendiri yang harus dia rubah datanya. mohon maaf, ternyata dia masih mendapatkan bantuan dari pemerintah yang seharusnya dia bisa secara mandiri, kan gitu loh, Pak. Nah, ini tidak tersampaikan kepada publik, tidak tersampaikan kepada kami
di Komisi 9 sehingga ketika ada sesuatu langsung para pimpinan DPR bersama kementerian lembaga turun. Nah, inilah yang harus Kita evaluasi bersama. Kalau tadi Pak Menteri sudah ngomong, "Ya, saya sosialisasi kurang. Bapak sudah mengakui, Pak, kesalahannya." Tapi kita apresiasi buat Pak Menteri Sosial karena beliau adalah pemimpin yang memang mengetahui di lapangan memang seperti itu, Pak. Dan alhamdulillah tentunya hari ini Bapak Presiden ingin tentunya melakukan perbaikan secara keseluruhan. Jadi, ini adalah hal yang harus kita apresiasi bersama. Jadi, semoga dengan Ee akurasi data PBI tadi, Pak, sesuai Pasal 34, hak-haknya para fakir miskin, orang-orang terlantar itu bisa kita
penuhi haknya dengan baik. Itu yang pertama. Nah, tadi terkait masalah CKG ini menarik sekali. Jadi, Prof. ee Askoba juga tadi menarik sekali, Pak Prof. Jadi, memang peran Puskesmas hari ini kita harus akui kenapa tadi Jawa Barat sedikit, Jawa Tengah sedikit, tempat-tempat yang memang penduduknya besar relatif mohon maaf cakupan Capaiannya kecil. Karena tidak segampang itu di lapangan Puskesmas yang memang harus memiliki tugas promotif dan preventif hari ini kita harus akui mereka itu kuratif kok semuanya tidak ada yang promotif preventif di lapangan itu di lapangan yang seharusnya fungsi awal dari Puskesmas adalah promotif dan preventif dan itu
tidak jalan. Sepakat enggak, ya? Nah, artinya apa? Ada yang salah nih dengan sistem ini, gitu loh yang kita harus perbaiki Bersama. Seandainya ada temuan tadi CKG R juta tahun 2025 kita target tambah Rp50.130 juta. Benar enggak? Ee ee izin, Dok. Nah, pertanyaannya adalah ketika ada temuan ini Puskesmas yang jumlahnya sangat terbatas ini, ini juga hari ini juga mereka bagi dua, Dok. Ada yang memang karena ditekan-tekan sama Dinas Kesehatan. Pokoknya ini harus cakupan karena kita harus lapor. Jadi terbagi-bagi. Nah, bagaimana maksud saya? Mohon maaf konsep CKG ini harus Lebih substansi bisa diaplikasikan, implementasikan di lapangan. Tugas
Puskesmas harus dikembalikan. Kesejahteraan mereka harus lebih ditingkatkan. Benar enggak? Bukan hanya dari dana kapitasi, tapi harus ada stimulan APBN yang memang menjadi lokus agar mereka ini ya sesuai dengan fungsinya. Karena kita tujuannya adalah preventif dan promotif. Jadi kalau kita bicara kuratif, uang sebanyak apapun enggak Akan selesai. Terus aja uang yang besar, benar enggak? Tapi kita akan kita flashback bagaimana CKG ini kan adalah bagaimana kita mencegah orang untuk sakit. Kalau kata Bu Neti, kita pengin orang tuh sehat, usia harapan hidup mereka itu tinggi. Itu kan outputnya indeks pembangunan manusia. Kalau di daerah, kalau di Jakarta QPI
itu kan usia harapan hidup mereka meningkat. Nah, itu yang memang harus kita pikirkan bersama agar tentunya ee ee integrasi Sistem, mitigasi PTM, keberlanjutan program itu bisa terlaksana dengan baik. Terakhir, MBG. Nah, MBG tentunya pasti ada korelasinya. Jadi, kita juga ee harus ee lihat bahwa harapannya bukan hanya kita memberikan makan bergizi buat anak-anak, buat ibu hamil, ibu menyusui, dalam jangka panjang. Karena kan investasi manusia itu memerlukan waktu, memerlukan waktu yang panjang, konsistensi, ya terkomitmen, anggaran dan lain sebagainya. Jadi MBG ini Harapannya kita mampu mencetak anak-anak yang ee kognitifnya baik, imunitasnya baik, kan gitu ya, tumbuh kembangnya
