Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Selamat pagi, salam sejahtera untuk semuanya.
Yang saya hormati Rektor Universitas Gajah Mada, pimpinan Majelis Wali Amanat, pimpinan sekenat akademik, pimpinan dewan guru besar, para wakil rektor, para dekan, dan wakil dekan yang hadir dalam kesempatan ini. Yang kami hormati para orang tua, keluarga, serta kerabat wisudawan. Dan yang paling saya banggakan para wisudawan Universitas Gadjah Mada yang hadir pada pagi hari ini.
[tepuk tangan] Serta hadirin semua yang dimuliakan Allah. Bersyukur sekali kita bersama-sama bisa hadir. Bagi saya pribadi ini sebuah tempat yang emosional karena di sini juga saya mengerasakan wisuda ketika gerung-gedung gerhab Pramanani baru dibangun baru selesai.
Sebelumnya lapangan sepak bola tempat masa kecil saya main sepak bola ya di lapangan ini sebelum kemudian diubah jadi gedung. Bagi kita semua yang hadir bersama para wisudawan khususnya ini adalah hari yang istimewa tapi besok adalah hari-hari biasa. Dan ujian yang sesungguhnya bukan di hari istimewa.
Ujian yang sesungguhnya di hari-hari biasa. Pertama saya ingin berbagi beberapa hal yang barangkali berguna untuk hari-hari biasa yang panjang ke depan. Pertama soal masa susah dan masa mudah.
Teman-teman semua lulus di tahun yang tidak mudah. Rupiah di kisaran 17. 700.
Pasar kerja menyempit. Persaingan ketat. Jadi lulus tahun ini kita harus jujur lebih sulit daripada lulus tahun-tahun sebelumnya.
[tepuk tangan] Tapi nih kalau kita tengok sejarah nih, generasi yang lulus di masa sulit sering jadi generasi yang paling kuat. [tepuk tangan] Mereka yang lulus di sekitar tahun '5, yang lulus sekitar tahun '98, mereka yang lulus tahun sekitar 2008, 2020 semuanya keluar dari kampus dengan masa depan yang nampaknya suram. Tapi 20 tahun kemudian justru mereka yang menjadi tulang punggung negeri ini.
[tepuk tangan] Jadi dari semua, masa susah itu datang dan pergi. Masa mudah itu datang dan pergi. Yang konsisten bukan susah mudahnya.
Yang konsisten adalah diri teman-teman sendiri yang menentukan apa yang dipelajari di setiap masa yang mudah, di setiap masa yang sulit. Kembali kepada kita. Yang kedua, soal pekerjaan pertama nih.
Saya sebagai alumni nih, kita semua setelah lulus nanti pekerja bukan? Pekerjaan pertama, Teman-teman. Mungkin posisinya kecil, mungkin gajinya pas-pasan, mungkin kantornya jauh.
Tapi jangan khawatir, enggak apa-apa. Fungsi pekerjaan pertama adalah mencetak karakter kita, memperkuat karakter kita. Karir dibentuk di fase berikutnya.
Jadi yang dibawa pulang dari pekerjaan pertama, cara komunikasi dengan atasan yang sulit, cara menjaga janji dengan kolega, cara menyelesaikan tugas yang mungkin membosankan tapi dikerjakan dengan sepenuh hati. Hal-hal seperti ini nampaknya kecil, tapi ini yang mungkin akan Anda hadapi di pekerjaan pertama. Tapi yang kecil-kecil ini yang nantinya menentukan posisi teman-teman 15 tahun yang akan datang.
Banyak pemimpin yang kita kenal hari ini kalau ditanya dulu pekerjaan pertamanya apa, banyak sekali yang pekerjaan pertamanya itu tidak istimewa, biasa-biasa saja. Tapi justru di sanalah mereka belajar hal-hal yang mungkin tidak diajarkan di kampus manapun. Jadi jangan tunggu pekerjaan sempurna untuk memulai yang terbaik.
Berikan yang terbaik di mana pun Anda berada. Di tugas apapun yang Anda terima, di amanah apapun yang Anda dipercayakan. Kerjakan yang terbaik.
Hasilnya menyusul pondasi untuk masa depan yang lebih baik. Yang ketiga nih, Teman-teman, soal masuk sistem. Sebagian dari teman-teman akan masuk institusi besar, bisa di pemerintahan, bisa perusahaan besar, bisa organisasi besar.
Tiap institusi punah budayanya. Ada yang budayanya sehat, ada yang budayanya kurang sehat. Dan masuk ke dalam organisasi apapun ada risikonya.
5 tahun di tempat baru yang sering berubah justru teman-teman sendiri pelan-pelan ikut arus, pelan-pelan kompromi. Yang dulu merasa enggak nyaman, yang dulu pegang idealisme, pelan-pelan luntur secara tak terasa. Nah, di hari pertama mungkin semua terasa asing.
Jalan waktu bulan kedua, bulan ketiga mulai biasa akhirnya larut. Nah, ada tiga jangkar, Teman-teman, yang bisa membantu untuk tidak larut bila berada di dalam tempat yang kurang sehat. Pertama, jaga lingkar sahabat di luar institusi sebagai cermin.
