Iran ini kurang hebat apaagi coba sampai bisa menjadi pemegang kendali penuh atas selat Hormus, jalur sempit yang menentukan Energi dunia. Dari udara, kapal tanker terlihat menumpuk tanpa bergerak seperti antrian tanpa ujung membawa minyak miliaran dolar yang tak bisa dikirim. Ironisnya, di tengah kepanikan global dan ancaman krisis BBM, Iran justru tidak menutup total.
Mereka memilih menyaring dan menentukan siapa yang boleh lewat dan siapa yang harus berhenti. Jadi pertanyaannya sekarang, negara mana yang diam-diam masih diberi jalan dan apa harga yang harus mereka bayar? Tunggu karena jawabannya jauh lebih mengejutkan.
Situasinya semakin mencekam. Hampir 2000 kapal kini tertahan di sekitar Selat Hormus. Bukan sekadar antri, tapi benar-benar parkir paksa sambil membawa muatan energi dunia bernilai miliaran dolar.
Dalam seminggu, pergerakan kapal nyaris lumpuh. Hanya segelintir yang berhasil melintas. Di saat yang sama, pola serangan juga meningkat.
Setidaknya 20 kapal komersial dilaporkan terdampak dari kebakaran, kerusakan hingga evakuasi darurat. Kapal tanker dan kargo juga menjadi sasaran utama terutama yang terafiliasi dengan negara-negara barat yang kini praktis diblokir total. Sementara itu, Iran mulai menerapkan sistem izin lewat.
Kapal harus lolos verifikasi ketat. Bahkan ada laporan pembayaran hingga 2 juta dolar. Termasuk dugaan transaksi menggunakan yuan kini melintas bukan lagi soal jalur, tapi soal izin dan harga.
Kita mulai dari Malaysia, salah satu negara yang justru mendapat lampu hijau lebih awal untuk melintas di Selat Thormus. Di tengah situasi yang hampir lumpuh total, pemerintah Malaysia mengonfirmasi bahwa kapal-kapal mereka telah diberi izin khusus oleh Iran. Statusnya cukup jelas, negara non blok dengan posisi relatif netral.
Malaysia tidak ikut dalam tekanan militer terhadap Iran. bahkan secara terbuka mendorong gencatan senjata dan jalur diplomasi. Ini jadi faktor kunci.
Meski jumlah pastinya tidak diungkap, pergerakan kapal Malaysia termasuk dalam gelombang awal early clearance yang sangat terbatas di saat hanya beberapa kapal saja yang bisa lewat dalam sehari. Menariknya, bentuk dukungan Malaysia lebih condong ke jalur diplomatik, menyerukan penghentian konflik, mengakui hak kedaulatan Iran, dan sekaligus menjaga hubungan tetap stabil. Tidak ada indikasi dukungan militer, tapi pendekatan politik yang aman ini tampaknya cukup untuk membuat kapal mereka tetap bisa jalan.
Malaysia reaffirms Iran's right to defend its sovereignity as recognized international law. Berikutnya ada Spanyol. Kasus yang cukup unik dan penuh dengan ironi.
Di saat banyak Eropa atau bangsa Eropa terdampak keras, kapal-kapal Spanyol justru dilaporkan masih bisa melintas di Selat Hormus. Statusnya bukanlah sekutu Iran, tapi juga tidak sepenuhnya sejalan dengan blok Amerika Serikat. Kuncinya ada pada sikap politik.
Perdana Menteri Pedro Sanchez secara terbuka mengkritik perang Amerika Serikat Israel terhadap Iran sebagai ilegal, absurd, dan kejam. Diduga posisi ini menjadi alasan utama Spanyol mendapat akses. Tidak ada angka pasti jumlah kapal, tapi mereka termasuk dalam kelompok kecil yang berhasil melintas saat traffic hampir berhenti total.
Namun, ironi muncul di sini. Iran bahkan merilis rekaman serangan ke-75 mereka yang menampilkan wajah Sanchez di rudal. Sebuah pesan simbolik yang membingungkan.
Dikritik tapi tetap diberi jalan. Dukungan Spanyol sendiri lebih bersifat diplomatik bukan militer. Berikutnya adalah Cina.
negara yang secara hubungan terlihat paling dekat dengan Iran, tapi justru menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya mulus. Sebagai mitra strategis dan pembeli utama minyak, Cina jelas punya kepentingan besar di Selat Hormus. Bahkan sekitar 45% pasokan minyaknya melewati jalur ini.
Statusnya bisa dibilang sekutu pragmatis, tidak berkonflik tapi tetap tunduk pada aturan Iran. Cina sempat melakukan negosiasi intens untuk memastikan kapal-kapalnya bisa lewat. Namun menariknya tidak semua langsung diberi izin.
Setidaknya dua kapal besar sempat dipaksa putar balik karena dianggap tidak memenuhi syarat termasuk riwayat pelabuhan yang berafiliasi dengan negara pro Amerika Serikat. Nah, dalam praktiknya hanya kapal dengan kargo tertentu terutama yang menuju Iran yang diprioritaskan. Ada juga indikasi sebagian transaksi menggunakan yuan sebagai jalur aman.