baik. sehingga juga harapannya nanti juga tolong didata ada enggak penurunan stunting kan gitu loh dari program MBG ini yang ee yang memang ee menjadi program prioritas asa cita dari Bapak Presiden. Itu saja mungkin dari saya. Ee terima kasih izin Pak Menteri, terima kasih para ee senior kami, para orang-orang yang memang selama ini ee Memang ahli di bidangnya karena memang ada keterbatasan pastinya keilmuan kita semua. Tapi kalau di kita berkolaborasi bersatu, tidak silo-silo, kita bareng-bareng bersama, mau menerima masukan, mau menerima saran, kita mau mendengarkan, kita saling berdiskusi, bertukar pikiran, saya rasa tentunya apa yang memang menjadi
harapan dari Bapak Presiden bisa kita laksanakan bersama-sama untuk Indonesia yang jauh lebih baik lagi untuk menyambut Indonesia Emas di 2045. Itu saja mungkin dari saya. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Luar biasa. Terima kasih, Dr. Selika. Izin, Pak Menteri, Pakamen. Satu lagi srikandi kita saya perkenalkan dahulu. Beliau ini purna tugas dari sekretaris Universitas Indonesia. Sebelumnya beliau purna tugas dari Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Purna tugas dari Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia atau IAKMI. purna tugas dari Ketua Umum Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia yang sekarang digantikan oleh
Prof. Asnawi Abdullah, Kepala BKPK Kemenkes hari ini. Ini srikandinya satu yang beliau tidak punya tugas yaitu sebagai ahli kesehatan masyarakat yaitu Dr. Agustin Kusumayati, PhD. Dipersilakan, Bu. Terima kasih, Mas Hernawan. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mohon izin Pak Menteri, Pak Wamen, dan Bapak Ibu sekalian para narasumber. Saya melengkapi saja apa yang sudah disampaikan oleh Ibu-ibu berdua ini yang sangat luar biasa. Jadi saya menyetir kembali tadi yang disampaikan oleh guru saya Pak Askobat Gani. Kalau kita merujuk pada upaya pembangunan kesehatan, maka kita ada beberapa Tahapan yang perlu kita ee amankan. Yang pertama adalah tentu promosi kesehatan. Jadi,
bagaimana caranya kita faktor risiko itu jangan sampai terjadi. Jadi, faktor risikonya dulu nih belum jadi penyakit. Yang kedua, kalau kebetulan sudah ada faktor risiko gimana? Jangan sampai terjadi penyakit. Itu preventif. Yang ketiga, baru deteksi dini plus sudah satu paket dengan prom treatment. Nah, lalu level berikutnya lagi adalah e apa namanya? Disability eh limitation. Nah, apa yang sudah kita lakukan sekarang ini baik dengan eh CKQ khususnya dengan case finding untuk tuberkulosis itu berada di level yang ketiga. Jadi kalau kita tidak melakukan upaya yang pertama dan yang kedua itu rasanya kita tidak akan berhasil menurunkan kasus. Jadi
meningkatkan case finding itu tidak akan menurunkan kasus dan tidak akan menurunkan beban biaya. Padahal itu yang membuat kita menggeh-menggeh sekarang ini kan beban Biaya makin besar begitu. Jadi dengan demikian memang harus disempurnakan apa yang sudah kita lakukan ini dengan memperkuat ke arah yang lebih hulu yaitu promotion dan prevention begitu ya Bapak Ibu sekalian. Nah, khusus untuk cek kesehatan gratis ini memang luar biasa. Kita juga menjadi luar biasa punya data. Sayangnya data yang kita peroleh itu belum kita pergunakan. Tadi dr. karena dia sudah menyampaikan ini kita akan segera kejar dengan penatalaksanaan Kasus yang teridentifikasi ya. Ah