Kalau cermin tidak ada, kita kehilangan pengetahuan tentang rupa kita sendiri. Yang kedua, jaga waktu untuk membaca supaya tetap tahu dunia yang ada di luar. pagar kantor kita.
Yang ketiga, ingat alasan dulu masuk ke sana, tulis di kertas kalau perlu masukkan dalam amplop. Sesekali dibaca mengapa saya berada di tempat ini. Saya meyakini posisi boleh berubah-ubah, tapi prinsip harus dipegang terus lintas waktu.
Kemudian yang keempat, Teman-teman, soal sukses dan bertahan. Saya ingat pesan dari ibu saya pribadi. Ibunda itu sering pesan begini, "Yang kamu punya cuma nama baik.
Jaga nama itu baik-baik. " Buat teman-teman semua di sini yang kita punyai, yang Anda punyai adalah nama baik. Jaga nama baik itu baik-baik.
Dan ukurannya untuk keberhasilan sederhana sekali. Ukuran keberhasilan itu bukan dari pujian orang, tapi ukurannya dari seberapa besar kita bisa membantu orang lain. Seberapa besar orang terbantu dengan kehadiran kita.
Dengan pesan-pesan itu, Teman-teman, saya menitipkan sebagai kakak kelas yang pernah diwisuda di sini. Perjalanan ke depan. Anda punya tanggung jawab.
Kita semua alumni Gajah Mada punya tanggung jawab yang besar. Kampus ini kampus perjuangan. Dari zaman dulu adalah kampus yang selalu peduli dengan lingkungan sekitar.
Bukan kampus yang hanya memikirkan akademik saja. Tapi bagaimana sarjananya, lulusannya berkarya di masyarakat. Karena itu saya titip sebagai kakak kelas.
Ada empat tanggung jawab yang melekat di Samir wisuda yang dikalungkan di leher adik-adik semua. Pertama, tanggung jawab pada diri sendiri. Modal utama saat masuk dunia kerja besok bukan ijazah, bukan IPK, bukan koneksi.
Modal utamanya yang saya saya katakan nama baik yang Anda miliki. Jaga itu. Yang kedua, tanggung jawab pada keluarga.
Negeri ini sedang punya banyak masalah dengan korupsi dan bukan baru-baru ini. Sudah berdekade-dekade. Banyak kasus korupsi yang menjerat orang berpendidikan tinggi bersumber dari cinta yang salah arah pada keluarga.
Niatnya mulia, jalurnya keliru. Membantu keluarga itu sumur pahala, tapi dengan satu syarat, airnya halal, airnya bersih, maka dia menjadi sumur pahala yang tidak memberikan masalah. Yang ketiga, tanggung jawab pada masyarakat.
Di setiap pekerjaan akan selalu ada pilihan. Pilih ikut turun tangan atau cukup urun angan. Kalau orang baik memilih diam, masalah di negeri ini tidak akan pernah selesai.
Karena itu saya mengajak kepada semua alumni yang hari ini lulus, para wisudawan, jangan hanya urun angan, siaplah untuk turun tangan bagi negeri ini. Yang keempat, tanggung jawab pada bangsa. Di balik semua peran yang teman-teman akan masuki, ada peran yang melekat 24 jam, yaitu peran sebagai warga negara Indonesia.
Peran ini tidak bisa dilimpahkan sepenuhnya kepada mereka yang punya tanggung jawab konstitusional, para pejabat-pejabat negara. Tapi peran ini adalah peran kita semua sebagai anak bangsa. Karena itu saya mengajak kepada semuanya yang pada hari ini wisuda, marilah bersiap untuk menyongsong masa depan.
kampus melepas teman-teman pagi ini dan setelah ini pilihan-pilihan kecil yang teman-teman ambil di setiap hari itulah yang akan menentukan jadi siapa 20 tahun yang akan datang. Tahun 96 bulannya September saya di wisuda. Maaf bulannya Oktober.
Oktober November? November ya. November tahun '96 bulan November ini Pak Dekan Pak Didik ini seangkatan dengan kami tapi lulusnya lebih dulu 96 bulannya November saya diwisuda di tempat ini.
Pada waktu itu saya juga tidak membayangkan bagaimana perjalanan ke depan tapi seperti tadi saya refleksik keputusan-keputusan kecil yang kita kerjakan di masa-masa awal itulah yang akan menentukan seperti apa perjalanan kita dalam 20 tahun ke depan. 10 tahun pilihan kecil yang baik akan mengarah pada hidup yang baik. 10 tahun pilihan kecil yang keliru akan mengarah kepada kehidupan yang berantakan.
Tidak ada satu keputusan besar luar biasa yang akan kemudian menjadi penentu semuanya. Semuanya adalah keputusan-keputusan kecil. Tapi ingat, perjalanan hidup kita ke depan adalah akumulasi keputusan-keputusan kecil itu.
Selamat Jogja dan kampus Universitas Gajah Mada selalu menjadi rumah. Sekarang waktunya menyongsong masa depan, waktunya bekerja. Selamat menyongsong cerahnya masa depan bagi semua wisudawan di ruangan ini.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Menemani [musik] pagi Anda dengan informasi-informasi terbaru. Satu langkah lebih dekat, satu langkah lebih mencerahkan.
Saksikan [musik] Kompas pagi hanya di Kompas TV channel 11 di televisi Anda.