Jadi meski dekat, Cina tetap harus bermain sesuai aturan ketatiran baik secara logistik maupun ekonomi. Lalu ada Pakistan. Salah satu contoh paling jelas bagaimana jalur diplomasi bisa langsung berdampak ke lapangan.
Di tengah ketatnya kontrol di Selat Hormus, Pakistan justru berhasil mengamankan kesepakatan konkrit. 20 kapal berbendera mereka diizinkan melintas. Bahkan pengaturannya cukup spesifik.
Sekitar dua kapal per hari diberi akses. Status Pakistan di sini menarik. Bukan sekutu dekat Iran, tapi punya kedekatan geografis dan hubungan bilateral yang cukup stabil.
Beralih ke India, negara dengan kebutuhan energi besar yang membuat posisinya sangat krusial di tengah krisis ini. Di Selat Hormus, India masuk dalam kategori negara sahabat yang masih diberi izin terbatas oleh Iran. Statusnya jelas, bukan sekutu, tapi juga tidak dianggap musuh.
Hubungan pragmatis inilah yang jadi kunci. Sejak konflik memanah, setidaknya empat kapal berbendera India berhasil melintas, termasuk tanker LPG yang membawa lebih dari 90. 000 ton gas.
Bahkan dua kapal terbaru berhasil lewat dengan rute yang tidak biasa melewati jalur dekat wilayah Iran sebagai bentuk sinyal kepatuhan terhadap otoritas setempat. Namun di sisi lain sekitar 20 kapal India masih tertahan menunggu izin. AIDS Indonesia ternyata juga masuk loh dalam daftar negara yang masih diberi akses terbatas di Selat Hormus.
Status Indonesia cukup jelas negara nonblok dengan pendekatan netral, tidak terlibat dalam konflik dan aktif menjaga komunikasi diplomatik dengan semua pihak. ini menjadi faktor penting. Dalam perkembangan terbaru, dua kapal tanker milik Indonesia bagian dari armad Pertamina akhirnya mendapat izin untuk melintas setelah sempat tertahan.
Izin ini bukan datang begitu saja, tapi hasil dari komunikasi intensif antara pemerintah Indonesia dan otoritas Iran. Di tengah hampir 2000 kapal yang terdampak, keberhasilan ini jadi sinyal bahwa jalur diplomasi masih bekerja. Terakhir ada Thailand.
Contoh bagaimana tekanan krisis bisa memaksa negara mengambil langkah cepat bahkan di tengah risiko yang tinggi. Di Selat Hormus, Thailand awalnya termasuk yang terdampak langsung. Bahkan sempat mengalami serangan terhadap kapal mereka yang menyebabkan kebakaran dan korban awak.
statusnya cukup kompleks. Secara geopolitik dekat dengan Barat, tapi tetap memilih jalur pragmatis demi energi. Nah, setelah insiden itu, Thailand langsung bergerak lewat jalur diplomasi intensif.
Hasilnya tercapai kesepakatan resmi dengan Iran yang memungkinkan kapal tanker mereka melintas dengan aman. Setidaknya ada satu kapal sudah berhasil lewat setelah tertahan hampir 2 minggu yang menjadi bagian dari gelombang terbatas kapal yang diizinkan. Semua ini akhirnya bermuara pada satu hal yang tak bisa dihindari, dampak global.
Apa yang terjadi di Selat Hormos kini menjalar cepat ke seluruh dunia. Bukan lagi isu kawasan, tapi krisis bersama. Di Asia Tenggara efeknya terasa paling cepat.
Harga minyak dunia melonjak dari kisaran 60 sampai 70 dolar ke atas 100 dolar per barel. memicu kenaikan BBM di Thailand, Malaysia, Vietnam hingga Singapura. Kenaikannya tidak main-main.
Bahkan ada yang tembus lebih dari 50% dalam waktu singkat. Indonesia memang relatif stabil untuk BBM subsidi, tapi harga non subsidi mulai merangkak naik. Di Eropa situasinya lebih serius.
Industri besar seperti otomotif dan kimia mulai goyah karena biaya energi tak lagi kompetitif. Beberapa pabrik bahkan terpaksa tutup. Sementara di Amerika Serikat harga bensin sudah naik sekitar 30% mendekati 4 dolar per galon.
Di pasar saham kepanikan mulai terlihat jelas. SP 500 turun tajam. Sementara Dow Jones Industrial Average unlock hingga lebih dari 10% dari puncaknya menandai fase koreksi.
Bursa Wall Street bahkan mencatat pekan terburuk sejak konflik dimulai dengan tren penurunan 5 minggu berturut-turut. Jika situasi terus memburuk, dunia bisa masuk ke skenario paling gelap. Bukan hanya selat Hormus yang lumpuh, tapi juga selat Bap Elmandep berpotensi diblokir oleh kelompok HTI.
Artinya, dua jalur utama energi dunia bisa terputus sekaligus. Dalam kondisi ini, pilihan dunia semakin sempit. Membentuk koalisi militer untuk membuka jalur secara paksa atau tunduk pada kendali Iran.
Sementara itu, cadangan energi global terus menipis. Bahkan jika perang berhenti hari ini, pemulihan distribusi bisa memakan waktu berbulan-bulan. Pertanyaannya sekarang, sederhana tapi menakutkan.
Berapa lama lagi dunia bisa bertahan sebelum benar-benar kehabisan energi?