jangan lupa data itu harus digunakan untuk promosi dan prevensi. Kalau sudah jelas itu hipertensi banyak, orang gendut kayak saya banyak. Nah, ini gimana nih? Urusan makan harus diurus dan yang mengurus soal makan bukan hanya sektor kesehatan itu industri juga harus diurus. Begitu tadi Pak sudah mengatakan gimana kadar gula, lemak, garam pada makanan itu bisa dikendalikan, bagaimana rokok bisa dikendalikan. Jadi harus ke Situ, harus digunakan ke arah sana. Kalau kita tidak masuk ke arah ke sebelah situ itu maka kasus jalan aja terus. Pak Wamen akan capek ngejar-ngejar orang TB, capek-capek melakukan apa namanya itu kontak tracing,
kasus baru jalan terus karena memang faktor risikonya tidak kita hentikan. Kalau kita belajar dari cara kita mengendalikan COVID ee pandemi Covid-19 kemarin, itu kasus terkendali ketika hulunya kita hentikan. Apa? Penularan. Berhenti, orang bergerak, berhenti kasus penularannya. Jadi ee satu hal yang kami ingin tekankan adalah Bapak Ibu sekalian, bagaimana kita bisa mengubah mengubah orientasi apa yang kita lakukan selama ini untuk menjadi lebih kuat. Jadi yang pertama adalah kita harus sama-sama mengingat apapun yang akan diselenggarakan oleh Bapak Presiden beserta seluruh timnya itu adalah tujuannya bukan programnya yang besar, bukan programnya yang banyak, Bukan banyaknya anak yang dicakup
oleh MBG, tetapi bagaimana status kesehatannya, beban penyakitnya, keberlanjutan fiskal, dan juga pemberantahan manfaat antar wilayah dan antar apa namanya ee kelompok sosial. Jadi untuk MBG itu kita perlu memikirkan menggunakan indikator-indikator untuk memantau dan menilai manfaatnya. Indikatornya indikator outcome. Dengan demikian kita akan bisa mempertanggungjawabkan dan kemudian bisa Membuktikan MBG itu punya dampak, punya manfaat. Kalau tidak kita cuma capek ngurusin bagi-bagi makanan, ngurusin segala macam apa namanya tuh KLBKLB tadi Ibu. Tapi kemudian kita enggak tahu efeknya apa ya anak kita tambah bagus enggak ya status gizinya tambah pintar apa enggak ya tadi Paket bilang IQ-nya sudah naik
apa belum ya. Nah, kita harus menuju ke arah sana sehingga kemudian MBG itu diposisikan bukan sebagai program sosial tetapi investasi Pembangunan SDM. Nah, harus arahnya ke arah sana. Jadi nanti dia akan menjadi kuat sebagai suatu program yang memang secara konsep, secara etika, secara nilai-nilai luhur memang kuat gitu. Nah, itu harus kita buktikan apa namanya ee harus ada datanya ya untuk membuktikan itu. Dan dengan demikian harus dilengkapi dengan upaya-upaya yang menyebabkan MBG itu menjadi punya efek. Dikasih makan banyak terus, tetapi lingkungan jelek, anak tiap hari kena Infeksi. enggak ada gunanya itu makanan karena dia sakit terus
begitu. Nah, ini kan berarti harus integrasi ya dengan semua sektor-sektor yang lain. Nah, ini adalah untuk MBG. Untuk CKG tadi sudah ya ee diperlu apa namanya? diperkuat hati-hati dengan ekspansi. Perhatikan betul persyaratan untuk bisa mengekspansi supaya enggak kedodoran. Nanti yang ada adalah malah battle neck. Banyak orang sakit terdiagnosis enggak bisa diobatin. Nanti yang diprotes Pak Menteri juga, Pak Wamen juga gitu ya. Saya sudah sakit nih enggak ada obat ya ada repot lagi begitu ya. Nah kemudian diperkuat dengan yang sebelah hulunya itu tadi ya. Kalau kita tidak masuk ke hulu ya tetap aja orang gendut kayak
saya, orang enggak olahraga, orang enggak ada aktivitas fisik. Sementara itu adalah semua prasyarat untuk kita berhasil ya membuat ee status kesehatan yang lebih baik. Terakhir mengenai jaminan kesehatan nasional. Memang luar Biasa kita cakupannya sudah bagus apa segala macam. Tetapi yang menjadi persoalan adalah kita juga sadar sesadar-sadarnya beban kita terus-menerus meningkat. Nah, sekarang gimana caranya supaya enggak meningkat? Cuma satu jawabnya, jangan bikin orang sakit. Nah, sekarang bagaimana caranya supaya sistem pembiayaan itu, jaminan kesehatan nasional kita itu tidak berorientasi atau tidak difokuskan pada ngobatin Orang sakit. gunakan itu juga untuk mendorong upaya-upaya promotion prevention sehingga kemudian nah
balik lagi di layanan primer itu memang akan kuat di promotion dan prevention. Saya enggak tahu apakah itu kemudian pembiayaannya akan tercakup dalam kapitasi, apakah ada pembiayaan tambahan lagi, tapi harus ada seperti itu, begitu kan. Sehingga kemudian nanti si JKN-nya itu sendiri pun kita kembangkan sedemikian rupa Sehingga dia juga menjadi alat untuk mengendalikan kejadian penyakit. Tidak hanya sebagai alat untuk ngobatin orang sakit. Bisa mengakses pelayanan tanpa ketakutan pembiayaan. Tapi gunakan kekuatannya itu juga untuk ngontrol orang supaya jangan sakit. Ya terserahlah gimana caranya begitu ya. Tapi kan itu bisa digunakan gitu untuk kemudian ee lalu ee apa
namanya institusi ini itu memang bisa fokus bisa mengupayakan untuk pencegahan penyakit. JKN itu luar biasa dan memiliki kekuatan luar biasa. Kita sudah investasi banyak sekali di situ. Sayang Pak Wamen kalau kita tidak menggunakan itu juga sekaligus untuk pengendalian penyakit. Saya rasa di sini Pak Kobat nih ahlinya nih pasti bisalah Pak Askobat ya. gimana caranya itu juga bisa digunakan untuk mengendalikan penyakit. Jadi bukan hanya kemudian bisa melindungi orang kalau sakit dia bisa berobat. Saya rasa demikian barangkali yang bisa kami Sampaikan. Terima kasih dan penghargaan luar biasa untuk para pimpinan kita pada hari ini. Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Luar biasa. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Bu Agustin Kusumayanti. Ee Pak Uamen dan Pak Menteri Sosial ee berkenan merespon ee singkat. Cuman tadi disebut Prof. Askobat. Prof. Kobat karena beliau adalah purna tugas juga ketua umum PPIMI Sebelumnya Pak Menteri dan Pakamen. Jadi berperiode beliau mengabdikan diri sebagai pakar ahli dan pakar dan ahli kesehatan masak masyarakat sekaligus ketua ikatan ahli kesehatan masyarakat Indonesia. Usia boleh 80 tapi jiwa lima kesehatan kan? Betul. He ekonomis. Baik berkenan Pak Wamenes untuk merespon terlebih dahulu. Silakan Pak ya. Terima kasih, Dr. Agustin. Jadi, kita langsung kepada ee ini aja
ee Kesimpulan aja karena mengingat waktu. Jadi, saya sedang ke Prof. Dadan, ketua BGN. Jadi, kami sekarang lagi fokus kan memberi makan bergizi ini di SPPG sudah banyak, sudah 22.000 lebih. Sekarang kita fokus untuk melakukan SPPG 3B untuk ibu, ibu hamil, ibu menyusu menyusui, dan balita. Nah, saya minggu depan akan ke Bogor ee ke contoh tempat ee SPPG yang untuk 3B karena kita akan bikin percontohan di Jateng, di Banten, di Beberapa provinsi sebelum kita implementasikan kalau bisa dalam waktu 2 3 bulan. Jadi bulan Mei, Juni sudah bisa implementasi lebih masif lagi karena uangnya ada, tidak ada
masalah dengan biaya. Kalau boleh dari Yakmi ikut saya karena kan buat apa kita berteori. Jadi masukannya langsung action aja. kita sama-sama ke sana kita lihat apa yang perlu ditambahkan dan saya minta supaya Yakmi berperan serta baik dalam pemberantasan tuberkulosis maupun Pemberian makanan bergizi khususnya yang 3B ini. Karena 3B itu treatment berbeda dengan SPPG yang sekarang ada kan kasih makan anak usia sekolah SD, SMP, SMA gampang tapi treatment stunting di 3B ini enggak gampang. Ini butuh ee sementara ahli gizi kurang. Ahli kesling, Pak Menteri kurang. Jadi saya minta tambahan ke SPPG harus punya ahli caseling. Satu
cashling sekarang paling paling bisa satu ahli caseling untuk 5 SPPG karena enggak tenaganya Kurang. Jadi ini menciptakan lapangan pekerjaan yang sangat besar. Ahli gizi pun kurang. Jadi kalau beli ahli IKM pun boleh mengisi sini juga persinya begitu. Oleh karena itu, ini supaya fokus kita usul saya daripada kita repot, minggu depan saya ajak dari IAKMI bersama-sama saya kita kunjungan ke SPPG di Bogor. Apa yang perlu ditambahkan Pak Kepala BGN Dr. Beni apa aja yang kurang tolong dilengkapi karena saya diminta Presiden sebagai kepala pengawas BGN nasional jadi saya berfungsi mengawasi dan membuatkan masukan-masukan untuk buat kebijakan bersama
IAKMI kan itu bidang kita. Jadi menurut saya negara sudah menyiapkan dana begini besar. Kalau kita enggak intervensi, kita yang salah. Jadi sekarang enggak usah nyalain negara kita, saya minta Ibu terlibat, teman-teman IAKMI terlibat apalagi ini kan sahabat-sahabat saya semua Pak Menteri. Sekian, terima kasih. Makasih Luar biasa. Ini pengurus IAKMPMI beserta organisasi profesi termasuk Persagi siap-siap mendampingi Pak Wamen nanti. Siap. Oke. Ya sudah. Baik, Pamungkas berkenan Pak Menteri Sosial menyampaikan tanggapan sekaligus closing statement Pak Menteri. Silakan. Yang penting terima kasih. sudah sudah ini saya kira saya catat semua masukannya. Catatannya adalah yang pertama ada 150 juta
lebih penerima manfaat 156 ya katakanlah 156 juta ya 156 juta lebih penerima manfaat yang dibiayai oleh pemerintah baik oleh APBN maupun APBD itu setara dengan 50% lebih 55 malah beliau menyebut 55% penduduk Indonesia. Saya kira ini ee sesuatu angka yang cukup besar. Masalahnya kemudian apakah bantuan ini Diterima oleh mereka yang memenuhi kriteria atau mereka yang memang berhak untuk menerimanya atau masih belum tepat sasaran. Nah, untuk itulah sesuai arahan Bapak Presiden kita melakukan transformasi data. Ini adalah masa-masa transisi yang tentu kami harus terbuka terhadap kritik, terhadap saran dalam rangka untuk memperkuat kebijakan dan regulasi dalam rangka
menghadirkan data yang akurat. Kemudian yang kedua yang mengelola data BPS kami membantu Pemutakhiran dan menyalurkan bansos yang ditugaskan lewat Kementerian Sosial. Terakhir saya mohon dukungan, bantuan, kritik, usul, saran dari Bapak, Ibu sekalian. Pak Menteri. Selamat sore. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih, Pak Menteri. Ini mungkin ee berkenan singkat juga untuk Prof. Wahyu atau Dr. Dewi membacakan sedikit e rekomendasi akhir. Ee sebelum kita tutup secara resmi. Ee mungkin berkenan 1 2 Menit. Silakan, Prof. Baik, terima kasih ee Pak Hermawan. Bapak, Ibu yang saya hormati. tentunya kegiatan hari ini tidak kita lewatkan begitu saja, tapi ada beberapa oleh-oleh
yang harus dikerjakan dan diberikan ee masukan kepada ee seluruh stakeholder dan kita semua ini. Kita enggak lama-lama, kita cuma memberikan ee dari perbicaraan tadi pagi dan siang ya, itu ada lima kebijakan. Silakan slide teks next. Kita hanya memberikan lima kebijakan untuk ee untuk diberikan polisi memo berupa penguatan sistem kesehatan nasional sebagai prasyarat keberhasilan Presiden bidang kesehatan. Lanjut langsung aja poin. Nah, pertama ada rekomendasi pengendalian perluasan JKG dengan kesiapan sistem. Pesan utamanya adalah skrining tanpa kesiapan layanan adalah risiko kebijakan. Screening tanpa penguatan, upaya promosi dan prevensi. tidak akan Menurunkan jumlah kasus. Rekomendasi kebijakannya adalah menetapkan service
readiness indeks sebagai syarat perluasan CKG yang mencakup kesiapan SDM layanan primer termasuk untuk penyelenggaraan upaya promosi dan prevensi, ketersediaan obat PTM esensial dan kapasitas rujukan serta laboratorium. Kedua, mengintegrasikan hasil CKG ke dalam perencanaan JKN dalam layan primer. Ketiga, menerapkan strategi Pemberdayaan dan pelibatan masyarakat berbasis risiko dan siklus hidup atau life course approach. Keempat, memperkuat kesiapan respon penyakit menular termasuk juga ATM, AIDS, tuberkulosis, dan malaria melalui integrasi screening, surveilance aktif, dan kapasitas deteksi dini di layan primer termasuk penguatan jejaring laboratorium dan sistem pelaporan. Nilai advokasinya adalah melindungi APBN dari lonjakan biaya lanjutan yang tidak Terkendali. Berikutnya
rekomendasi kedua, reorientasi JKN menuju value based care. Pesan utamanya adalah sistem JKN seharusnya membayar hasil kesehatan bukan volume layanan. Rekomendasi kebijakan adalah mengembangkan insentif berbasis luaran. Misalnya kontribusi kontrol tekanan darah HB1C, kemudian keberhasilan berhenti merokok ya. Kemudian kedua, melakukan review tarif dan struktur pembiayaan JKN secara Periodik untuk merespon tekanan defisit dengan pendekatan berbasis bukti bukan pemotongan layanan. Ketiga, memanfaatkan advance data analytic untuk pengendalian risiko biaya serta sistem informasi yang lebih taktis mendukung layanan di garda depan. nilai advokasinya adalah menjaga keberlanjutan JKN dan stabilitas fiskal nasional melalui pembiayaan berbasis hasil kesehatan bukan volume layanan. Rekomendasi ketiga,
reposisi MBG sebagai Konsumsi dan investasi kesehatan. Pesan utamanya adalah keberhasilan MBG harus dinilai dari dampaknya terhadap kesehatan, bukan dari jumlah porsi yang dibagikan. Rekomendasi kebijakannya satu, menetapkan indikator kesehatan lintas generasi sebagai ukuran keberhasilan MBG antara lain adalah status gizi, anemia, tumbuh kembang, kapasitas kognitif, dan daya tahan tubuh. Kedua, memastikan keamanan pangan dan tata kelola lintas Sektor yang operasional dan akuntabel. Ketiga, membuka ruang kebijakan untuk pendekatan targeted population demi keberlanjutan fiskal. Empat, mengintegrasikan pendampingan, pemberdayaan dan perubahan perilaku sebagai bagian dari strategi keberlanjutan dengan melibatkan aktor kunci sebagai guru, keluarga, dan komunitas lokal. Nilai advokasinya menjadikan MBG
bagian dari strategi pembangunan SDM bukan Program sosial yang menjadi beban angguran rutin. Rekomendasi keempat adalah mewajibkan integrasi data CKG, JKN, MBG, dan Kemensos. Satu lagi, Pak. Pesan utamanya tanpa data terintegrasi mustahil ada kebijakan berbasis bukti. Rekomendasi kebijakannya satu, mewajibkan interoperabilitas dan standar pertukaran data. antar sistem di JKG, JKN, MBG Dan perlindungan sosial dalam kerangka arsitektur sistem informasi kesehatan nasional. Kedua, menggunakan data terintegrasi untuk evaluasi kebijakan real time dan koreksi arah atau mid correction. Ketiga, memastikan pemotai harian dan sinkronisasi berkala data PBI antara sistem perindukan sosial dan JKN untuk meminimalkan inclusion dan exclusion error serta menjamin
ketepatan dari sasaran bantuan iuran. Nilai Advokasinya menjamin ketepatan sasaran, efisiensi fiskal dan akuntabilitas serta sistem jaminan kesehatan nasional. Terakhir, bikin kerja. Terakhir, terakhir. Nah, rekomendasi Kim adalah perkuat ee fungsi legislasi dan penganggaran. Pesan utamanya, keberlanjutan sistem adalah keputusan politik. Rekomendasinya adalah mengawal regulasi yang mendukung integrasi sistem kesehatan. Kedua, Memprioritaskan anggaran pada pencegahan PTM dan layanan primer. Ketiga, menghindari ekspansi program tanpa kepersiapan sistem. Sisi tempat memastikan SPM kesehatan diberikan target yang jelas, dipenuhi anggaran serta diberikan penilaian dengan reward dan sanksi kepada pemerintah daerah berdasarkan kinerja pemenuhan SPM. Nilai advokasinya melindungi kredibilitas kebijakan kesehatan nasional hari ini
dan Seterusnya. Demikian terima kasih Bapak Ibu dan saya kembalikan ke moderator. Terima kasih Prof. Dr. Wahyu Sulisti Mars sebagai Sekjen PPAKM yang sudah membacakan kesimpulan. Terima kasih kepada para narasumber, Prof. Dr. Asobadgani, Dr. Yesi eh Wakil Menteri Kesehatan kita dan Pak Menteri. Terima kasih. Kita tutup pertemuan dengan hamdalah. Alhamdulillahiabbil alamin. Billahi taufik wal hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh. waktunya pasutupan langsung kan hilang Gua bilang kita action aja ngatur kita action sama kepala lu minta apa duitnya ada lu minta apa program lu apa setuju enggak Jadi mission action. Aku udah enggak mau banyak ngomong kita action aja.
Ngapain ngomong kita sudah bosan ngomong tinggal gerak gerak gerak Sudahudah bosan ngomongin kita Iong kita bikin anggaran untuk promosi lu kasih ke biar muncul anggaran rupiahnya kita rapat minggu depan sambil kita kalau diket kita rapat dulu baru ini rapatnya pagi jam .00 Nah, baru terus ke sana jam 10. Jadi saya eh harus pergi karena di masa-masa harus makin pagi sampai Bogor pulang dari Bogor rapat enggak apa-apa. Jadi Melanjutkan lapangan duluak bareng-bareng dong. Nomor du pok mana ada perubahan nomor luar biasa ada Bu yang ngomong Eh, ngomong sini dulu mengisi apa dan Iya. Jakarta Utara. Aduh.
Eh, lu ngomong. Mohon perhatian kepada seluruh Bapak Ibu sekalian untuk mengisi barcode dan juga link evaluasi yang tersedia di layar monitor. Sekali lagi kepada Bapak dan Ibu tamu undangan sebelum meninggalkan ruangan harap mengisi barcode ataupun link evaluasi yang tertampil di layar monitor. Terima kasih. Oke, Informasi tambahan bagi 10 orang tercepat akan mendapatkan door price dari kami. Sekali lagi 10 orang tercepat akan mendapat door price dari kami. Terima kasih. Yes. Hah. dan Ini tegar-tegar bukan? Oke. Eh ya. Oke, Ya. ada Kepada seluruh panitia foto bersama. Enggak ada yang dengar ya? Iya. kanan kiri dong iPhone-nya kasih
satu atau ya Jangan Halo Tempel Pak aja ya kan puasa tuh SPG masihmuk